Limbah Tambang Kepung Teluk Gorontalo, Ikon Wisata Hiu Paus Botubarani Terancam Musnah
Faktakalbar.id, NASIONAL
– Keberadaan ikon pariwisata kelas dunia, Hiu Paus di perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, kini berada di ujung tanduk.
Aktivitas pertambangan batuan yang
masif
di area perbukitan sekitar dinilai menjadi ancaman serius bagi kelestarian kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo tersebut.
Alih-alih air jernih yang menjadi habitat nyaman bagi raksasa laut yang ramah tersebut, kini ancaman sedimentasi lumpur dan material tambang menghantui pesisir.
Banjir Lumpur Usir Hiu Paus
Baca Juga:
Jaga Penyu, Jaga Ekonomi: Pokdarwis Tanjung Api Harap Konservasi Sejahterakan Warga
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Hiu Paus Botubarani, Abdul Wahab Matoka, menjadi saksi hidup bagaimana aktivitas ekstraktif di hulu membawa petaka di hilir.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2024 lalu, material longsor berupa batu, lumpur, dan kayu dari area tambang menerjang langsung ke lokasi wisata.
"Saya menyaksikan sendiri, berada di lokasi saat banjir yang membawa batuan, kayu dan lumpur menghantam wisata hiu paus," ungkap Abdul Wahab, Selasa (25/11/2025)
3
.
Dampaknya sangat fatal.
Fasilitas pos wisata hancur diterjang
material
.
Lebih parah lagi, kondisi air yang keruh dan tercemar membuat Hiu Paus menghilang dari perairan tersebut.
"Sekitar sepekan setelah banjir, hiu paus tidak muncul," keluhnya.
Hilangnya Hiu Paus berarti matinya nadi ekonomi warga.
Nelayan dan pelaku wisata terpaksa menganggur, kehilangan pendapatan harian, dan harus berjibaku membersihkan sisa-sisa limbah alam yang dipicu ulah manusia tersebut.
Fakta Ilmiah: Sungai Tercemar Sedimentasi
Keresahan warga diperkuat oleh temuan ilmiah.
Ketua tim peneliti, Raghel Yunginger, dalam paparan kajiannya kepada Bapppeda Provinsi Gorontalo membeberkan fakta bahwa tambang batuan di sisi atas desa memberikan dampak lingkungan yang nyata.
Kajian tersebut mencatat sekitar 1,7 kilometer aliran sungai telah terdampak sedimentasi akibat aktivitas pembukaan lahan tambang.
Sebagian besar segmen sungai yang tertutup endapan berada hanya berjarak 100 meter dari titik bukaan lahan utama.
"Tebing dengan pelapukan batuan yang menghasilkan material lepas, tidak kompak (
unconsolidated
), dan ini dapat memicu gerakan tanah saat curah hujan dan mudah terbawa aliran air hujan," jelas Raghel.
Meski pertambangan diklaim memberikan manfaat ekonomi sesaat, namun kerusakan ekologis yang ditimbulkan berpotensi mematikan sektor pariwisata berkelanjutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat Botubarani dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Strategi Investasi Emas yang Tepat Saat Harga Melonjak: Jangan FOMO dan Terapkan Cost Averaging
(*Mira)
Tag:
#Tambang Ilegal
#kerusakan lingkungan
#Hiu Paus Gorontalo
#Konservasi Teluk Gorontalo
#Botubarani
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.