Liberika di Malam Ramadhan dan Bayang-Bayang Perang Dunia
OPINI -
Malam Ramadhan ke-25. Senja turun perlahan di khatulistiwa. Di meja kecil, secangkir kopi
liberika
dari tanah gambut Kalimantan Barat mengepul pelan. Aromanya pekat, pahit, tetapi hangat. Dalam jeda sebelum azan maghrib, saya membuka sebuah diskusi
geopolitik
yang sedang ramai di berbagai kanal digital dunia.
Di layar muncul dua nama akademisi yang tidak asing dalam percakapan global:
Prof. Jiang Xueqin,
analis geopolitik dari Kanada yang dikenal melalui pendekatan sejarah dan game theory, serta Prof. Jeffrey Sachs, ekonom dan profesor kebijakan publik dari
Columbia University
yang selama bertahun-tahun menjadi pengkritik tajam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Baca Juga:
Mojtaba Khamenei Anak Ali Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Topik yang mereka bahas sederhana tetapi menggetarkan: konflik
Amerika Serikat
, Israel, dan Iran.
Keduanya, meski datang dari disiplin berbeda, sampai pada satu kesimpulan yang mirip: dunia sedang bergerak menuju fase ketegangan geopolitik yang semakin berbahaya—dan banyak pengambil keputusan di Barat kemungkinan meremehkan kapasitas Iran.
Prof. Jiang
melihat konflik ini dari sudut sejarah kekuatan besar. Dalam berbagai ceramahnya ia menegaskan bahwa Iran bukan negara kecil yang bisa ditaklukkan dengan cepat seperti Irak pada 2003. Iran memiliki wilayah luas, populasi besar, serta strategi militer asimetris yang dibangun selama puluhan tahun sejak Revolusi 1979.
Menurut Jiang, Iran mungkin tidak mampu mengalahkan Amerika secara konvensional. Namun Iran memiliki kemampuan lain yang sering diabaikan: membuat perang menjadi panjang, mahal, dan melelahkan bagi lawannya.
Ia menyebut situasi ini sebagai strategic trap—perang yang mungkin dimenangkan secara militer, tetapi kalah secara politik dan ekonomi.
Sejarah memberi contoh yang tidak sedikit. Vietnam pernah menjadi jebakan bagi Amerika. Afghanistan pernah menjadi kuburan ambisi militer Uni Soviet. Dalam banyak kasus, kekuatan besar tidak runtuh karena kalah dalam pertempuran, melainkan karena tidak mampu menanggung biaya perang yang terlalu lama.
Baca Juga:
Iran vs Israel-Amerika Saling Menghancurkan Kilang Minyak, Siap-siap BBM Naik
Sementara itu Prof. Jeffrey Sachs melihat persoalan ini dari perspektif ekonomi politik global. Dalam banyak wawancara internasional, Sachs berulang kali mengingatkan bahwa konflik Timur Tengah tidak dapat dipahami hanya sebagai pertarungan militer. Ia adalah hasil dari kegagalan diplomasi global selama puluhan tahun.
Menurut Sachs, kebijakan intervensi militer yang berulang justru sering memperpanjang konflik, bukan menyelesaikannya. Dalam konteks Iran, pendekatan konfrontatif Amerika dan Israel berpotensi memicu eskalasi yang dampaknya jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Di sinilah Sachs mengingatkan bahwa dunia hari ini tidak lagi hidup dalam sistem unipolar seperti setelah Perang Cold. Kita sedang bergerak menuju dunia multipolar, di mana Amerika, China, dan Rusia memainkan peran strategis masing-masing.
Konflik regional, dalam situasi seperti ini, sering berubah menjadi medan tarik-menarik kekuatan besar.
Dari analisis dua profesor ini, satu hal menjadi jelas: jika perang besar benar-benar pecah di Timur Tengah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan itu. Dunia akan merasakan getarannya.
Selat Hormuz, misalnya, adalah jalur yang mengalirkan hampir seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan kecil saja di kawasan itu dapat membuat harga energi melonjak dan memicu inflasi global. Dalam ekonomi yang saling terhubung seperti sekarang, konflik regional dapat berubah menjadi krisis ekonomi dunia.
Namun di tengah analisis geopolitik yang begitu besar, muncul pertanyaan sederhana: di mana Indonesia seharusnya berpijak?
Pembukaan UUD 1945 sebenarnya telah memberikan arah yang sangat jelas. Politik luar negeri Indonesia dirancang untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Artinya Indonesia tidak boleh larut dalam logika blok kekuatan besar. Kita bukan bagian dari NATO, bukan pula bagian dari aliansi militer Timur. Posisi terbaik Indonesia adalah tetap konsisten pada prinsip bebas dan aktif—menjaga jarak dari konflik, tetapi aktif memperjuangkan perdamaian.
Namun refleksi Ramadhan malam ini juga membawa kita pada pertanyaan yang lebih jujur: apakah bangsa ini terlalu sibuk memperhatikan konflik dunia, sementara pekerjaan rumah di dalam negeri masih menumpuk?
Di warung kopi, masyarakat sering berbicara lebih sederhana tetapi lebih tajam daripada para analis geopolitik. Mereka tidak berbicara tentang strategi militer Iran atau teori hubungan internasional. Mereka berbicara tentang harga energi, lapangan kerja, dan keadilan hukum.
Ketahanan energi Indonesia, misalnya, masih menjadi pekerjaan besar. Negara dengan sumber daya alam melimpah ini masih bergantung pada impor energi. Di tengah dunia yang semakin tidak stabil, ketergantungan seperti ini menjadi kerentanan strategis yang tidak boleh dianggap remeh.
Program pembangunan sosial tentu penting. Program makan bergizi, peningkatan kesehatan masyarakat, dan penguatan pendidikan adalah investasi masa depan bangsa. Tetapi masyarakat juga menuntut sesuatu yang sama pentingnya: pemerintahan yang bersih dan hukum yang dipercaya rakyat.
Kasus-kasus korupsi yang muncul di berbagai sektor—dari bea cukai hingga lembaga penegak hukum—sering membuat publik bertanya: apakah reformasi birokrasi benar-benar berjalan?
Di ruang publik, berbagai polemik politik lama pun belum sepenuhnya reda. Salah satunya adalah kontroversi mengenai keabsahan dokumen pendidikan mantan Presiden Joko Widodo yang terus bergulir dalam gugatan, bantahan, dan perdebatan publik. Pada saat yang sama, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga tidak lepas dari sorotan terkait riwayat dokumen pendidikan dan penyetaraan yang dipersoalkan oleh sebagian pihak.
Dalam negara demokrasi, perkara seperti ini semestinya tidak dibiarkan menjadi kabut berkepanjangan. Jalan keluarnya bukan propaganda dan bukan pula pembungkaman, melainkan transparansi yang tuntas dan penjelasan yang terbuka.
Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh posisi diplomatik di panggung dunia, tetapi oleh kepercayaan rakyat terhadap negara.
Azan maghrib akhirnya berkumandang. Saya menyeruput sisa kopi liberika yang mulai dingin.
Di tengah diskusi geopolitik para profesor dunia, satu pesan terasa semakin jelas: sebelum terlalu jauh berbicara tentang perang dunia, bangsa ini masih memiliki pekerjaan besar untuk menata rumahnya sendiri.
Dan mungkin, seperti yang diajarkan Ramadhan, perbaikan besar selalu dimulai dari kejujuran kepada diri sendiri.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.