faktakalbar

Kecepatan Bukan Segalanya, Ini 5 Dampak Buruk Jurnalis Kurang Riset Saat di Lapangan

Penulis: Redaksi Wednesday, 25 March 2026 📖 2 menit
Kecepatan Bukan Segalanya, Ini 5 Dampak Buruk Jurnalis Kurang Riset Saat di Lapangan
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Dunia jurnalistik menuntut kecepatan, namun bukan berarti ketepatan bisa dikesampingkan. Riset adalah fondasi utama sebelum seorang jurnalis menginjakkan kaki di lokasi peliputan. Tanpa bekal informasi yang cukup, seorang jurnalis ibarat berjalan di ruang gelap tanpa senter. Kurangnya riset bukan hanya menyulitkan kerja teknis, tetapi juga berisiko merusak integritas karya jurnalistik itu sendiri. Baca Juga:  5 Bentuk Pembungkaman Halus di Perusahaan Media yang Jarang Disadari Jurnalis Bagi jurnalis, riset berfungsi sebagai pemandu untuk menyusun pertanyaan yang tajam dan menggali fakta lebih dalam. Jika diabaikan, dampaknya bisa meluas dari sekadar salah tulis hingga hilangnya kepercayaan publik. Berikut adalah 5 dampak buruk jurnalis kurang riset saat berada di lapangan: 1. Menghasilkan Informasi yang Dangkal Tanpa riset, jurnalis cenderung hanya menangkap apa yang terlihat di permukaan saja. Laporan yang dihasilkan biasanya hanya berisi informasi "apa" dan "siapa", tanpa mampu menjelaskan "mengapa" dan "bagaimana" secara mendalam. Tulisan yang dangkal tidak memberikan nilai tambah bagi pembaca dan gagal memenuhi fungsi pers sebagai pemberi edukasi. 2. Terjebak pada Narasi Tunggal Jurnalis yang kurang riset sering kali hanya bergantung pada pernyataan satu narasumber saja tanpa memiliki perbandingan data sebelumnya. Hal ini membuat jurnalis mudah "disetir" oleh pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Tanpa data pembanding, berita menjadi tidak berimbang ( cover both sides ) dan rentan menjadi alat propaganda atau penyebaran informasi sepihak. 3. Mengajukan Pertanyaan yang Kurang Relevan Sangat memalukan jika seorang jurnalis menanyakan hal-hal dasar yang sebenarnya sudah tersedia di data publik atau rilis pers sebelumnya. Kurang riset membuat sesi wawancara menjadi tidak efektif. Narasumber yang kompeten sering kali merasa enggan memberikan informasi lebih dalam jika jurnalis terlihat tidak memahami konteks isu yang sedang dibahas. 4. Risiko Terpapar dan Menyebarkan Misinformasi Lapangan penuh dengan informasi yang simpang siur. Riset awal adalah benteng untuk menyaring mana fakta dan mana rumor. Jurnalis yang datang dengan "tangan kosong" berisiko menelan mentah-mentah informasi yang salah di lokasi kejadian. Jika misinformasi ini masuk ke dalam berita, dampaknya adalah menyesatkan publik dan bisa memicu kegaduhan sosial. 5. Meruntuhkan Kredibilitas Personal dan Media Kredibilitas adalah aset termahal bagi seorang jurnalis. Sekali jurnalis ketahuan salah menuliskan fakta akibat malas riset, pembaca akan sulit mempercayai karya-karya selanjutnya. Hal ini juga berdampak buruk pada nama baik perusahaan media tempatnya bernaung. Di era digital, satu kesalahan kecil akibat kurang riset bisa berakibat fatal karena jejak digital yang sulit dihapus. Baca Juga:  Belajar dari Baek Yi-jin di Drakor 2521, Ini 5 Realita Pahit Manis Kehidupan Cinta Seorang Jurnalis (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK