Lagi Banyak Pikiran Bawaannya Pengen Ngunyah? Ini 4 Alasan Ilmiahnya
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Pernahkah Anda menyadari sebuah pola unik? Saat sedang dikejar
deadline
pekerjaan yang menumpuk atau belajar keras untuk ujian, tangan Anda seolah bergerak otomatis mencari keripik, cokelat, atau gorengan.
Padahal, Anda baru saja makan besar.
Fenomena ini sering disebut sebagai
stress eating
atau
emotional eating
.
Rasanya mulut "gatal" ingin mengunyah sesuatu saat otak sedang ngebul.
Baca Juga:
Awas Dehidrasi! Hindari 4 Makanan Ini Saat Cuaca Sedang Panas Ekstrem
Tenang, Anda tidak sendirian dan ini bukan sekadar masalah rakus.
Ternyata, ada mekanisme biologis dan psikologis yang memicu hal tersebut.
Berikut adalah 4 alasan ilmiah kenapa saat banyak berpikir kita bawaannya ingin ngemil terus.
1. Otak Sedang "Memeras" Glukosa
Meskipun berat otak hanya sekitar 2% dari total berat tubuh, organ ini adalah konsumen energi paling boros.
Otak mengonsumsi sekitar 20% dari total kalori harian tubuh.
Saat Anda berpikir keras (kerja kognitif yang intens), neuron-neuron di otak bekerja ekstra dan membakar glukosa (gula darah) dengan cepat.
Akibatnya, otak mengirim sinyal "darurat" ke tubuh bahwa bahan bakar menipis.
Sinyal inilah yang diterjemahkan tubuh sebagai rasa lapar atau keinginan (craving) terhadap makanan manis dan berkarbohidrat agar kadar gula darah cepat naik kembali.
2. Lonjakan Hormon Kortisol (Hormon Stres)
Banyak pikiran biasanya satu paket dengan stres.
Saat Anda tertekan, tubuh melepaskan hormon kortisol.
Masalahnya, tingginya kadar kortisol dalam darah memicu nafsu makan, khususnya terhadap makanan yang tinggi lemak dan gula (
comfort food
).
Tubuh secara naluriah berpikir Anda sedang dalam bahaya dan butuh menimbun energi.
Inilah kenapa saat stres, salad buah terlihat tidak menarik, tapi martabak manis atau keripik asin terlihat sangat menggoda.
3. Mencari Suntikan Dopamin Instan
Berpikir keras, memecahkan masalah, atau menghadapi tekanan adalah aktivitas yang melelahkan secara mental dan sering kali membuat
bad mood
.
Secara tidak sadar, otak Anda mencari cara untuk merasa lebih baik (
self-soothing
).
Makanan enak adalah cara termudah untuk memicu pelepasan dopamine hormon kebahagiaan di otak.
Jadi, kegiatan ngemil saat kerja itu sebenarnya adalah upaya otak Anda untuk mendapatkan "hadiah" atau hiburan instan di tengah situasi yang tidak nyaman.
4. Ngunyah Sebagai Pengalihan (Distraksi Mekanis)
Terkadang, rasa ingin ngemil itu bukan karena lapar fisik, tapi lapar psikologis.
Gerakan mengunyah yang ritmis ternyata memiliki efek menenangkan bagi sebagian orang.
Selain itu, ngemil sering kali menjadi bentuk prokrastinasi (penundaan) terselubung.
Saat Anda buntu memikirkan ide, pergi ke dapur untuk mengambil camilan adalah alasan yang "sah" untuk istirahat sejenak dari tugas yang menyebalkan tersebut.
Makanan menjadi jeda istirahat yang dicari-cari oleh otak Anda.
Ingin ngemil saat banyak pikiran adalah respons tubuh yang wajar.
Namun, jika dituruti terus-menerus tanpa kontrol, ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan berat badan.
Cobalah
siasati
dengan mengganti camilan tinggi kalori dengan opsi yang lebih sehat seperti potongan buah, kacang-kacangan, atau cukup minum air putih, karena sering kali otak salah mengartikan rasa haus sebagai rasa lapar.
Baca Juga:
Hobi Ngemil Es Batu? Hati-hati, Ini 4 Dampak Buruknya bagi Kesehatan Gigi dan Tubuh
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.