faktakalbar

Bukan Sekadar Camilan, Inilah Alasan Mengapa Nastar Begitu Identik dengan Lebaran

Penulis: Redaksi Tuesday, 24 March 2026 📖 2 menit
Bukan Sekadar Camilan, Inilah Alasan Mengapa Nastar Begitu Identik dengan Lebaran
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Setiap kali gema takbir mulai berkumandang, aroma mentega dan selai nanas yang harum biasanya mulai memenuhi dapur-dapur di seluruh penjuru negeri. Nastar seolah telah menjadi "tamu wajib" yang harus ada di atas meja setiap rumah saat Hari Raya Idul Fitri . Kue kering berbentuk bulat dengan isian selai nanas yang manis-asam ini memang memiliki daya tarik tersendiri yang sulit dipisahkan dari tradisi Lebaran di Indonesia. Namun, pernahkah terpikirkan mengapa harus nastar? Mengapa bukan kue lain yang menjadi ikon utama suguhan hari raya? Baca Juga:  4 Tips Wangi Seharian Saat Idul Fitri: Rahasia Parfum Tahan Lama di Cuaca Panas Berikut adalah alasan mengapa nastar begitu identik dengan momen Lebaran: 1. Akulturasi Budaya Belanda dan Lokal Nastar sebenarnya berasal dari pengaruh kuliner Belanda. Nama nastar diambil dari gabungan kata dalam bahasa Belanda, yaitu ananas (nanas) dan taartjes (kue tar). Dahulu, masyarakat Belanda di Indonesia sering membuat kue pai dengan isian buah-buahan seperti stroberi atau bluberi. Karena buah-buahan tersebut sulit didapat di tanah air pada masa itu, masyarakat kemudian memodifikasinya dengan buah nanas yang melimpah di iklim tropis. Kreasi inilah yang kemudian disukai oleh berbagai kalangan dan terus diwariskan hingga sekarang. 2. Simbol Kemakmuran dan Keberuntungan Dalam filosofi masyarakat Tionghoa, nanas sering disebut sebagai ong lai , yang memiliki kemiripan bunyi dengan kata yang berarti "kemakmuran datang". Bentuk nastar yang bulat dan berwarna kuning keemasan juga sering diasosiasikan dengan emas atau kemakmuran. Oleh karena itu, menyajikan nastar saat hari besar seperti Lebaran dianggap sebagai simbol harapan agar keberuntungan dan rezeki terus mengalir kepada tuan rumah maupun tamu yang datang berkunjung. 3. Tekstur yang Pas untuk Menemani Obrolan Lebaran adalah momen silaturahmi di mana orang-orang akan duduk lama untuk mengobrol dan saling bermaafan. Nastar memiliki tekstur yang melt-in-your-mouth (meleleh di mulut), menjadikannya camilan yang sangat pas. Ukurannya yang sekali suap ( bite-sized ) membuat orang bisa menikmatinya berkali-kali tanpa merasa terlalu kenyang, sehingga sangat cocok sebagai teman bercengkrama di ruang tamu. 4. Proses Pembuatan yang Menjadi Tradisi Keluarga Identitas nastar dengan Lebaran juga terbangun melalui proses pembuatannya. Membuat nastar membutuhkan ketelatenan, mulai dari memasak selai nanas hingga membulatkan adonan secara presisi. Kegiatan membuat nastar bersama anggota keluarga di hari-hari menjelang hari raya telah menjadi tradisi turun-temurun. Momen kebersamaan di dapur inilah yang membuat nastar memiliki nilai emosional yang kuat bagi banyak orang. 5. Daya Tahan yang Cukup Lama Di masa lalu, sebelum teknologi pengemasan secanggih sekarang, daya tahan makanan menjadi pertimbangan utama. Nastar adalah jenis kue kering yang jika dipanggang dengan benar, bisa bertahan cukup lama meski tanpa bahan pengawet. Hal ini sangat praktis bagi masyarakat Indonesia yang merayakan Lebaran dalam durasi yang cukup panjang, mulai dari kunjungan keluarga inti hingga open house untuk kerabat jauh. Baca Juga:  Pemerintah Gelar Sidang Isbat Sore Ini, Cek Beda Prediksi Tanggal Idul Fitri 1447 H (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK