faktakalbar

Masihkah Relevan? Membedah Wajah Pendidikan Indonesia Lewat Kacamata "Pendidikan Kaum Tertindas"

Penulis: Redaksi Tuesday, 16 December 2025 📖 3 menit
Masihkah Relevan? Membedah Wajah Pendidikan Indonesia Lewat Kacamata "Pendidikan Kaum Tertindas"
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda duduk di dalam kelas, mencatat apa yang didiktekan guru sampai tangan pegal, menghafal rumus tanpa tahu penggunaannya, dan dilarang membantah? Jika ya, tanpa sadar Anda sedang menjadi objek dari apa yang disebut Paulo Freire sebagai "Pendidikan Gaya Bank". Buku Pendidikan Kaum Tertindas ( Pedagogy of the Oppressed ) karya filsuf Brasil, Paulo Freire, yang terbit pertama kali pada tahun 1968, hingga kini masih menjadi "kitab suci" bagi mereka yang gelisah dengan sistem pengajaran. Lantas, bagaimana jika teori Freire ini kita letakkan di atas peta pendidikan Indonesia hari ini? Apakah sistem kita sudah membebaskan, atau masih melanggengkan penindasan secara halus? Berikut adalah beberapa poin kritisnya. 1. Kritik "Pendidikan Gaya Bank" ( Banking Concept ) Baca Juga:  Bukan Sekadar Mengajar: 5 Poin Mengguncang dari Buku ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ Paulo Freire Poin paling ikonik dari Freire adalah kritiknya terhadap Banking Concept of Education . Dalam konsep ini, guru dianggap sebagai nasabah yang memiliki pengetahuan (uang), dan murid adalah celengan kosong. Tugas guru adalah "mengisi" murid dengan deposit pengetahuan. Relevansi di Indonesia : Meski Kurikulum Merdeka mulai digalakkan, praktik "gaya bank" masih mengakar kuat di banyak sekolah. Pembelajaran sering kali bersifat satu arah. Murid dinilai berprestasi jika bisa memuntahkan kembali hafalan persis seperti buku teks saat ujian. Ruang diskusi sering kali mati karena murid takut salah atau guru enggan dikritik. Pendidikan kita masih sering terjebak pada transfer informasi, bukan pembentukan nalar kritis. 2. Relasi Guru-Murid yang Feodal Freire menyoroti adanya kontradiksi antara guru dan murid. Guru adalah subjek (pelaku), murid adalah objek (penderita). Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. Relevansi di Indonesia: Budaya ketimuran kita yang sangat menghormati orang tua/guru kadang disalahartikan menjadi feodalisme dalam kelas. "Guru selalu benar" adalah dogma yang sulit dipatahkan. Akibatnya, murid di Indonesia cenderung pasif, malu bertanya, dan takut mengemukakan pendapat yang berbeda. Sistem ini, menurut Freire, melatih anak-anak untuk patuh pada otoritas tanpa bertanya, sebuah mentalitas yang berbahaya bagi demokrasi. 3. Pendidikan untuk Penjinakan vs Pembebasan Freire membedakan pendidikan menjadi dua: pendidikan untuk penjinakan ( domestication ) dan pendidikan untuk pembebasan ( liberation ). Pendidikan penjinakan bertujuan mencetak manusia yang patuh pada sistem, siap menjadi buruh, dan tidak banyak menuntut. Relevansi di Indonesia: Sering kali tujuan sekolah di Indonesia direduksi hanya sebatas "agar mudah cari kerja". Fokus sekolah kejuruan (SMK) dan universitas yang terlalu link and match dengan industri, tanpa dibarengi penguatan humaniora dan berpikir kritis, berpotensi hanya mencetak "sekrup-sekrup" industri. Kita mencetak pekerja yang terampil, namun sering kali gagap saat menghadapi masalah sosial atau ketidakadilan di lingkungannya. 4. Pentingnya Penyadaran ( Conscientization ) Solusi yang ditawarkan Freire adalah Conscientization atau penyadaran kritis. Pendidikan harus membuat murid sadar akan realitas sosialnya, sadar bahwa kemiskinan atau kebodohan bukanlah takdir, melainkan akibat dari struktur yang tidak adil. Relevansi di Indonesia: Sistem pendidikan kita sering kali mencabut anak dari akarnya. Anak desa diajari gaya hidup kota lewat buku paket. Masalah-masalah konkret di sekitar sekolah (sampah, banjir, korupsi desa) jarang dijadikan bahan ajar. Pendidikan semestinya mengajak siswa memecahkan masalah ( problem posing education ) yang ada di hadapan mereka, bukan menghafal nama sungai di benua lain yang tidak pernah mereka lihat. Kesimpulan: Menuju Merdeka Belajar yang Sejati Buku Pendidikan Kaum Tertindas adalah cermin retak bagi wajah pendidikan kita. Upaya pemerintah melalui "Merdeka Belajar" sebenarnya memiliki nafas yang serupa dengan ide Freire memberikan otonomi pada siswa dan guru. Namun, mengubah kurikulum di atas kertas jauh lebih mudah daripada mengubah mentalitas "gaya bank" yang sudah puluhan tahun bercokol di kepala para pendidik dan masyarakat kita. Pendidikan sejati seharusnya memanusiakan manusia, bukan mencetak robot yang pintar menghafal. Baca Juga:  Susah Fokus? Ini 5 Tempat Membaca Buku Paling Damai untuk Menghabiskan Bacaanmu (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK