Karhutla Desa Galang Mempawah Kembali Muncul, Petugas Terkendala Minimnya Sumber Air
Faktakalbar.id, MEMPAWAH –
Kebakaran hutan dan lahan (
karhutla
) dilaporkan kembali terjadi di kawasan Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten
Mempawah
pada Minggu (15/2/2026) sore.
Munculnya sejumlah titik api di lahan gambut ini memicu respons cepat dari tim gabungan untuk mencegah api menyebar ke pemukiman warga.
Baca Juga:
Karhutla Mempawah Telan Korban Jiwa, Lansia di Desa Galang Meninggal Akibat ISPA
Petugas dari TNI,
Polri
, BPBD, serta kelompok masyarakat peduli api segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan upaya pemadaman.
Namun, operasi di lapangan menghadapi hambatan serius karena minimnya ketersediaan sumber air di sekitar titik kebakaran.
Kapolsek Sungai Pinyuh, Setyadi, mengonfirmasi bahwa titik api (
hot spot
) baru tersebut terdeteksi di wilayah RT 01/RW 01, Desa Galang.
Begitu menerima informasi dari warga, pihaknya langsung mengerahkan personel untuk melakukan verifikasi dan penanggulangan dini di lokasi.
“Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait adanya titik api di Desa Galang, kami langsung melakukan koordinasi dan pengecekan dilapangan. Dan ternyata lokasinya berjarak sekitar 7 kilometer atau sekitar 10 menit dari Polsek Sungai Pinyuh,” jelas Setyadi.
Kondisi lahan yang terbakar merupakan semak belukar yang tumbuh di atas permukaan tanah gambut.
Karakteristik lahan jenis ini membuat api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat ke dalam tanah, sehingga memerlukan teknik pemadaman yang lebih intensif.
Baca Juga:
Karhutla di Mempawah Meluas, Api Lahap Kios Warga Desa Galang
Setyadi mengungkapkan bahwa sifat tanah gambut menjadi tantangan terbesar bagi petugas di lapangan. Kecepatan angin yang tinggi dan cuaca panas yang ekstrem memperburuk situasi, menyebabkan api dengan cepat menyebar ke lahan-lahan di sekitarnya.
“Kondisi tanah gambut menyebabkan penanggulangan karhutla harus dilakukan maksimal. Sebab, api di lahan gambut cukup sulit dipadamkan dan penyebarannya sangat cepat,” ujarnya.
Selain faktor jenis tanah, tim gabungan juga menghadapi kendala aksesibilitas. Jarak titik api yang jauh di tengah hutan serta ketiadaan akses jalan yang memadai bagi kendaraan pengangkut air membuat mobilitas peralatan pemadam menjadi sangat terbatas.
Meskipun menghadapi berbagai rintangan fisik, tim gabungan tetap berkomitmen untuk memutus rantai penyebaran api.
Baca Juga:
Polisi Selidiki Penyebab Karhutla di Desa Galang yang Hanguskan 10 Hektare Lahan
Koordinasi lintas sektor terus diperkuat guna mencari sumber air alternatif atau teknik pemadaman darat lainnya yang lebih efektif.
“Faktor alam seperti angin kencang dan panas juga menyebabkan api sulit dipadamkan. Namun, kami tetap berusaha maksimal agar karhutla ini bisa segera diatasi hingga tidak menimbulkan dampak kerusakan yang semakin luas,” tegas Setyadi.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.