faktakalbar

Indonesia Bangun Pabrik Baterai Listrik Senilai Rp90 Triliun

Penulis: Redaksi Saturday, 31 January 2026 📖 2 menit
Indonesia Bangun Pabrik Baterai Listrik Senilai Rp90 Triliun
Faktakalbar.id, NASIONAL - Konsorsium perusahaan negara dan investor global resmi memulai kerja sama besar untuk membangun ekosistem baterai listrik terintegrasi di Indonesia. Proyek raksasa dengan nilai investasi mencapai USD6 miliar atau sekitar Rp90 triliun ini menargetkan Indonesia menjadi pemain utama energi hijau di Asia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyaksikan langsung penandatanganan kesepakatan tersebut di Jakarta. Proyek ini melibatkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBI), dan mitra internasional HYD Investment Limited. Baca Juga:  Dewasa yang ‘Baterainya’ Awet: Benarkah Karena Tumbuh di ‘Keluarga Cemara’? Ini Kata Psikologi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kesepakatan ini merupakan hasil perjuangan diplomasi ekonomi yang panjang. Pemerintah merancang proyek ini agar pengolahan nikel dari tambang hingga menjadi baterai jadi dilakukan sepenuhnya di dalam negeri. "Ini adalah bagian dari negosiasi yang cukup panjang sekali sejak saya masih Kepala BKPM/Menteri Investasi. Waktu itu adalah bagaimana kita mendorong pembangunan realisasi dan membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026). Negara Tetap Kuasai Saham Mayoritas Pemerintah memastikan kepentingan nasional menjadi prioritas utama dalam proyek ini. Bahlil menegaskan bahwa ANTAM sebagai perusahaan milik negara memegang saham mayoritas dalam konsorsium tersebut. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga kedaulatan sumber daya alam Indonesia. "Saya ulangi, arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara," tegas Bahlil. Meski negara memegang kendali, pemerintah tetap menggandeng mitra luar negeri. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat transfer teknologi tinggi dan membuka akses ke pasar internasional. Pembangunan ekosistem baterai ini memberikan dampak besar bagi lapangan kerja. Proyek yang mencakup pembangunan tambang, pabrik pengolahan (smelter), hingga pabrik baterai di Halmahera Timur dan Jawa Barat ini akan menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja. Baca Juga:  Teknologi Baterai Baru Korea Ancam Tamatkan Mobil Bensin Selain untuk mobil listrik, pabrik ini juga memproduksi baterai untuk mendukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Kapasitas produksinya mencapai 20 Giga Watt hour (GWh), yang menjadikannya salah satu yang terbesar di Asia. "Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya," kata Bahlil. Melalui kerja sama ini, pemerintah optimistis industri nasional segera mandiri dan tidak hanya menjadi penonton dalam tren energi bersih dunia. Bahlil berharap kolaborasi ini membawa Indonesia menjadi pusat bahan baku baterai dunia di masa depan. "Jadi kita, Insya Allah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan," tutup Bahlil. (*Sr)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK