faktakalbar

Dugaan Investasi Bodong WPONE Landak, Korban Ungkap Skema Penipuan

Penulis: Redaksi Monday, 24 March 2025 📖 3 menit
Dugaan Investasi Bodong WPONE Landak, Korban Ungkap Skema Penipuan
Faktakalbar.id, LANDAK – Skandal dugaan investasi bodong World Pay One ( WPONE ) semakin menyeruak setelah salah satu korban, Rasmalida Hasibwari, memberikan kesaksian terkait modus operandi yang digunakan para leader dan mentor dalam skema ini. Dalam keterangannya, Rasmalida mengungkapkan bagaimana dirinya dan anggota di bawahnya mengalami kesulitan menarik dana yang telah mereka investasikan. Baca juga:  Jelang Lebaran, Polsek Sengah Temila Landak Ingatkan Warga Waspada Kejahatan "Nama saya Rasmalida Hasibwari. Saya tinggal di Park 6, Kilometer 6. Masih tetangganya Pak Rasulius, " ujarnya dikutip dari Tiktok Landak Pusat Informasi. Sebagai salah satu korban, Rasmalida mengaku memiliki sekitar 50 anggota di bawahnya yang juga terjebak dalam investasi ini. Ia menjelaskan bahwa skema WPONE mengharuskan anggota untuk merekrut orang lain guna mendapatkan bonus, yang disebut sebagai "bonus normal." "Kalau naik bonus, saya enggak pernah. Bonus normal udah keluar 1 juta. Bonus normal itu, di bawah kita tuh, harus menjual 10 orang. Satu orang dihargai 100 ribu. Itu cash ya? Cash," ungkapnya. Baca juga:  Jaksa Kejari Landak Ditangkap, Diduga Tilap Aset Sitaan Robot Trading Senilai Rp23,2 Miliar Namun, Rasmalida kemudian menyadari adanya kejanggalan dalam sistem pencairan dana. Uang yang seharusnya bisa ditarik justru tertahan dengan berbagai alasan yang terus berubah-ubah. "Saya sudah klaim sampai saat ini tidak keluar-keluar duitnya 1 juta. Nah, satu orangnya dia pertama tolak 8 juta. Abis itu 3 juta. Abis itu 10 juta. Satu orangnya. Itu pas di bawah saya," tambahnya. Sebagai mentor dan leader, Rasmalida merasa bertanggung jawab atas orang-orang yang telah ia ajak bergabung. Namun, ia juga menjadi korban karena dana miliknya ikut tersangkut. Baca juga:  Pemprov Kalbar Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Landak "Karena saya termasuk mentor mereka, leader mereka, walaupun mereka enggak terlalu di mana dengan saya, saya tetap merasa bertanggung jawab karena mereka di bawah saya. Mereka pun saya daftarkan juga melalui saya. Terus namanya tuh kayak mereka gini mau narik uang yang tersangkutkan mereka laporkan saya juga," jelasnya. Kejanggalan semakin terlihat saat para investor berupaya menarik dana pada pertengahan Maret 2025, namun selalu tertunda dengan alasan adanya proses IPO (Initial Public Offering). Baca juga:  Satgas Pangan Polres Ketapang Cek Stok, Harga, dan Takaran Minyakita di Pasar dan Distributor "Karena waktu itu kan pada saat tanggal 20 Februari sampai 14 Maret katanya ada IPO. IPO tuh kayak apa tuh? Peninjauan kayak mau audi. Audi IPO. Jadi percaya lah tanggal 14 saat ini selesai. Abis itu dia bilang boleh narik tanggal 17 Maret. Disitulah mereka berbondong-bondong tarik 17 Maret," paparnya. Namun, harapan untuk menarik uang pupus saat dana yang dijanjikan tak kunjung cair. "Ternyata di tanggal 17 Maret berlindung narik. 18 Maret enggak keluar. Lalu ada info dari Ibu Yika Monika bahwa harus melakukan verifikasi akun dengan 50 dolar. 50 dolar itu sama dengan 800 ribu," lanjutnya. Para korban pun mencoba berbagai cara untuk membuka akses dana mereka, termasuk melakukan verifikasi akun dengan jumlah besar. "Jadi kami kan gak mungkin verifikasi akun dengan yang 500-500 ribu kan. Kami coba 3 akun besar yang total asetnya ke dalam tuh lebih dari 100 juta. Kondisinya terkunci. Terkunci," ungkap Rasmalida. Kasus ini semakin memperkuat dugaan bahwa WPONE merupakan investasi bodong yang didesain untuk menipu masyarakat. Hingga kini, para korban masih berharap agar uang mereka bisa dikembalikan, sementara pihak kepolisian terus melakukan penyelidikan terhadap para leader dan mentor yang terlibat dalam skema ini. Hingga berita ini diturunkan, FaktaKalbar.id belum bisa menghubungi pihak WPONE. (amb)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK