Lari Lambat Ternyata Wajib Bagi Pelari Pemula
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Banyak masyarakat yang baru menekuni olahraga lari merasa rendah diri karena kecepatan larinya rendah. Mereka sering membandingkan diri dengan pelari lain yang mampu menempuh jarak jauh dalam waktu singkat.
Padahal, dokter spesialis kedokteran olahraga justru mewajibkan pemula untuk berlari lambat demi keselamatan
jantung
dan
otot.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Listya Tresnanti Mirtha, menekankan bahwa lari merupakan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi. Ia mengingatkan para pemula untuk tidak terburu-buru meningkatkan kecepatan sebelum tubuh memiliki fondasi kebugaran yang kuat.
Baca Juga:
Kalahkan Rasa Malas! Ini Tips Mengatasi Rasa Malas Berolahraga di Akhir Pekan Menurut Pakar
Dokter Listya menjelaskan bahwa tubuh manusia memerlukan proses adaptasi fisiologis. Memaksakan intensitas tinggi secara tiba-tiba dapat memicu risiko cedera serius. Oleh karena itu, ia memberikan panduan utama bagi siapa pun yang baru mulai berlari.
"Prinsipnya
start low, go slow
," tegas dr. Listya, Senin (26/1/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelari harus memulai latihan dari intensitas rendah dan melakukannya secara perlahan. Cara ini memberi waktu bagi organ vital dan persendian untuk menyesuaikan diri dengan beban baru yang mereka terima.
Pentingnya
Komunitas
yang Mendukung
Aspek psikologis juga memegang peran penting dalam menjaga konsistensi olahraga. Seorang pelari rekreasi, Nicea (29), membagikan pengalaman pribadinya mengenai masa-masa awal ia bergabung dengan komunitas lari. Ia sempat merasa khawatir akan tertinggal karena kemampuannya yang masih terbatas.
Baca Juga:
Lari Jadi Konsisten: 5 Tips Ampuh untuk Pemula dari Asics, Jangan Sampai FOMO Saja
"Awalnya mikir bakal ditinggal nggak ya, ternyata
nggak
, di sini sangat
welcome
dan inklusif," ungkap Nicea, Senin (26/1/2026).
Pengalaman Nicea membuktikan bahwa komunitas lari yang sehat tidak menjadikan kecepatan sebagai tolak ukur utama. Hal ini membuat para pemula tetap percaya diri untuk berolahraga demi kesehatan tanpa harus merasa tertekan oleh standar kecepatan orang lain.
(*Sr)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.