Kasus Gubernur Kalbar Di Jalan Mempawah Senyap, GNPK Kalbar Soroti Kontras Penindakan KPK
Faktakalbar.id, PONTIANAK –
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menetapkan dan menangkap dua kepala daerah, yakni Bupati Pati,
Sudewo
dan Wali Kota Madiun,
Maidi
.
Penindakan cepat tersebut dinilai
kontras
dengan penanganan perkara dugaan korupsi pembangunan jalan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti ke ruang publik.
Perkara proyek jalan di Kabupaten Mempawah diketahui terjadi saat
Ria Norsan
menjabat sebagai Bupati Mempawah.
Kini, Ria Norsan telah terpilih sebagai Gubernur Kalimantan Barat periode 2024–2029.
Baca Juga:
Dituduh ‘Dalang’ Laporkan Kasus BP2TD dan Jalan Mempawah, Kristantus: Konflik Sudah Terasa Sejak Sebelum Pelantikan
Dalam penanganan perkara ini, KPK telah memanggil Ria Norsan beberapa kali untuk dimintai keterangan sebagai saksi serta melakukan penggeledahan di kediamannya.
Selain Ria Norsan, lembaga antirasuah tersebut juga sebelumnya memanggil
Arief Rinaldi
, anak dari Gubernur Kalimantan Barat terpilih, untuk dimintai keterangan sebagai saksi.
Arief Rinaldi diperiksa KPK pada Kamis (4/12/2025) dalam perkara dugaan korupsi peningkatan dan pembangunan jalan di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mempawah.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Faktakalbar.id, Arief Rinaldi diperiksa dalam kapasitasnya sebagai Anggota DPRD Kalimantan Barat.
Hingga kini, KPK belum mengungkap secara terbuka materi pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.
Dalam perkara ini, KPK sebenarnya telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka.
Namun hingga saat ini, identitas para tersangka tersebut belum diumumkan ke publik, termasuk konstruksi perkara dan peran masing-masing pihak.
Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi (GNPK) Kalimantan Barat,
M. Rifal
, menilai lambannya perkembangan kasus ini berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat, terlebih jika dibandingkan dengan cepatnya KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di daerah lain.
“Publik melihat KPK bisa bergerak sangat cepat ketika melakukan OTT. Tapi dalam kasus jalan Mempawah, yang sudah bertahun-tahun disidik, sudah ada penggeledahan, bahkan disebut ada tersangka, justru tidak pernah jelas ujungnya,” ujar Rifal kepada Fakta Kalbar, Selasa (20/1/2026).
Rifal menegaskan, GNPK Kalbar tidak bermaksud menuding atau menyimpulkan keterlibatan pihak tertentu. Namun, ia menilai KPK perlu memberikan penjelasan terbuka agar tidak memunculkan spekulasi liar.
“Kalau penegakan hukum dibiarkan senyap terlalu lama, publik wajar mempertanyakan arah dan keseriusan penanganannya,” katanya.
Menurut Rifal, transparansi merupakan kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga antirasuah. “Yang kami dorong hanya keterbukaan. Ini soal uang negara dan kepentingan masyarakat Kalimantan Barat,” ujarnya.
Sejumlah warga Kalimantan Barat juga menyuarakan pertanyaan serupa. Seorang warga Pontianak, Ari, mengatakan publik sulit memahami arah penanganan perkara tersebut.
“Kasusnya sudah lama, tapi tidak pernah ada penjelasan resmi. Kami ingin kejelasan, bukan menghakimi siapa pun,” katanya.
Dalam proses penggeledahan sebelumnya, penyidik KPK sempat membawa sebuah koper dari kediaman Ria Norsan.
Namun di hadapan awak media, Ria Norsan menyatakan koper tersebut tidak berisi dokumen penting.
“Itu koper kosong, bekas pakaian,” ujar Ria Norsan saat itu.
Faktakalbar.id telah mencoba mengonfirmasi perkembangan kasus ini kepada Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, pada (6/1/2026).
Namun hingga berita ini diterbitkan, KPK belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyidikan perkara dugaan korupsi proyek jalan di Kabupaten Mempawah.
KPK sebelumnya hanya menyatakan bahwa proses penyidikan tetap berjalan dan penetapan status hukum seseorang bergantung pada kecukupan alat bukti yang dikumpulkan penyidik.
Baca Juga:
Anak Gubernur Kalbar yang Juga Anggota DPRD Diperiksa KPK Terkait Korupsi Jalan Mempawah
(Dhn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.