faktakalbar

Masih Percaya "Bau Tangan"? Ini 5 Mitos Parenting Indonesia yang Harus Ditinggalkan

Penulis: Redaksi Wednesday, 26 November 2025 📖 3 menit
Masih Percaya "Bau Tangan"? Ini 5 Mitos Parenting Indonesia yang Harus Ditinggalkan
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Menjadi orang tua baru di Indonesia itu "seru". Selain harus beradaptasi dengan kehadiran si kecil, Anda juga akan dibanjiri ribuan nasihat dari nenek, tante, hingga tetangga sebelah rumah. Kalimat saktinya biasanya diawali dengan: "Kata orang tua dulu..." atau "Jangan gitu, nanti pamali!" Meskipun niatnya baik, sayangnya tidak semua nasihat turun-temurun itu benar secara medis. Baca Juga:  Pakar Parenting: Ingin Hubungan dengan Anak Membaik? Lunasi Dulu Hutang Pengasuhan Beberapa di antaranya justru hanya mitos yang jika diteruskan malah bisa menghambat tumbuh kembang anak atau bahkan membahayakan. Agar tidak tersesat dalam informasi yang simpang siur, mari kita bedah 5 mitos parenting paling legendaris di Indonesia beserta faktanya. 1. "Jangan Sering Digendong, Nanti Bau Tangan!" Ini adalah mitos juara satu di Indonesia. Orang tua sering dilarang menggendong bayi yang menangis karena takut anak menjadi manja dan tidak mau diletakkan di kasur. Faktanya Istilah "bau tangan" itu tidak ada dalam kamus medis. Bayi, terutama di 3 bulan pertama kehidupannya (trimester keempat), sangat membutuhkan skin-to-skin contact . Menggendong bayi bukan memanjakan, melainkan memenuhi kebutuhan dasarnya akan rasa aman. Justru, bayi yang sering dipeluk dan digendong saat menangis akan tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri dan tenang karena tangki emosinya terpenuhi. 2. "Bedong Bayi Harus Kencang Biar Kakinya Lurus" Di Indonesia, membedong bayi sering kali dilakukan sangat ketat, bahkan kaki bayi ditarik paksa agar lurus bak lilin. Katanya, kalau tidak dibedong kuat, nanti kaki anak jadi letter O atau X. Faktanya Secara anatomis, kaki bayi baru lahir memang cenderung menekuk (seperti kodok) karena posisi mereka meringkuk di dalam rahim selama 9 bulan. Memaksa meluruskan kaki bayi dengan bedong ketat justru berisiko menyebabkan Hip Dysplasia (pergeseran sendi panggul). Bedonglah bayi dengan longgar di bagian kaki agar mereka tetap bisa bergerak bebas. Kaki bayi akan lurus secara alami seiring berjalannya waktu saat mereka mulai belajar jalan. 3. "Pakai Gurita Biar Perut Nggak Buncit/Bodong" Pemakaian gurita bayi (kain pengikat perut) dianggap wajib hukumnya oleh orang tua zaman dulu untuk membentuk perut bayi agar rata. Faktanya Perut bayi terlihat buncit itu wajar karena otot perut mereka belum berkembang sempurna dan organ di dalamnya masih menyesuaikan tempat. Pemakaian gurita yang terlalu kencang justru berbahaya karena bisa menekan lambung (menyebabkan bayi sering gumoh/muntah) dan menghambat pernapasan bayi yang dominan menggunakan pernapasan perut. Dunia medis modern sudah lama meninggalkan penggunaan gurita. 4. "Kalau Demam, Selimuti yang Tebal Biar Keringat Keluar" Saat anak demam tinggi, refleks orang tua sering kali memakaikan jaket tebal dan selimut berlapis-lapis dengan harapan anak berkeringat dan panasnya turun. Faktanya Ini berbahaya. Membungkus anak demam dengan pakaian tebal justru akan memerangkap panas tubuh, sehingga suhu badan bisa melonjak naik ( overheating ) dan berisiko kejang demam (step). Penanganan yang tepat adalah memakaikan baju tipis yang menyerap keringat dan menjaga suhu ruangan tetap sejuk agar panas tubuh bisa keluar menguap. 5. "Cukur Rambut Bayi Sampai Botak Biar Tumbuh Lebat" Banyak orang tua yang rutin menggunduli bayinya berkali-kali dengan harapan rambut yang tumbuh nantinya akan tebal dan hitam legam. Faktanya Tebal tipisnya rambut, serta lurus atau keritingnya rambut anak, 100% ditentukan oleh genetik (keturunan), bukan oleh pisau cukur. Mencukur rambut hanya memotong bagian batang rambut yang mati, tidak memengaruhi akar rambut di bawah kulit. Rambut bayi terlihat tebal setelah dicukur hanya ilusi optik karena ujung rambut tumbuh bersamaan secara merata dan kasar. Menghormati nasihat orang tua itu baik, namun kesehatan dan keselamatan anak adalah prioritas utama. Di era informasi ini, jadilah orang tua yang kritis . Selalu cek fakta medis ke dokter anak atau sumber terpercaya sebelum menerapkan nasihat "katanya-katanya". Baca Juga:  Waspada! 6 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Merasa Selalu Benar (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK