faktakalbar

Ketika Laut Menjadi Jalan Keluar: Membaca Ulang Visi Dahuri di Tengah Kegamangan Ekonomi

Penulis: Redaksi Thursday, 16 April 2026 📖 4 menit
Ketika Laut Menjadi Jalan Keluar: Membaca Ulang Visi Dahuri di Tengah Kegamangan Ekonomi
OPINI - Di sebuah ruang konferensi yang dipenuhi elite kebijakan dan pelaku daerah pesisir, suara itu terdengar tenang, tetapi mengandung kegelisahan panjang. Rokhmin Dahuri tidak sekadar menyampaikan data, ia seperti sedang mengingatkan sesuatu yang pernah kita tahu, tetapi perlahan kita lupakan: Indonesia adalah negara maritim, tetapi belum sepenuhnya berpikir maritim. Slide demi slide yang ditampilkan bukan sekadar materi presentasi. Ia adalah peta masalah, sekaligus peta jalan. Baca Juga: Menavigasi Triple Disruption: Jalan Kalimantan Barat Menjadi Lumbung Energi, Pangan, dan Karbon Nusantara Empat syarat kemajuan yang ia ajukan terdengar klasik bahkan terlalu normatif: peta jalan pembangunan yang benar, SDM unggul, stabilitas politik, dan kepemimpinan yang kuat. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Karena masalah Indonesia hari ini bukan kekurangan konsep, tetapi kegagalan konsistensi. Transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya alam menuju inovasi sudah lama didengungkan. Hilirisasi bukan barang baru. Digital economy, green economy , bahkan blue economy semuanya sudah menjadi jargon kebijakan. Tetapi mengapa kita masih tertinggal? Pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya ketika grafik GNI per kapita ditampilkan. Singapura melesat jauh. Jepang, Korea Selatan, bahkan Tiongkok telah menempatkan diri di kelas menengah atas atau tinggi. Indonesia? Masih bertahan di kisaran menengah bawah. Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal posisi. Dan lebih dalam lagi, ini soal arah. Dahuri tidak berhenti pada diagnosis. Ia memaparkan sepuluh masalah struktural pembangunan Indonesia dari pertumbuhan ekonomi yang stagnan di bawah 7 persen, hingga ketimpangan, pengangguran, dan fragmentasi sosial yang semakin terasa. Salah satu slide yang paling “jujur” bahkan menyebut fenomena #KaburAjaDulu generasi muda yang memilih mencari masa depan di luar negeri. Di titik ini, presentasi berubah menjadi refleksi sosial. Baca Juga: Ketika Peradaban Runtuh: Pelajaran Sunyi Surah Saba’ 1-54 untuk Generasi Digital Karena ketika anak muda kehilangan harapan, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan ekonomi, tetapi kepercayaan. Ada satu data yang terasa menampar: rata-rata upah nasional sekitar Rp3,09 juta, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu yang terendah. Ironisnya, justru sektor inilah yang menjadi basis terbesar ekonomi Indonesia. Kita hidup dari laut, tetapi mereka yang menjaga laut justru hidup di pinggir kesejahteraan. Inilah paradoks pembangunan: kaya sumber daya, miskin nilai tambah. Namun, seperti seorang ekonom yang telah lama berkutat dengan realitas Indonesia, Dahuri tidak terjebak pada pesimisme. Ia menawarkan satu jalan keluar yang sebenarnya tidak baru, tetapi sering diabaikan: blue economy. Ekonomi biru bukan sekadar konsep romantis tentang laut. Ia adalah pendekatan ekonomi sistemik yang menempatkan laut sebagai pusat produksi, distribusi, dan inovasi dengan prinsip keberlanjutan. Dalam kerangka ini, sektor agro-maritim menjadi kunci: perikanan tangkap, budidaya, kehutanan pesisir, hingga industri bioteknologi kelautan. Artinya, laut bukan lagi sektor, tetapi sistem. Yang menarik, Dahuri mengaitkan potensi ini dengan proyeksi yang cukup berani: pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai sekitar 10 persen per tahun jika seluruh potensi dikelola dengan baik. Apakah ini utopis? Mungkin. Tetapi bukan tidak mungkin. Karena Indonesia memang memiliki semua prasyarat: garis pantai terpanjang kedua di dunia, biodiversitas laut yang luar biasa, serta posisi geopolitik yang strategis. Masalahnya bukan pada potensi, tetapi pada eksekusi. Di sinilah relevansi quick wins ekonomi biru 2026–2030 menjadi penting. Bukan sekadar proyek jangka panjang, tetapi langkah konkret yang bisa langsung dirasakan dampaknya. Baca Juga: Ketika Dunia Menjadi LEGO: Propaganda, Emosi, dan Ilusi Keadilan Global Namun, seperti banyak kebijakan di Indonesia, tantangannya bukan pada desain, tetapi pada implementasi. Apakah birokrasi siap? Apakah regulasi mendukung? Apakah investasi akan masuk tanpa hambatan? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak muncul di slide, tetapi justru menentukan keberhasilan di lapangan. Yang paling menarik dari keseluruhan presentasi adalah satu kalimat sederhana di bagian akhir: jika ekonomi biru dikelola berbasis inovasi dan manajemen profesional, maka ia akan menjadi solusi bagi hampir seluruh permasalahan bangsa. Kalimat ini terdengar optimistis, bahkan terlalu optimistis. Namun jika kita membaca lebih dalam, ia sebenarnya bukan janji, melainkan peringatan. Bahwa tanpa perubahan paradigma, kita akan terus berputar dalam siklus yang sama: eksploitasi, ketimpangan, dan stagnasi. Ada satu hal yang sering luput dalam diskursus ekonomi kita: pembangunan bukan hanya soal angka, tetapi soal arah moral. Ketika Dahuri menekankan pentingnya SDM berakhlak, kepemimpinan yang jujur, dan sistem yang adil, ia sebenarnya sedang mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan nilai. Dan mungkin, di sinilah letak masalah terbesar kita hari ini. Kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, tetapi lupa membangun fondasi. Jika kita tarik lebih jauh, seluruh narasi ini mengarah pada satu kesimpulan: Indonesia tidak kekurangan jalan keluar. Kita hanya kekurangan keberanian untuk konsisten. Ekonomi biru, hilirisasi, penguatan SDM, reformasi kelembagaan semuanya sudah ada dalam peta. Yang belum ada adalah disiplin untuk menjalankannya secara berkelanjutan. Di akhir acara, layar kembali gelap. Presentasi selesai. Tepuk tangan terdengar. Namun pertanyaan yang tertinggal justru lebih penting dari seluruh slide yang ditampilkan: Apakah kita benar-benar siap menjadikan laut sebagai masa depan, atau hanya akan terus menjadikannya sebagai latar belakang? Karena pada akhirnya, laut tidak pernah salah. Ia selalu memberi. Yang sering salah adalah cara kita memahaminya. Dan mungkin, seperti yang diingatkan Dahuri tanpa perlu mengatakannya secara langsung: masa depan Indonesia bukan berada di luar sana. Ia sudah ada di depan mata di laut yang selama ini kita abaikan. Baca Juga: Ketika Dunia Menjadi LEGO: Propaganda, Emosi, dan Ilusi Keadilan Global Penulis: Gusti Hardiansyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar)  *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK