faktakalbar

Simak Penjelasan Ulama Soal Keutamaan Nisfu Syaban

Penulis: Redaksi Tuesday, 03 February 2026 📖 2 menit
Simak Penjelasan Ulama Soal Keutamaan Nisfu Syaban
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Diskusi mengenai status hukum dan keutamaan malam Nisfu Syaban kerap muncul di tengah masyarakat setiap tahunnya. Sebagian umat Islam menyambutnya dengan meriah melalui berbagai ritual ibadah, sementara sebagian lainnya memilih untuk tidak mengkhususkannya karena alasan kehati-hatian terhadap dalil. Malam Nisfu Syaban 1447 Hijriah jatuh pada malam ini, Senin (2/2/2026). Demi menjernihkan pemahaman, masyarakat perlu mengetahui duduk perkara mengenai hadis dan pendapat ulama terkait malam pertengahan bulan Syaban ini. Status Hadis Nisfu Syaban Perbedaan pendapat seringkali bermuara pada status hadis yang menjadi landasan. Para ulama ahli hadis memilah riwayat-riwayat tersebut menjadi tiga kategori: sahih (valid), dhaif (lemah), dan maudhu (palsu). Baca Juga:  Urutan Baca Yasin dan Niat Puasa Nisfu Syaban Salah satu hadis yang mendapat penilaian sahih atau setidaknya hasan oleh para muhaddits, termasuk Syekh Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah , adalah hadis dari Mu’adz bin Jabal. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan." Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa malam Nisfu Syaban memiliki keistimewaan (fadhilah) sebagai malam pengampunan umum, terlepas dari perdebatan mengenai tata cara ibadahnya. Batasan Antara Sunnah dan Bid'ah Lembaga fatwa dan ormas Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memiliki titik temu dalam memandang malam ini. Ulama sepakat bahwa menghidupkan malam hari dengan ibadah mutlak seperti sholat tahajud, membaca Al-Quran, dan berzikir adalah hal yang mulia dan dianjurkan (sunnah), kapan pun waktunya, termasuk di malam Nisfu Syaban. Namun, ulama memberikan catatan kritis terhadap sholat khusus yang bernama Sholat Alfiyyah atau Sholat Raghaib (sholat 100 rakaat) yang sempat populer di masa lalu. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menegaskan bahwa sholat dengan format khusus tersebut tidak memiliki dasar yang kuat (bid'ah) dan sebaiknya umat menghindarinya. Fokus pada Esensi Pengampunan Buya Yahya, Pengasuh LPD Al-Bahjah, dalam berbagai ceramahnya kerap menekankan agar umat Islam tidak terjebak pada perdebatan kulit, namun melupakan isi. Esensi dari hadis sahih Nisfu Syaban adalah perintah untuk menjauhi kemusyrikan dan permusuhan. Maka, amalan paling valid dan tak terbantahkan di malam ini adalah membersihkan hati. Baca Juga:  Fokus Transisi Pemulihan, Pemerintah Targetkan Warga Terdampak Tak Lagi Tinggal di Tenda Saat Puasa Umat Islam memanfaatkan momen ini untuk memutus rantai dendam, menyambung silaturahmi yang putus, dan memohon ampunan kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Dengan demikian, mengisi malam Nisfu Syaban dengan amal saleh adalah tindakan positif, selama pelaksanaannya tidak meyakini tata cara khusus yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW. (*Sr)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK