Lulus "Sekolah Hutan", Badul, Korwas, dan Asoka Akhirnya Pulang ke Rimba Bukit Baka Bukit Raya
Faktakalbar.id, MELAWI –
Tiga individu orangutan Kalimantan (
Pongo pygmaeus
) bernama Badul, Korwas, dan Asoka, akhirnya merasakan kembali kebebasan di habitat aslinya.
Setelah menjalani proses rehabilitasi panjang, ketiganya dilepasliarkan oleh tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (
BKSDA
) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (
BTNBBBR
), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (
YIARI
) di kawasan Resort Mentatai, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Selasa (16/12/2025).
Baca Juga:
Kisah Pilu Randy: Bayi Orangutan Malnutrisi yang Diselamatkan dari Lokasi PETI
Perjalanan menuju kebebasan ini tidaklah mudah.
Tim harus menempuh perjalanan darat, menyusuri sungai, hingga
trekking
menembus hutan selama total tiga hari dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang. Kawasan TNBBBR dipilih karena kondisi hutannya yang masih prima dan minim aktivitas manusia.
Kisah Pilu Berakhir Haru
Masing-masing orangutan membawa kisah masa lalu yang memilukan sebelum diselamatkan.
Badul:
Orangutan jantan ini pernah menjadi tontonan di taman hiburan Sinka Island Park, Singkawang, dengan kondisi kandang yang tidak layak. Selama delapan tahun di YIARI, Badul belajar kembali cara hidup liar hingga berat badannya naik empat kali lipat.
Korwas:
Betina korban perdagangan satwa
online
ini datang dengan kondisi kulit penuh infeksi jamur. Kini, ia telah pulih dan memiliki insting liar yang kuat untuk menjauhi manusia.
Asoka:
Diselamatkan dari pemeliharaan warga yang memberinya susu kental manis, Asoka butuh waktu sepuluh tahun untuk belajar memanjat dan membuat sarang secara mandiri.
Transparansi Konservasi
Direktur Program Operasional YIARI, Argitoe Ranting, menyambut baik keterbukaan informasi dalam kegiatan ini.
Baca Juga:
BKSDA-YIARI Berhasil Translokasi Induk dan Anak Orangutan yang Masuk Perkebunan Warga
Menurutnya, publikasi kegiatan konservasi penting untuk edukasi dan transparansi, setelah sempat mengalami pembatasan di tahun-tahun sebelumnya yang justru menghambat penanganan konflik satwa di lapangan.
Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, berharap ketiga orangutan ini dapat berkembang biak dan menambah populasi di alam liar.
Hal senada disampaikan Kepala Balai TNBBBR, Persada Agussetia Sitepu, yang menegaskan komitmen pengawasan pasca-pelepasliaran untuk memastikan adaptasi mereka berjalan lancar.
(ra)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.