faktakalbar

Kenapa Jadi "Sumbu Pendek" Saat Lapar, Gerah, dan Ngantuk? Ini 5 Alasan Ilmiahnya

Penulis: Redaksi Thursday, 04 December 2025 📖 3 menit
Kenapa Jadi "Sumbu Pendek" Saat Lapar, Gerah, dan Ngantuk? Ini 5 Alasan Ilmiahnya
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda merasa menjadi orang yang sangat menyebalkan hanya karena telat makan siang? Atau mungkin Anda pernah membentak pasangan hanya karena ruangan terasa panas dan Anda kurang tidur semalam? Jika jawabannya iya, jangan buru-buru melabeli diri Anda sebagai orang jahat atau pemarah. Fenomena ini sangat manusiawi. Dalam istilah populer, kita sering mendengarnya sebagai hangry (gabungan hungry dan angry ). Baca Juga:  Mengapa Gampang Marah Saat PMS? Ini 4 Jawaban Ilmiah di Balik Perubahan Mood Anda Ternyata, ada penjelasan ilmiah mengapa kombinasi rasa lapar, suhu panas, dan kantuk bisa meruntuhkan pertahanan emosi seseorang. Tubuh dan otak kita memiliki mekanisme unik yang menghubungkan ketidaknyamanan fisik langsung ke pusat kendali emosi. Berikut adalah 5 alasan ilmiah mengapa kita jadi lebih sensitif dan mudah marah saat kondisi fisik tidak prima: 1. Otak Kehabisan "Bahan Bakar" Glukosa Alasan utama kenapa kita emosi saat lapar adalah penurunan kadar gula darah (glukosa). Glukosa adalah bahan bakar utama otak. Ketika kadarnya turun drastis, fungsi otak akan terganggu. Bagian otak yang paling terdampak adalah Lobus Frontal (bagian depan). Bagian ini bertugas mengendalikan impuls, menahan emosi, dan berpikir logis. Saat "bensin"-nya habis, kemampuan otak untuk mengerem emosi ikut melemah. Akibatnya, hal sepele yang biasanya bisa Anda maklumi tiba-tiba terasa sangat mengganggu. 2. Banjir Hormon Stres (Kortisol dan Adrenalin) Saat Anda kelaparan atau kurang tidur, otak menganggap tubuh sedang dalam kondisi bahaya atau krisis energi. Sebagai respons pertahanan diri, otak memerintahkan kelenjar tubuh untuk melepaskan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin. Kedua hormon ini biasanya keluar saat kita menghadapi ancaman (mode fight or flight ). Adrenalin membuat jantung berdegup kencang dan otot menegang. Dalam kondisi ini, ambang batas toleransi kita terhadap gangguan menjadi sangat rendah. Sapaan teman yang biasa saja bisa terdengar seperti tantangan atau ejekan di telinga orang yang sedang dibanjiri adrenalin. 3. Putusnya Koneksi "Rem" Emosi di Otak Kurang tidur memiliki efek yang menakutkan bagi otak. Sebuah studi dari UC Berkeley menunjukkan bahwa saat manusia kurang tidur, koneksi antara Amigdala (pusat emosi dan rasa takut) dan Prefrontal Cortex (pusat logika) menjadi terganggu. Ibarat mobil, Amigdala adalah pedal gas emosi, sedangkan Prefrontal Cortex adalah remnya. Saat mengantuk, rem ini menjadi blong. Amigdala menjadi 60% lebih reaktif terhadap stimulus negatif. Inilah mengapa saat mengantuk, kita mudah sekali tersinggung atau menangis tanpa alasan yang jelas. 4. Heat Stress Menguras Energi Mental Mengapa cuaca panas (gerah) bikin emosi? Saat suhu tubuh meningkat, tubuh bekerja ekstra keras untuk mendinginkan diri melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah. Proses ini menghabiskan banyak energi dan menyebabkan ketidaknyamanan fisik yang intens . Kondisi ini disebut heat stress . Detak jantung yang meningkat saat kepanasan meniru respons fisiologis saat kita sedang marah. Otak sering kali salah menafsirkan sinyal fisik ini (jantung berdebar dan keringat) sebagai tanda agresi , sehingga membuat kita lebih condong untuk merespons situasi dengan kemarahan daripada kesabaran. 5. Senyawa Kimia Neuropeptida Y Khusus untuk rasa lapar, ada "pemain" unik bernama Neuropeptida Y. Ini adalah zat kimia alami di otak yang dilepaskan saat tubuh butuh makan. Uniknya, Neuropeptida Y tidak hanya berfungsi mengatur rasa lapar, tetapi juga mengatur rasa amarah dan agresi. Reseptor untuk zat ini tersebar di berbagai bagian otak. Jadi, tingginya keinginan untuk makan sering kali berjalan beriringan dengan tingginya dorongan agresivitas secara biologis. Bagaimana Cara Mengatasinya? Mengetahui bahwa ini adalah reaksi biologis, bukan berarti kita bebas memarahi orang lain. Berikut cara cepat "menjinakkan" diri: Kenali Tandanya: Jika Anda merasa kesal tanpa sebab yang berat, tanyakan pada diri sendiri: "Kapan terakhir saya makan? Atau tidur?" Makan Cepat: Konsumsi makanan yang mengandung glukosa atau karbohidrat kompleks untuk menaikkan gula darah dengan stabil. Minum Air Dingin: Jika gerah, hidrasi adalah kunci. Air dingin membantu menurunkan suhu internal tubuh. Tarik Napas: Sebelum merespons orang lain, tarik napas 10 detik. Ini memberi waktu bagi Lobus Frontal untuk mengambil alih kendali dari Amigdala. Tubuh kita adalah mesin yang kompleks. Merawat kebutuhan dasarnya (makan, tidur, kenyamanan) adalah langkah pertama untuk menjaga kesehatan mental dan hubungan baik dengan orang lain. Baca Juga:  Mudah Marah Menjelang Haid? Ini 4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Agar Tetap Tenang (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK