Kiamat Work-Life Balance, AI Bakal Jadi Bos Galak
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Perkembangan
teknologi
digital yang sangat
pesat
kini membuat kelas pekerja semakin sulit menjalani konsep
work-life balance
atau keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan
pribadi
.
Jaringan internet yang menghubungkan manusia modern selama dua puluh empat jam penuh memampukan para petinggi kantor mengakses interaksi dengan karyawan kapan pun dan di mana pun.
Meskipun konsep fleksibilitas waktu kerja seakan meringankan beban, nyatanya hal tersebut justru memberikan beban emosional kerja tanpa batasan waktu yang jelas bagi para pegawai kantoran.
Baca Juga:
Sisi Gelap Bekerja di Media yang Jarang Diketahui: Work Life Balance Akan Direnggut Paksa
Tekanan Mental di Tengah Gempuran Media Sosial
Perubahan total lanskap bisnis akibat perkembangan media sosial memaksa kelas pekerja untuk selalu beradaptasi dengan inovasi teknologi terbaru secara cepat.
Para karyawan kini selalu merasa waswas jika suatu saat teknologi baru seperti kecerdasan buatan atau
Artificial Intelligence
(AI) menggantikan relevansi posisi mereka.
Perusahaan terus menuntut produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan yang tinggi, namun mereka sering kali mengesampingkan kesehatan mental maupun fisik para pekerjanya.
AI Diramal Akan Melakukan Micromanaging Secara Ekstrem
CEO Nvidia, Jensen Huang, meramalkan bahwa masa depan dunia kerja akan jauh lebih berat ketika teknologi AI benar-benar mendominasi.
Teknologi tersebut diprediksi akan berubah fungsi layaknya seorang bos dengan sifat
micromanaging
yang sangat mengganggu.
Huang menjelaskan bahwa agen AI akan terus-menerus mengelola karyawan secara mikro dan membuat pegawai jauh lebih sibuk daripada sebelumnya karena teknologi tersebut akan menempel sepanjang waktu.
Baca Juga:
Inspirasi Literasi, 5 Bukti Semangat Kartini Terus Hidup dalam Jiwa Jurnalis Perempuan
Ledakan Lapangan Kerja di Akhir Revolusi Industri
Meskipun memberikan tekanan yang lebih tinggi, Jensen Huang mencatat bahwa kehadiran AI juga akan membawa dampak positif bagi efisiensi kerja karena manusia bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam waktu singkat.
Huang menegaskan bahwa perusahaan yang memiliki pandangan visioner justru akan membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia dengan kehadiran AI.
Ia memprediksi bahwa jumlah orang yang bekerja di akhir revolusi industri ini akan jauh lebih banyak daripada saat awal kemunculannya.
(*Sr)
Tag:
#revolusi industri
#dunia kerja masa depan
#jensen huang
#kesehatan mental pekerja
#Nvidia
#Work-Life Balance
#produktivitas kerja
#teknologi AI
#micromanaging
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.