Simak Penjelasan Ulama Soal Keutamaan Nisfu Syaban
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Diskusi mengenai status hukum dan keutamaan malam
Nisfu Syaban
kerap muncul di tengah masyarakat setiap tahunnya. Sebagian umat Islam menyambutnya dengan meriah melalui berbagai ritual ibadah, sementara sebagian lainnya memilih untuk tidak mengkhususkannya karena alasan kehati-hatian terhadap dalil.
Malam Nisfu Syaban 1447
Hijriah
jatuh pada malam ini, Senin (2/2/2026). Demi menjernihkan pemahaman, masyarakat perlu mengetahui duduk perkara mengenai hadis dan pendapat ulama terkait malam pertengahan bulan
Syaban
ini.
Status Hadis Nisfu Syaban
Perbedaan pendapat seringkali bermuara pada status hadis yang menjadi landasan. Para ulama ahli hadis memilah riwayat-riwayat tersebut menjadi tiga kategori:
sahih
(valid),
dhaif
(lemah), dan
maudhu
(palsu).
Baca Juga:
Urutan Baca Yasin dan Niat Puasa Nisfu Syaban
Salah satu hadis yang mendapat penilaian
sahih
atau setidaknya
hasan
oleh para muhaddits, termasuk Syekh Nashiruddin Al-Albani dalam
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah
, adalah hadis dari Mu’adz bin Jabal. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan."
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa malam Nisfu Syaban memiliki keistimewaan (fadhilah) sebagai malam pengampunan umum, terlepas dari perdebatan mengenai tata cara ibadahnya.
Batasan Antara Sunnah dan Bid'ah
Lembaga fatwa dan ormas Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memiliki titik temu dalam memandang malam ini.
Ulama sepakat bahwa menghidupkan malam hari dengan ibadah mutlak seperti sholat tahajud, membaca Al-Quran, dan berzikir adalah hal yang mulia dan dianjurkan (sunnah), kapan pun waktunya, termasuk di malam Nisfu Syaban.
Namun, ulama memberikan catatan kritis terhadap sholat khusus yang bernama Sholat Alfiyyah atau Sholat Raghaib (sholat 100 rakaat) yang sempat populer di masa lalu.
Imam An-Nawawi dalam
Al-Majmu'
menegaskan bahwa sholat dengan format khusus tersebut tidak memiliki dasar yang kuat (bid'ah) dan sebaiknya umat menghindarinya.
Fokus pada Esensi Pengampunan
Buya Yahya, Pengasuh LPD Al-Bahjah, dalam berbagai ceramahnya kerap menekankan agar umat Islam tidak terjebak pada perdebatan kulit, namun melupakan isi.
Esensi dari hadis sahih Nisfu Syaban adalah perintah untuk menjauhi kemusyrikan dan permusuhan.
Maka, amalan paling valid dan tak terbantahkan di malam ini adalah membersihkan hati.
Baca Juga:
Fokus Transisi Pemulihan, Pemerintah Targetkan Warga Terdampak Tak Lagi Tinggal di Tenda Saat Puasa
Umat Islam memanfaatkan momen ini untuk memutus rantai dendam, menyambung silaturahmi yang putus, dan memohon ampunan kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Dengan demikian, mengisi malam Nisfu Syaban dengan amal saleh adalah tindakan positif, selama pelaksanaannya tidak meyakini tata cara khusus yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW.
(*Sr)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.