Mengulas Sejarah Pengusir Kuntilanak, Kapolresta Pontianak Perdana Nyalakan Meriam Karbit di Gang Darsyad
Faktakalbar.id, PONTIANAK
– Suara dentuman meriam karbit yang menggelegar di tepian
Sungai Kapuas
memberikan kesan mendalam bagi Kapolresta Pontianak,
Endang Tri Purwant
o.
Menghadiri eksibisi di Jalan Adisucipto, Gang Darsyad, Kamis (19/3), ia menceritakan pengalaman pertamanya menyulut langsung meriam tradisional yang menjadi ikon budaya Kota Khatulistiwa tersebut.
Bagi Endang, momen menyalakan lubang sulut meriam karbit merupakan pengalaman emosional yang sulit diungkapkan.
Keikutsertaannya dalam tradisi ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian warisan leluhur.
Baca Juga:
Lestarikan Warisan Budaya, Eksibisi Meriam Karbit Kembali Berdentum di Tepian Kapuas Pontianak
“Waduh, susah digambarkan dengan kata-kata. Bisa dikatakan ini luar biasa. Ini pengalaman pertama kali dalam hidup saya. Di mana saya diminta untuk menyalakan
sulut
ya.
Sulut
meriam karbit. Alhamdulillah rasanya bahagia, senang. Dan ini merupakan, kita harus wariskan budaya dari Pontianak,” ungkap Endang.
Selain aspek hiburan, Endang juga menyoroti nilai sejarah di balik permainan ini. Meriam karbit berkaitan erat dengan awal mula berdirinya Kota Pontianak oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.
Berdasarkan catatan sejarah, suara meriam digunakan sebagai sarana untuk mengusir gangguan makhluk halus saat pembukaan lahan di titik pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
“Kalau kita membaca sejarahnya, kenapa ini dinyalakan? Salah satunya untuk mengusir. Kalau dikatakan itu ponti, ponti itu kan artinya kunti ya, kuntilanak. Nah inilah salah satu cara untuk mengusir kuntilanak pada saat pendahulu kita, yaitu Sultan Syarif Abdurrahman, pada saat hadir di kota Pontianak ini, diganggu oleh suara-suara makhluk,” jelasnya.
Di sisi lain, guna memastikan kemeriahan budaya ini berjalan aman, Polresta Pontianak telah menyiagakan personel di berbagai titik strategis. Pengamanan tidak hanya difokuskan pada lokasi eksibisi seperti Gang Darsyad, tetapi juga pada titik-titik rawan kemacetan serta area yang tengah menjadi perhatian publik.
“Mulai dari satgas preventif sampai dengan represif. Di mana pengamanan selain di lokasi titik-titik, yaitu seperti di Gang Darsyad ini, juga di lokasi-lokasi jalan. Yang menjadi simbol kemacetan, bahkan juga yang lagi viral saat ini yaitu di SPBU,” pungkas Endang.
Baca Juga:
Wali Kota Pastikan Kelancaran Arus Mudik Lebaran di Pelabuhan Pontianak
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.