Lirik .Feast Jadi Nyata? 5 Refleksi Pahit 'Tarian Penghancur Raya' di Balik Bencana Sumatera Utara
Faktakalbar.id, LIFESTYLE
–
"Kita menari di atas bangkai..."
Penggalan lirik dari lagu
Tarian Penghancur Raya
milik grup musik rock .Feast seolah kembali terngiang kencang di telinga kita.
Lagu yang dirilis beberapa tahun silam ini bukan sekadar musik keras penghentak telinga, melainkan sebuah "
ramalan
" sosiologis tentang hubungan manusia dan alam yang kian retak.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang baru-baru ini
meluluhlantakkan
wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya seakan menjadi videoklip nyata dari lagu tersebut.
Kerusakan ekologis, alih fungsi lahan, hingga ketidakpedulian kolektif menjadi benang merah yang menghubungkan karya seni ini dengan tragedi di lapangan.
Baca Juga:
Alarm Bahaya Deforestasi di Balik Duka 34 Warga Sumut yang Gugur, 52 Dinyatakan Hilang Dihantam Bencana
Berikut adalah 5 kaitan menohok antara pesan dalam lagu
Tarian Penghancur Raya
dengan realitas bencana ekologis di Sumatera Utara:
1. Kritik Terhadap Eksploitasi Alam yang Masif
Dalam
Tarian Penghancur Raya
, .Feast menyindir keras kerakusan manusia yang terus mengeruk bumi demi keuntungan semata.
Hal ini tercermin nyata di Sumatera Utara. Bencana banjir bandang sering kali dipicu oleh pembabatan hutan di wilayah hulu.
Hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan air berubah fungsi menjadi perkebunan monokultur atau area tambang.
Ketika hujan ekstrem turun, tanah yang "telanjang" tak mampu lagi menahan air, mengirimkan lumpur dan bahaya ke pemukiman warga di hilir.
2. "Menari di Atas Bangkai" dan Ketimpangan Nasib
Lirik ikonik
"Kita menari di atas bangkai"
menggambarkan ironi di mana sebagian pihak berpesta pora (meraup untung dari eksploitasi alam), sementara rakyat kecil menjadi korban (bangkai).
Dalam konteks bencana Sumut, realitas ini terasa perih.
Para pelaku perusakan lingkungan baik penebang liar maupun korporasi nakal sering kali hidup aman dan jauh dari lokasi bencana.
Sementara itu, warga desa yang menjaga alam justru yang harus kehilangan rumah, harta benda, bahkan nyawa akibat ulah pihak lain.
3. Normalisasi Bencana (Budaya Denial)
Lagu ini juga menyoroti bagaimana masyarakat sering kali abai atau melakukan
denial
(penyangkalan) terhadap kerusakan yang terjadi.
Kita sering menganggap banjir adalah "takdir tahunan" atau sekadar "faktor cuaca".
Padahal, frekuensi bencana di Sumatera yang makin sering dan makin parah adalah indikator kerusakan struktural.
Kita seolah diajak "menari" dalam ketidaktahuan, padahal kehancuran raya sedang berlangsung di depan mata akibat ketidakmampuan kita menjaga keseimbangan ekologis.
4. Hilangnya Kearifan Lokal
Musik
Tarian Penghancur Raya
memasukkan unsur gamelan dan nuansa etnik yang seolah "dirusak" oleh distorsi kasar, menyimbolkan tergerusnya kearifan lokal oleh modernisasi yang destruktif.
Bencana di tanah Sumatera juga menjadi penanda lunturnya kearifan lokal dalam menjaga hutan.
Nenek moyang kita memiliki aturan adat untuk tidak menebang pohon di lereng curam atau hulu sungai.
Ketika aturan tak tertulis ini dilanggar demi alasan ekonomi, alam merespons dengan caranya yang paling mengerikan.
5. Peringatan yang Selalu Diabaikan
Secara keseluruhan, lagu ini adalah sebuah sirene peringatan.
Lirik-liriknya berteriak tentang bahaya yang akan datang jika kita tidak berhenti merusak.
Sayangnya, seperti dalam lagu tersebut, peringatan dari para ahli lingkungan dan aktivis di Sumatera Utara sering kali dianggap angin lalu.
Baru ketika air bah menerjang dan tanah longsor menutup jalan, kita tersadar bahwa "Tarian Penghancur Raya" bukan lagi sekadar lagu di
playlist
, melainkan kenyataan yang harus dihadapi para korban di pengungsian.
Baca Juga:
Dengar Lagu Ini, Semangat Nasionalisme Bergelora! Rekomendasi Lagu Feast untuk Mengingat Perjuangan
(*Mira)
Tag:
#kerusakan lingkungan
#Feast
#musik Indonesia
#Banjir Sumatera Utara
#Tarian Penghancur Raya
#Kritik Sosial
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.