Inflasi Kota Pontianak di Angka 059 Persen Jelang Iduladha
Faktakalbar.id, PONTIANAK -
Pemerintah Kota
Pontianak
mengadakan rapat High Level Meeting (HLM) Pengendalian Inflasi Daerah di Ruang Pontive Center pada Selasa (5/5).
Pertemuan lintas instansi ini bertujuan untuk memperkuat langkah antisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi Kota Pontianak menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Baca Juga:
Angka Inflasi Kota Pontianak Capai 2,77 persen
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyampaikan bahwa kondisi perekonomian daerah saat ini masih terkendali dan berada di zona hijau. Namun, tingkat kewaspadaan tetap dibutuhkan mengingat Pontianak berstatus sebagai kota distribusi, bukan daerah penghasil komoditas pangan.
“Dari paparan awal, kondisi inflasi kita masih dalam zona aman. Ini harus terus kita jaga bersama, apalagi menjelang Iduladha di mana biasanya terjadi peningkatan permintaan bahan pokok,” ujarnya.
Bahasan menegaskan pentingnya sinergi dan akurasi data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
“Data BPS sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan. Dengan data yang akurat, kita bisa menentukan langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga,” jelasnya.
Ia juga mendorong jajarannya agar bekerja maksimal guna mendapatkan insentif dari Kementerian Dalam Negeri.
“Kita harus berupaya maksimal agar bisa meraih penghargaan pengendalian inflasi. Ini penting sebagai bentuk apresiasi atas kinerja daerah sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua,” tuturnya.
Sementara itu, perwakilan BPS Kota Pontianak Ahmad Badar melaporkan bahwa angka inflasi Kota Pontianak secara bulanan (month-to-month) pada April 2026 tercatat sebesar 0,59 persen.
“Jika dibandingkan April tahun lalu yang mencapai 1,24 persen, inflasi April tahun ini sebesar 0,59 persen menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan,” ungkapnya.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi pada April 2026 tercatat sebesar 2,15 persen. Adapun inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di angka 1,42 persen.
Baca Juga:
Wali Kota Pontianak Serahkan Bantuan Budikdamber untuk Cegah Stunting dan Kendalikan Inflasi
Capaian kumulatif sepanjang tahun 2025 yang berada di angka 1,50 persen juga masih dalam rentang target nasional.
“Dengan angka tersebut, Kota Pontianak termasuk daerah yang mampu menjaga stabilitas inflasi pada level rendah,” tambahnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor pendorong inflasi. Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,44 persen akibat lonjakan harga minyak dunia imbas konflik Timur Tengah.
“Kenaikan harga avtur berdampak pada tarif angkutan udara, sehingga mendorong inflasi pada kelompok transportasi,” paparnya.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil inflasi sebesar 0,68 persen. Kebijakan energi domestik juga turut berpengaruh.
“Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan LPG non-subsidi oleh Pertamina pada 18 April 2026 juga memberikan dampak terhadap inflasi daerah,” sebutnya.
Di sisi lain, harga emas global pada April 2026 cenderung fluktuatif dan sempat turun di kisaran Rp2,81 juta per gram pada akhir bulan. BPS berharap tren stabilitas harga ini dapat terus dipertahankan ke depannya.
“Dengan demikian, Pontianak berpeluang kembali meraih penghargaan sebagai daerah dengan kinerja pengendalian inflasi yang baik di tingkat nasional,” tutupnya.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.