faktakalbar

Kenapa Anda Bukannya Semangat Justru Mengantuk Sehabis Sarapan?

Penulis: Redaksi Monday, 26 January 2026 📖 2 menit
Kenapa Anda Bukannya Semangat Justru Mengantuk Sehabis Sarapan?
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda mengalami situasi ini? Anda bangun tidur dengan semangat, lalu menyantap sepiring nasi uduk atau bubur ayam dengan harapan mendapatkan energi maksimal untuk memulai hari. Namun, selang satu jam kemudian, bukannya bertenaga, mata Anda justru terasa berat, konsentrasi buyar, dan keinginan untuk kembali tidur tak terbendung. Fenomena ini sering disebut sebagai food coma atau dalam istilah medis dikenal dengan post-prandial somnolence . Ironisnya, waktu makan yang seharusnya menjadi sumber "bahan bakar" justru berubah menjadi "obat tidur". Mengapa hal ini bisa terjadi? Baca Juga:  Bukan Kenyang Malah Ngantuk: 5 “Dosa Besar” Saat Sarapan yang Sering Diabaikan Berikut adalah penjelasan ilmiah di balik rasa kantuk setelah sarapan dan bagaimana cara menghindarinya agar produktivitas Anda tetap terjaga. 1. Jebakan Karbohidrat dan Lonjakan Gula Darah Penyebab utama rasa kantuk di pagi hari sering kali bersembunyi di balik menu piring Anda. Menu sarapan populer di Indonesia umumnya didominasi oleh karbohidrat olahan (nasi putih, mie, bubur, roti putih) dan gula (teh manis, kopi susu). Saat Anda mengonsumsi karbohidrat tinggi, tubuh memecahnya menjadi glukosa yang masuk ke aliran darah. Kadar gula darah yang melonjak drastis ini mengirim sinyal ke pankreas untuk memproduksi insulin dalam jumlah besar. Insulin bertugas mengangkut glukosa dari darah ke dalam sel untuk energi. Namun, lonjakan insulin yang terlalu tinggi sering kali menyebabkan kadar gula darah turun drastis tak lama kemudian ( sugar crash ). Penurunan energi secara tiba-tiba inilah yang membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk. 2. Produksi Hormon Serotonin dan Melatonin Makanan tertentu memengaruhi produksi zat kimia di otak. Karbohidrat membantu penyerapan asam amino triptofan ( tryptophan ) ke dalam otak. Di otak, triptofan diubah menjadi serotonin (hormon yang mengatur suasana hati dan relaksasi) dan kemudian dikonversi menjadi melatonin (hormon tidur). Jadi, sarapan yang terlalu berat karbohidrat secara kimiawi memang mempersiapkan otak Anda untuk rileks, bukan untuk bekerja keras. 3. Sistem Saraf "Rest and Digest" Tubuh manusia memiliki sistem saraf otonom yang bekerja tanpa kita sadari. Saat perut penuh, sistem saraf parasimpatis mengambil alih kendali. Sistem ini sering dijuluki mode rest and digest (istirahat dan cerna). Saat mode ini aktif, tubuh memprioritaskan energi untuk mencerna makanan di lambung dan usus. Akibatnya, aliran darah lebih terkonsentrasi ke sistem pencernaan, dan tubuh secara alami masuk ke fase konservasi energi yang memicu rasa rileks dan kantuk. 4. Porsi yang Berlebihan Ukuran porsi juga memegang peranan penting. Semakin besar porsi sarapan Anda, semakin keras sistem pencernaan bekerja. Beban kerja internal yang berat ini membutuhkan energi besar, yang pada akhirnya membuat Anda merasa lelah secara fisik. Solusi: Cara Sarapan Agar Tetap Fokus Anda tidak perlu melewatkan sarapan. Kuncinya adalah mengubah komposisi menu: Pilih Karbohidrat Kompleks: Ganti roti putih dengan gandum utuh, atau nasi putih dengan nasi merah/oatmeal. Karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat, memberikan energi yang stabil tanpa lonjakan insulin drastis. Perbanyak Protein dan Lemak Sehat: Telur, kacang-kacangan, tahu, atau alpukat dapat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan menstabilkan gula darah. Perhatikan Porsi: Makanlah secukupnya, berhentilah sebelum terlalu kenyang (berhenti di 80%). Hidrasi: Seringkali rasa lelah di pagi hari diperparah oleh dehidrasi ringan setelah tidur semalaman. Minumlah air putih yang cukup sebelum kopi atau teh. Sarapan adalah fondasi hari Anda. Dengan memilih menu yang tepat, Anda bisa mengubah rasa kantuk menjadi produktivitas yang maksimal. Baca Juga:  Sarapan Nasi Goreng Ternyata Bisa Bikin Ngantuk! (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK