Jelang Sahur Perdana, Harga Cabai Keriting di Pasar Flamboyan Tembus Rp80 Ribu
Faktakalbar.id, PONTIANAK -
Sehari menjelang pelaksanaan ibadah puasa Ramadan, pergerakan harga komoditas pangan di Pasar Flamboyan Pontianak terus merangkak naik.
Berdasarkan pantauan pada Rabu, (18/2/2026), komoditas cabai mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan, terutama jenis cabai keriting.
Rezky, salah seorang pedagang cabai di Pasar Flamboyan mengungkapkan bahwa saat ini harga cabai keriting menjadi yang paling tinggi di lapaknya dibandingkan jenis lainnya.
"Cabai rawit di kisaran Rp60 ribu sampai Rp66 ribu, merah besar Rp50-an ribu dan bisa Rp40 ribu yang paling murah. Sedangkan cabai keriting naik jadi Rp80 ribu sekilonya," ungkap Rezky.
Baca Juga:
Besok Puasa, Harga Daging Ayam di Pasar Flamboyan Tembus Rp36 Ribu Sekilo
Menurut Rezky, kenaikan ini dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat yang melakukan stok bahan makanan (
restock
) untuk persiapan sahur pertama.
Ia bahkan memprediksi stok bisa kosong dan harga kemungkinan naik lagi esok hari.
"Besok kemungkinan kosong, harganya naik bisa jadi, karena orang sekarang sudah
restock
," tambahnya.
Rezky menuturkan bahwa keramaian di pasar sudah terasa sejak tiga hari belakangan.
Momen yang berdekatan antara pasca Imlek dan menyambut Ramadan membuat suasana pasar ramai layaknya akhir pekan (
weekend
).
Terkait prediksi harga selama bulan puasa, Rezky memperkirakan akan ada penurunan permintaan di awal hingga pertengahan puasa karena warga sudah belanja besar sebelumnya.
Harga diprediksi baru akan melonjak kembali saat mendekati Lebaran.
"Bulan puasa kayaknya agak menurun sedikit karena orang sudah belanja sebelumnya. Kalau pertengahan dan menyambut Lebaran baru naik lagi, karena biasanya orang (pedagang) agak sepilah jualannya," jelasnya.
Mengenai pasokan, Rezky menyebut stoknya bergantung pada kiriman dari kebun di Jawa.
Namun, berbeda dengan
komoditas
lain yang terkendala ombak tinggi, distribusi sayur dan cabai menurutnya relatif aman. Jika pasokan dari Jawa terlambat, ia memiliki
alternatif
pasokan lokal.
"Kalau kami sudah menghabiskan barang, minggu depan baru masuk lagi. Kalau kami dari Jawa, ada juga kalau misalnya nunggu barang datang dari Jawa lama, kita ambil lokal dari Sanggau. Kalau sayur tidak (terkendala ombak), kita beda," pungkasnya.
Baca Juga:
Cerita Warga Pontianak Sambut Puasa Pertama: Kaget Harga Bumbu Naik Dua Kali Lipat, Minyak Goreng Masih Stabil
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.