faktakalbar

Lawan Aturan Hilirisasi: Ekspor Sarang Walet Kotor Masih Terjadi, Barantin Sita 950 Kg

Penulis: Redaksi Friday, 14 November 2025 📖 2 menit
Lawan Aturan Hilirisasi: Ekspor Sarang Walet Kotor Masih Terjadi, Barantin Sita 950 Kg
Faktakalbar.id, NASIONAL - Indonesia merupakan eksportir sarang burung walet (SBW) terbesar di dunia. Meskipun demikian, praktik ilegal pengiriman SBW yang belum melalui proses pembersihan (walet kotor) masih terjadi. Larangan ini sebenarnya sudah tertuang jelas dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Tahun 2020 . Regulasi ini mengatur Tindakan Karantina Hewan Terhadap Pemasukan Atau Pengeluaran Sarang Burung Walet. Kepala Biro Hukum dan Humas Barantin, Hudiansyah Is Nursal , mengonfirmasi maraknya pelanggaran ini. "Nah memang yang jadi permasalahan saat ini adalah, ada pihak-pihak ya, saya nggak bisa bilang ini yang masih mengirimkan Ekspor Walet Kotor Kalbar. Nah ini yang sebenarnya sudah dilarang melalui Permentan 26 tahun 2020," ujarnya kepada awak media, di PIK, Tangerang, Rabu (12/11/2025). Nursal menegaskan bahwa beleid tersebut sudah mengatur terkait pengiriman SBW yang telah melalui proses pembersihan wajib dilakukan di dalam negeri. Sayangnya, praktik ini terjadi karena masih ada negara tujuan yang menerima Ekspor Walet Kotor Kalbar. Baca Juga:   Penjaga Rumah Walet Ditemukan Meninggal di Kendawangan, 3 Tahun Menetap Atas Dasar Kemanusiaan Meskipun demikian, Indonesia menegaskan tetap akan berpegang pada prinsip kedaulatan regulasi dalam negeri. "Nah jadi masalah adalah di negara lain, dia menerima saja yang kotor. Kita yang menyarankan bersih. Maka dari itu kita berdasarkan asas dan undang-undang kita asas kedaulatan, kita nggak bisa diatur oleh negara lain kan," tegasnya. Mendukung Hilirisasi Sarang Burung Walet dan Penyerapan Tenaga Kerja Tindakan nekat ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merugikan potensi nilai tambah ekonomi Indonesia. Dalam penindakan terbaru, Barantin menemukan SBW kotor sebanyak 950 kilogram. Kebijakan larangan ini diterapkan bukan tanpa alasan. Direktur Tindakan Karantina Hewan, Cicik Sri Sukarsih, menambahkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto . Tujuannya adalah mendorong Hilirisasi Sarang Burung Walet dan peningkatan nilai devisa. "Selain nilai devisanya itu kan lebih rendah kalau kotor, arahan Bapak Presiden hilirisasi agar meningkatkan nilai devisa. Selain itu sarang burung walet kotor kalau dilakukan pencucian di Indonesia maka itu bisa menyerap tenaga kerja," kata Cicik. Artinya, pembersihan SBW di dalam negeri menciptakan lapangan kerja. Hal ini juga meningkatkan harga jual produk akhir, karena SBW bersih memiliki nilai ekspor yang jauh lebih tinggi. Praktik Ekspor Walet Kotor Kalbar justru menghambat program Hilirisasi Sarang Burung Walet yang menjadi fokus pemerintah saat ini. (Ra)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK