Mahasiswi Rantau Asal Natuna Jalani Ramadhan Perdana di Perantauan
Faktakalbar.id, PONTIANAK -
Menjalani ibadah di bulan suci
Ramadhan
jauh dari keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa perantau di Kota Pontianak.
Hal ini dirasakan langsung oleh Dahlia, mahasiswi program studi Ekonomi Pembangunan
Universitas Tanjungpura
(Untan) angkatan 2025 asal Natuna, Kepulauan Riau.
Kepada wartawan pada Kamis (26/2/2026),
Dahlia
menceritakan perbedaan mencolok yang ia rasakan saat harus menyiapkan segala kebutuhan ibadah secara mandiri di tanah rantau.
"Rasanya sedih sih, Kak. Karena apa-apa harus sendiri, mulai dari sahur, berbuka. Biasanya kalau sahur tuh udah disiapin kan sama ibu. Terus kalau kos nih, jadi bangun tidur tuh langsung ngangatin makanan. Aku tuh nggak suka makan yang sejuk-sejuk, jadi harus diangatin dulu," ungkap Dahlia.
Baca Juga:
Kejati Kalbar Gelar Buka Puasa Bersama, Kajati Tekankan Integritas Jaksa di Bulan Ramadhan
Keterbatasan waktu dan kebingungan menentukan menu masakan membuatnya lebih sering membeli makanan siap saji untuk berbuka maupun sahur.
"Jarang sih (masak), aku nggak tau mau masak apa. Itu aja sih sebenarnya. Kalau untuk berbuka, bingung sih Kak mau buka apa. Jadi mau nggak mau, aku tuh biasanya beli gorengan. Jarang makan nasi kalau buka," tambahnya.
Sementara untuk menu sahur, ia mengaku terkadang memasak menu sederhana atau menghangatkan makanan yang dibeli sebelumnya.
"Sahur tuh kadang-kadang masak telur.
Lepas
itu, ada beli juga sih (makanan). Jadi diangatin kalau subuhnya," jelasnya.
Selain urusan konsumsi, tantangan lain yang dihadapi adalah akses untuk melaksanakan ibadah salat Tarawih berjamaah.
Dahlia mengaku intensitas ibadahnya di masjid menurun drastis dibanding saat berada di kampung halaman karena kendala transportasi.
"Ini terawih juga beda. Biasanya aku tuh kalau di kampung nggak bisa ketinggalan terawih. Pergi aja, kayak rugi nggak pergi. Cuma kalau udah jadi anak rantau, untuk Ramadhan kali ini cuma satu kali baru pergi. Soalnya kehalang itu juga sih, motor juga nggak ada. Soalnya masjidnya juga jauh dari kos. Jadi mau nggak mau, ya nggak terawih," tuturnya.
Ia sempat mengandalkan rekannya untuk pergi ke masjid, namun hal itu tidak selalu bisa dilakukan.
"Sama Kak Adel, Kak Adel lagi halangan, jadi nggak terawih," imbuhnya.
Meski harus menghadapi berbagai keterbatasan sebagai anak kos, Dahlia menargetkan diri untuk tetap bisa pulang ke kampung halaman saat Idulfitri nanti.
Ia juga memberikan semangat kepada sesama pejuang pendidikan yang sedang merantau.
"Insya Allah sih balik (lebaran). Untuk semua anak rantau yang sedang berantau, tetap semangat sih. Puasanya meskipun kita jauh dari orang tua," pungkasnya.
Baca Juga:
Tak Lengkap Tanpa Kurma: Mengapa Buah Ini Begitu Identik dengan Bulan Ramadhan?
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.