faktakalbar

Ketika Dunia Menjadi LEGO: Propaganda, Emosi, dan Ilusi Keadilan Global

Penulis: Redaksi Thursday, 02 April 2026 📖 4 menit
Ketika Dunia Menjadi LEGO: Propaganda, Emosi, dan Ilusi Keadilan Global
OPINI -  Sore itu, di sudut Kota Pontianak, secangkir koptagul liberika mengepul pelan. Aroma gambut yang khas seolah mengikat waktu—tenang, tetapi menyimpan bara. Di layar ponsel, video demi video berputar: animasi LEGO, rudal, anak-anak, sejarah luka dunia, dan satu kalimat yang menggema seperti palu godam di ruang batin: One vengeance for all . Di luar sana, antrean mulai terbentuk di SPBU . Panic buying BBM mulai terasa. Isu kenaikan harga April menyebar lebih cepat dari fakta. Dunia global dan lokal seakan bertemu di satu titik: ketakutan yang diproduksi, lalu disebarkan. Baca Juga:  Breaking News: Isu Hoaks dan Fenomena Ikut-ikutan Picu Antrean BBM Kembali di SPBU Pontianak Selasa Malam Pertanyaannya: apakah kita sedang menyaksikan realitas, atau sedang dikurasi untuk mempercayai sesuatu? Dunia yang Direduksi Menjadi Narasi Tunggal Video yang beredar itu bukan sekadar konten. Ia adalah produk zaman: perpaduan artificial intelligence , estetika digital, dan strategi komunikasi geopolitik. Dalam format LEGO yang tampak ramah, ia menyusun ulang sejarah dunia menjadi satu garis lurus: korban dan pelaku, hitam dan putih, benar dan salah—tanpa ruang abu-abu. Hiroshima, Vietnam, Irak, Palestina, bahkan Malcolm X—semuanya dijahit dalam satu narasi besar. Tidak untuk menjelaskan, tetapi untuk meyakinkan. Tidak untuk membuka diskusi, tetapi untuk menutupnya dengan emosi. Di sinilah letak kekuatannya. Ketika kompleksitas sejarah dipadatkan menjadi simbol, maka nalar perlahan digantikan oleh rasa. Dan rasa, sebagaimana kita tahu, jauh lebih mudah digerakkan. Dari Empati ke Legitimasi Kekerasan Awalnya, kita diajak berempati. Anak-anak, korban perang, wajah-wajah kecil yang tak bersalah. Lalu perlahan, empati itu diarahkan. Sejarah luka dipanggil satu per satu, seperti daftar panjang utang moral dunia. Namun video itu tidak berhenti di empati. Ia bergerak lebih jauh: menuju legitimasi balasan. Rudal tidak lagi tampil sebagai alat perang, tetapi sebagai simbol keadilan. Tulisan In memory of... yang biasanya mengandung duka, kini ditempelkan pada senjata. Sebuah pergeseran makna yang halus, tetapi sangat kuat: bahwa membalas adalah bagian dari menghormati korban. Di titik ini, kita tidak lagi hanya menonton. Kita mulai diposisikan. Netralitas yang Dihapuskan Salah satu kutipan yang muncul dalam video itu berbunyi: If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor. Kalimat ini kuat. Menggugah. Namun dalam konteks video tersebut, ia berfungsi sebagai alat tekanan moral. Netralitas tidak lagi dilihat sebagai kehati-hatian, tetapi sebagai pengkhianatan. Inilah teknik klasik propaganda modern: menghilangkan ruang tengah. Ketika hanya ada dua pilihan—mendukung atau menjadi musuh—maka dialog mati. Yang tersisa hanyalah posisi, dan dari posisi itulah konflik tumbuh. Estetika yang Menipu, Emosi yang Mengikat Mengapa LEGO? Mengapa bukan dokumenter serius atau laporan investigatif? Jawabannya sederhana: karena estetika menentukan penerimaan. Visual LEGO menghadirkan rasa aman, familiar, bahkan nostalgia. Ia menurunkan kewaspadaan kritis penonton. Di saat yang sama, musik dramatis dan narasi emosional bekerja di bawah sadar, membentuk persepsi tanpa harus diperdebatkan. Ini bukan lagi propaganda lama yang kasar dan frontal. Ini adalah propaganda digital—halus, sinematik, dan sangat efektif. Dampak Nyata di Ruang Lokal Apa hubungannya semua ini dengan Pontianak? Dengan antrean BBM? Dengan harga yang belum tentu naik, tetapi sudah ditakuti? Jawabannya: persepsi membentuk perilaku. Ketika dunia digital dipenuhi narasi konflik, ketidakpastian, dan ancaman, maka rasa aman masyarakat ikut terganggu. Informasi yang belum pasti berubah menjadi keyakinan. Dan keyakinan itu mendorong tindakan—termasuk membeli BBM secara berlebihan. Kita tidak hanya mengonsumsi informasi global. Kita juga mengimpor kecemasan global ke dalam kehidupan lokal. Ketika Sistem Dunia Dipertanyakan Di akhir video, simbol-simbol besar dunia—kapal induk, Gedung Putih, bahkan PBB—digambarkan runtuh. Ini bukan sekadar efek visual. Ini adalah pesan ideologis: bahwa sistem global telah gagal. Jika pesan ini diterima tanpa kritik, maka yang terjadi adalah delegitimasi. Diplomasi dianggap tidak berguna. Hukum internasional dipandang tidak adil. Dan ketika kepercayaan pada sistem runtuh, maka ruang kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang lain—sering kali, oleh kekerasan. Kita Sedang Berada di Medan Perang yang Berbeda Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan senjata. Ia bisa dimulai dari layar, dari video tiga menit, dari narasi yang disusun dengan rapi. Ini adalah cognitive warfare —di mana yang diperebutkan bukan wilayah, tetapi cara kita melihat dunia. Dan dalam perang ini, setiap kita adalah target. Menjaga Nalar di Tengah Bisingnya Dunia Menyeruput koptagul liberika di tengah riuhnya informasi global mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah maknanya: menjaga jeda, menjaga nalar. Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang emosional adalah adil. Dan tidak semua yang terlihat seperti kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Kita tidak harus menjadi netral tanpa sikap. Tetapi kita juga tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir sebelum memilih sisi. Penutup: Antara Api dan Akal Dunia hari ini seperti api yang menyebar cepat—dipicu oleh narasi, diperbesar oleh teknologi, dan dipelihara oleh emosi. Di tengah itu, kita dihadapkan pada pilihan: ikut terbakar, atau tetap menjaga akal. Karena pada akhirnya, yang menentukan arah masa depan bukan hanya siapa yang paling keras berteriak, tetapi siapa yang masih mampu berpikir jernih di tengah kebisingan. Dan mungkin, di kota kecil seperti Pontianak, di antara antrean BBM dan secangkir kopi liberika, kita masih punya kesempatan itu. Baca Juga:  Cegah Penyelewengan BBM, Polsek Gelar Patroli SPBU di Mukok dan Atur Antrean Kendaraan Penulis: Gusti Hardiansyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura)  *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK