KBIHU DIHINA, UMAT BICARA
Faktakalbar.id, OPINI -
Beberapa hari ini, jagat umat Islam Indonesia diguncang oleh pernyataan mengejutkan dari seorang anggota DPR RI. Bukan karena kapasitasnya yang luar biasa, tapi justru karena keberaniannya memvonis Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) sebagai biang masalah dalam penyelenggaraan haji. Lebih dari itu, ia menyebut KBIHU tidak ada gunanya. Pernyataan ini datang dari seorang politisi berlatar belakang pengusaha tebu, yang entah mengapa tiba-tiba duduk di komisi yang mengurusi soal haji, sebuah wilayah sakral yang selama ini dijaga kehormatannya oleh para ulama.
Inikah wajah baru pengelolaan haji kita? Urusan suci nan agung ini diperlakukan layaknya proyek politik dan dagang? Ketika seseorang yang tidak punya latar belakang syariah, tidak paham fiqih manasik, tidak pernah terlibat dalam dinamika ruhani umat, tiba-tiba merasa berhak menghakimi para ulama yang telah puluhan tahun membina dan mendampingi jamaah dengan keikhlasan?
Ini bukan sekadar soal etika atau politik, ini adalah soal preseden moral dan akal sehat. Karena KBIHU bukan sekadar lembaga administratif. Ia adalah manifestasi dari cinta ulama kepada umat. Ia adalah jembatan antara manasik dan makna. Ia lahir dari kegelisahan dan kepedulian, bukan dari kalkulasi untung rugi. Mereka hadir karena melihat jamaah yang kebingungan menunaikan ibadah haji tanpa pemahaman mendalam. Mereka hadir bukan karena proyek, tapi karena panggilan iman.
Baca Juga:
Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu!
Tuduhan bahwa KBIHU mengeksploitasi jamaah hanyalah kedangkalan cara pandang. Ongkos bimbingan yang dianggap mahal oleh para politisi itu sejatinya adalah bentuk penghargaan umat terhadap ilmu dan bimbingan spiritual. Di banyak tempat, masyarakat justru berlomba-lomba mendekat kepada ulama agar bisa berhaji dengan bimbingan yang sahih dan berkualitas. Maka, siapa sebenarnya yang tak paham realitas?
Yang lebih menyakitkan adalah pernyataan bahwa KBIHU tidak berguna. Padahal dalam realitas lapangan, sering kali justru para petugas kloter yang konon dipilih dengan sistem merit berbalik mengandalkan pembimbing KBIHU dalam menangani masalah krusial. Mulai dari manasik, komunikasi dengan otoritas Saudi, hingga menghadapi problem darurat di Arafah, Mina, dan Makkah, banyak petugas struktural justru mengandalkan ilmu dan kedekatan sosial para pembimbing KBIHU.
Dan jangan lupa, peta keislaman umat Islam Indonesia tidak tunggal. Umat ini beragam madzhab dan manhaj. Ada yang Syafi’i, Hanbali, Asy’ari, Salafi, bahkan Tarekat. Maka mustahil memaksakan manasik tunggal ala pemerintah yang merasa paling benar. Justru KBIHU-lah yang selama ini menjadi mediator damai dalam kebhinekaan mazhab tersebut. Tapi sayangnya, politisi itu tak mengerti realitas ini. Ia hanya melihat haji dari angka dan prosedur, bukan dari dimensi batin dan kebudayaan Islam Nusantara yang penuh kearifan.
Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa akan datang masa di mana orang-orang tidak kompeten akan bicara dan mengatur urusan umat. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ... وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ
Suatu masa akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya... dan pada masa itu ruwaibidhah akan bicara.
Sahabat bertanya, “Siapa ruwaibidhah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab:
الرجل التافه يتكلم في أمر العامة
Orang bodoh yang berbicara tentang urusan umat.
Hadits ini seakan hidup kembali hari ini. Ketika seorang anggota DPR—yang bukan ahli agama, bukan pembina umat, bukan pula bagian dari komunitas keulamaan—tiba-tiba merasa layak menghakimi para kyai, asatidz, dan alumni pesantren yang selama ini dengan ikhlas mengurus jamaah haji dari kampung ke Tanah Haram.
Inilah wajah nyata ruwaibidhah dalam balutan demokrasi modern. Mereka masuk lewat pintu partai, lalu duduk di komisi sakral, dan berbicara dengan penuh percaya diri seolah paham segalanya. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah penghinaan, bukan pembinaan. Tuduhan, bukan solusi.
Baca Juga:
Presiden, Pahlawan, atau Tokoh Mitologi yang Mengguncang Nusantara?
Ironi terbesar dari semua ini adalah ketika diskursus haji terus bergejolak karena dilegislasi oleh oknum yang tak punya kompetensi ruhani dan fikih, tetapi justru yang disalahkan adalah KBIHU yang sejatinya adalah penopang sistem itu sendiri. Bukankah ini pengalihan isu paling telanjang?
Kami ingin berkata dengan jernih: Berhentilah mengatur ibadah jika kalian tidak paham agama. Berhentilah mencampuri urusan ruhani jika kalian tak punya sanad keilmuan. Dan berhentilah merasa layak berbicara soal umat jika kalian tidak pernah hidup bersama umat.
Islam dibangun oleh ilmu dan adab, bukan oleh suara bising tanpa dasar. Selama umat masih memuliakan ulama, dan selama KBIHU tetap dijaga oleh orang-orang yang ikhlas, maka kami yakin ruh haji tetap akan hidup karena dibimbing oleh mereka yang paham, bukan oleh mereka yang sok paham atau memaksa orang lain agar paham.
Oleh : Mutawakkil Abu Ramadhan
(Aktivis Dakwah, Pembina Jamaah Haji, Pencinta Ulama)
Tag:
#kalbar
#isu keumatan
#bimbingan manasik
#ulama Indonesia
#haji Indonesia
#KBIHU
#Berita Nasional
#FaktaKalbar.id
#DPR RI
#Kalimantan Barat
#politik dan agama
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.