Jaga Harmoni Kalbar, Tokoh Dayak dan Madura di Mempawah Serukan Bijak Bermedia Sosial
Faktakalbar.id, MEMPAWAH -
Di tengah tantangan era digital, dua tokoh masyarakat berpengaruh di Kabupaten Mempawah, Adrianus Marsel dari komunitas
Dayak
dan Herman Habibullah dari komunitas
Madura
, berdiri bersama.
Keduanya menyuarakan pesan penting mengenai perlunya bijak bermedia sosial untuk merawat keharmonisan dan persaudaraan di Kalimantan Barat.
Baca Juga:
Geram Laporan Diabaikan, Tokoh Pemuda Mempawah Desak Kapolda Kalbar Tangkap Provokator Anti-Madura
Seruan ini muncul sebagai respons atas maraknya konten provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan antar-etnis yang selama ini telah terjalin dengan baik.
Pesan Ketua DAD Mempawah: Media Sosial adalah Ruang Publik
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Mempawah, Adrianus Marsel, mengingatkan bahwa platform digital bukanlah ruang privat yang bebas dari tanggung jawab.
Menurutnya, setiap unggahan memiliki dampak yang luas.
“Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube adalah ruang publik. Setiap tulisan, unggahan, dan komentar kita bisa berdampak luas bahkan memicu konflik jika tidak disertai kebijaksanaan,” ujarnya.
Ia menekankan prinsip krusial "think before you post" atau berpikir sebelum mengunggah.
Baca Juga:
Usai Dijemput Paksa, Rizky Kabah Kini Diperiksa Intensif Polda Kalbar
Adrianus juga mencium adanya upaya dari pihak tertentu yang sengaja ingin menimbulkan gesekan antar-etnis.
“Saya melihat ada pihak-pihak yang berupaya membenturkan masyarakat Dayak dan Madura lewat isu-isu provokatif. Padahal hubungan kita selama ini sangat baik dan harmonis,” tegasnya.
Imbauan Ketua Laskar Sakera: Literasi Digital adalah Reformasi Akhlak
Senada dengan Adrianus, Ketua Laskar Satuan Keluarga Madura (Laskar Sakera), Herman Habibullah, memandang bahwa literasi digital lebih dari sekadar kemampuan teknis, melainkan sebuah cerminan akhlak dan mentalitas.
“Kita harus mengubah cara berpikir agar lebih cerdas dan beretika dalam menanggapi setiap informasi. Jadilah sumber solusi, bukan sumber provokasi,” ujarnya.
Herman berpesan agar masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan kesalahan seorang individu dengan identitas suku atau agamanya. Objektivitas dan keadilan harus selalu dikedepankan.
“Semua suku dan agama mengajarkan kebaikan. Kalau ada individu yang bersalah, jangan langsung menghakimi kelompoknya. Kita harus objektif dan adil dalam melihat persoalan,” pesannya.
“Semua suku dan agama itu sama-sama terhormat dan membawa ajaran kebaikan,” tambah Herman.
Seruan Bersama untuk Persatuan
Kedua tokoh ini sepakat bahwa edukasi dan gerakan untuk bijak bermedia sosial harus terus digalakkan.
Baca Juga:
Setelah Dua Kali Mangkir, Polda Jemput Paksa Konten Kreator Rizky Kabah
Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga persatuan bangsa.
“Mari kita gunakan media sosial untuk hal-hal positif berbagi informasi bermanfaat, membangun jaringan, dan mempromosikan budaya daerah,” ajak Adrianus Marsel.
“Dengan bijak bermedia sosial, kita tidak hanya membangun Mempawah yang lebih maju dan sejahtera, tapi juga menanam amal kebaikan dalam berdakwah,” tutup Herman Habibullah.
(RN)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.