Ketika Air Menggenang, Nurani Kita Terbangun: Hikmah Banjir Sumatra dan Amanah Menjaga Tanah untuk Anak Cucu
OPINI - Prihatin yang Melampaui Batas Geografis
Banjir
besar yang melanda Aceh, Sumbar, dan Sumut kembali mengguncang kesadaran kita bahwa
bencana
di satu wilayah sesungguhnya adalah duka seluruh Nusantara.
Kalimantan Barat turut berduka dan prihatin, bukan sekadar karena empati, tetapi karena kita semua terikat dalam satu kesatuan ekologis dan kebangsaan.
Baca Juga:
Bencana Sebagai Ayat dan Cermin Bangsa
Air yang tumpah bukan hanya membawa lumpur dan kayu gelondongan; ia membawa pesan, peringatan, dan hikmah tentang hubungan kita dengan alam.
Dalam literatur kebijakan kebencanaan modern,
bencana
selalu merupakan pertemuan tiga unsur: hazard (bahaya alam), vulnerability (kerentanan), dan exposure (paparan manusia dan infrastruktur) (Wisner et al., 2004).
Cuaca ekstrem mungkin memicu banjir, tetapi kerentanan ekologis deforestasi, alih fungsi lahan, rusaknya DAS yang membuat bencana menjadi tragedi.
Hikmah dari Sebuah Musibah
1. Pesan Ekologis: Luka-Luka di Hulu Sungai
Banjir Sumatra bukanlah fenomena dadakan. Ia adalah akumulasi luka ekologis yang menahun.
Penelitian oleh Garcia & Brown (2021) menunjukkan bahwa deforestasi di kawasan tropis meningkatkan surface runoff hingga 40–60%, menurunkan kapasitas tanah menyerap air, dan menaikkan risiko banjir bandang.
Wilayah hulu Aceh dan Sumbar berada di zona rawan longsor dan curah hujan orografis, sehingga hilangnya vegetasi mempercepat proses banjir.
Di banyak lokasi, hutan lindung berubah menjadi perkebunan, tambang, atau proyek yang tidak sensitif terhadap risiko hidrometeorologi. Ketika hutan hilang, integritas DAS runtuh.
Alam seakan berkata: “Aku telah memberi tanda-tanda, tetapi kalian tidak memperhatikannya.”
2. Pesan Spiritual: Amanah yang Terabai
Dalam Islam, musibah bukan selalu hukuman; ia juga peringatan, ujian, dan panggilan untuk sadar.
Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum 30:41)
Ayat ini relevan secara ekologis dan filosofis. Ia tidak sekadar menyoroti prinsip sebab-akibat, tetapi juga tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah yang mengelola bumi.
Rasulullah SAW mengingatkan:
"Dunia ini hijau dan indah, dan Allah telah menjadikan kalian sebagai pemakmur di dalamnya. Ia akan melihat bagaimana kalian mengelolanya.”
(HR. Muslim)
Banjir bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga cermin: sejauh mana kita telah mengabaikan amanah pemakmuran itu?
3. Pesan Sosial: Ketimpangan yang Mengemuka
Bencana selalu lebih berat bagi mereka yang paling miskin. Penelitian Cutter (2018) menegaskan bahwa komunitas miskin memiliki kerentanan sosial-ekonomi tertinggi, dengan akses minimal terhadap mitigasi risiko.
Ketika banjir datang, mereka kehilangan rumah, sawah, dan masa depan.
Musibah mengajarkan kita bahwa keadilan ekologis adalah bagian dari keadilan sosial.
Baca Juga:
BNPB Kebut Pencarian Korban Hilang, Total 303 Orang Meninggal di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Menyulam Keinsafan Kolektif
1. Mengapa Kita Terkejut Pada Hal yang Telah Diperingatkan?
Di banyak daerah Indonesia, indikator lingkungan telah lama menunjukkan alarm keras:
Tutupan hutan Sumatra menyusut hingga lebih dari 50% sejak 1985 (Margono et al., 2014).
DAS kritis terus bertambah.
Debit puncak sungai meningkat, sementara kapasitas tampung menurun.
Namun pembangunan sering masih bertumpu pada logika ekstraksi, bukan regenerasi. Kita ingin hasil cepat, tetapi lupa pada keberlanjutan jangka panjang.
Musibah ini mengingatkan: modernitas tanpa kebijaksanaan adalah bencana yang tertunda.
2. Memahami Relasi Manusia–Alam: Perspektif Falsafah
Dalam filsafat lingkungan, dikenal konsep deep ecology (Naess, 1986) yang melihat manusia bukan sebagai penguasa alam, tetapi sebagai bagian kecil dari sistem kehidupan.
Jika kita memandang hutan hanya sebagai “lahan kosong” atau “komoditas ekonomi”, maka kita telah kehilangan lensa kebijaksanaan.
Kearifan lokal Nusantara pun mengajarkan hal serupa:
“Hutan adalah ibu, sungai adalah nadi, tanah adalah kehidupan.”
Ketika hubungan ini putus, bencana bukan hanya mungkin tetapi pasti.
IV. Sumatra Mengajarkan Kalimantan: Sebuah Refleksi
Sebagai wilayah dengan tutupan hutan tropis terbesar di Indonesia, Kalimantan tidak boleh merasa aman.
Kalimantan Barat sendiri menghadapi tantangan besar:
ekspansi sawit
alih fungsi lahan gambut
tekanan ekonomi terhadap kawasan hutan
kenaikan muka air laut di pesisir
degradasi beberapa DAS utama, termasuk Kapuas dan Pawan
Musibah di Sumatra adalah cermin masa depan Kalimantan bila peringatan ini tidak diindahkan.
V. Kebijakan untuk Anak Cucu: Jalan Pulang Menuju Bumi yang Amanah
Indonesia perlu membangun paradigma baru: Pembangunan Ekologis Berkeadilan.
Ini tidak sekadar slogan, melainkan agenda kebijakan yang sangat nyata:
1. Rekonstruksi Tata Kelola DAS secara Serius
DAS bukan hanya garis di peta, tetapi sistem kehidupan. Kita perlu:
rehabilitasi hulu berbasis spesies lokal
larangan mutlak menambang di hutan lindung
restorasi daerah sempadan sungai
audit lingkungan berkala
2. Pengendalian Alih Fungsi Hutan dengan Teukuat
Setiap izin harus memiliki ecological threshold.
Tidak boleh lagi hutan dataran tinggi digunduli untuk kepentingan sesaat.
3. Pembangunan Berbasis “Risk Governance”
Seperti rekomendasi UNDRR (2023), pembangunan harus menempatkan risiko bencana sebagai parameter utama, bukan pelengkap AMDAL.
4. Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas
Anak cucu kita berhak atas bumi yang layak.
Pengembangan ekonomi berbasis HHBK, ekowisata, dan nilai tambah lokal dapat menjadi fondasi baru yang lebih adil dan berkelanjutan.
5. Pendidikan Ekologi untuk Generasi Z dan Alpha
Merekalah ahli waris bumi.
Ilmu lingkungan harus menjadi bagian dari kurikulum, bukan sekadar pengetahuan, tetapi karakter.
Baca Juga:
BNPB: Korban Bencana di Sumatera Terus Bertambah, 174 Meninggal dan 79 Masih Hilang
Warisan Terbesar Bukan Harta, Tetapi Bumi yang Terjaga
Banjir di Aceh, Sumbar, dan Sumut adalah duka kita bersama. Namun lebih dari itu, ia adalah pesan yang mengetuk, agar kita kembali memahami makna amanah.
Amanah untuk merawat bumi, menjaga hutan, membersihkan sungai, dan memastikan bahwa anak cucu kita hidup di tanah yang aman dari bencana.
Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
(QS. Ar-Ra'd 13:11)
Musibah ini, dengan segala kesakitannya, membuka ruang untuk refleksi nasional.
Semoga Indonesia menemukan jalan pulang: kembali ke kebijaksanaan, kembali ke keseimbangan, dan kembali ke amanah sebagai penjaga bumi.
Untuk anak cucu kita. Untuk masa depan yang tidak hanya dibangun dengan beton, tetapi juga dengan nurani.
Oleh:
Prof. Gusti Hardiansyah
(Guru Besar UNTAN & Ketua ICMI KALBAR)
*Disclaimer:
Artikel ini adalah opini pribadi dari penulis dan tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi Faktakalbar.id.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.