faktakalbar

Kehidupan Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Mulai Bangkit di Huntara Konga

Penulis: Redaksi Sunday, 25 May 2025 📖 3 menit
Kehidupan Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Mulai Bangkit di Huntara Konga
Faktakalbar.id, NASIONAL - Ribuan warga terpaksa mengungsi setelah aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki mengalami peningkatan signifikan. Untuk menampung para penyintas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kementerian dan lembaga terkait membangun hunian sementara (huntara) lengkap dengan fasilitas dasar. Tidak hanya sebagai tempat perlindungan, huntara juga menjadi ruang pemulihan sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat terdampak. Di huntara Desa Konga, Kecamatan Titehena, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kehidupan perlahan kembali berjalan. Warga yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal mulai menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti memasak, mencuci, bahkan membuka usaha kecil. Sejumlah warga memanfaatkan deretan huntara (kopel) untuk membuka warung yang menjual makanan, minuman, galon air, dan jasa bengkel kendaraan. Selain itu, beberapa penyintas mulai menanam sayuran dan beternak ayam menggunakan kandang sederhana. Baca Juga: Pemerintah Prioritaskan Pembangunan Hunian Tetap untuk Korban Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Rofina, warga asal Desa Boru yang kini tinggal di huntara, mengaku perlahan mulai bangkit dari keterpurukan. "Air bersih dan listrik tersedia. Bahan makanan juga dibagikan secara berkala, bukan hanya dari pemerintah daerah tetapi juga dari komunitas kemanusiaan," ujarnya saat ditemui di Huntara Konga, Sabtu (24/5). "Dalam kondisi seperti ini, pelan-pelan kami berusaha bangkit kembali," tambahnya. Dukungan Pendidikan untuk Anak-anak Anak-anak penyintas juga mendapat perhatian khusus. Pendidikan tetap berjalan melalui sekolah darurat di tenda hingga pembangunan sembilan ruang belajar sementara. Fasilitas ini mengakomodasi 1.492 siswa dari tingkat PAUD hingga SD. Pembangunan dilakukan oleh berbagai organisasi, seperti Save The Children, Komunitas Pahlawan Anak, Circle of Imagine Society Timor, Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana NTT, dan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial Larantuka. Harapannya, ruang belajar ini bisa menjadi tempat menumbuhkan semangat dan harapan bagi anak-anak terdampak bencana. Tahap Pembangunan Huntara dan Rencana Huntap BNPB melaporkan bahwa 450 unit huntara tahap I dan II telah dihuni oleh 450 kepala keluarga. Saat ini, proses pembangunan huntara tahap III sedang berlangsung untuk menampung warga yang masih berada di pos-pos pengungsian. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menyatakan bahwa relokasi ke huntara adalah langkah terbaik saat ini, mengingat status Gunung Lewotobi Laki-Laki berada pada Level IV (Awas). "Kita harus hidup berdampingan dengan Gunung Lewotobi Laki-Laki. Yang penting masyarakat berada di luar zona bahaya dan dapat beraktivitas dengan aman," ujarnya saat mengunjungi Pos Lapangan Konga, Jumat (23/5). Meski begitu, Suharyanto menegaskan bahwa huntara bukan solusi akhir. Ia menekankan pentingnya pembangunan hunian tetap (huntap) sebagai solusi jangka panjang. "Jangan sampai warga merasa nyaman di huntara dan mengira masalah sudah selesai. Kita prioritaskan pembangunan huntap sebagai tempat tinggal layak dan aman," tegasnya. Rencananya, pembangunan huntap akan dimulai pekan depan di lokasi Noboleto dengan target pembangunan 500 unit. Proyek ini didukung oleh Kementerian PUPR, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, TNI/Polri, serta masyarakat lokal. Kondisi Terkini Gunung Lewotobi Laki-Laki Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Sabtu (24/5) menunjukkan asap putih keluar dari kawah utama setinggi 50–100 meter. Cuaca dilaporkan cerah hingga berawan dengan angin lemah ke arah barat daya. Sulistiyani, anggota tim tanggap darurat PVMBG, menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik kali ini berbeda dari erupsi November 2024. "Ada perbedaan dari segi kegempaan hingga letusan. Situasi yang tidak bisa diprediksi ini membuat evakuasi ke luar radius bahaya menjadi langkah terbaik," jelasnya di Pos Pengamatan Gunung Lewotobi. Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 6 km dan sektoral Barat – Utara – Timur Laut sejauh 7 km dari puncak gunung, serta selalu mengikuti arahan resmi dari pemerintah. Baca Juga: Pemerintah Percepat Relokasi Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK