faktakalbar

Melampaui Kisah Fiksi, Ini 4 Potret Getir 'Ronggeng Dukuh Paruk' yang Masih Relevan hingga Kini

Penulis: Redaksi Saturday, 06 December 2025 📖 3 menit
Melampaui Kisah Fiksi, Ini 4 Potret Getir 'Ronggeng Dukuh Paruk' yang Masih Relevan hingga Kini
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari bukan sekadar kisah percintaan Srintil dan Rasus. Lebih dari itu, trilogi ini adalah dokumen sosial yang merekam luka, kemiskinan, dan ketidakberdayaan manusia di hadapan sistem yang menindas. Meskipun berlatar di pedukuhan miskin pada era 1960-an, isu-isu yang diangkat di dalamnya terasa timeless (tak lekang waktu). Jika kita melihat sekeliling, tragedi yang menimpa warga Dukuh Paruk sejatinya adalah cerminan dari apa yang masih terjadi di masyarakat modern kita, meski dengan wajah yang berbeda. Baca Juga:  Gajian Tiba? Traktir Imajinasi Anda dengan 4 Buku Berkualitas Ini Berikut adalah 4 fakta miris dari novel tersebut yang selaras dengan realitas kehidupan nyata saat ini: 1. Tubuh Perempuan sebagai Komoditas Atas Nama "Tradisi" Dalam novel, Srintil harus melewati ritual bukak klambu (semacam sayembara untuk menyerahkan keperawanan) demi dikukuhkan menjadi ronggeng sejati. Yang menyedihkan, hal ini didukung penuh oleh warga desa dan dianggap sebagai kebanggaan adat. Realitas Hari Ini: Meskipun ritual semacam itu mungkin sudah pudar, objektifikasi terhadap perempuan masih subur. Di era modern, kita melihat bagaimana standar kecantikan, eksploitasi di media sosial, hingga perdagangan manusia sering kali "dibungkus" dengan dalih tuntutan profesi atau gaya hidup. Tubuh perempuan masih sering dianggap sebagai objek yang bisa dinilai dengan materi, di mana hak otoritas atas tubuhnya sendiri sering kali diabaikan oleh tekanan lingkungan. 2. "Wong Cilik" Selalu Jadi Korban Politik Salah satu bagian paling menyayat hati adalah ketika warga Dukuh Paruk yang buta huruf terseret badai politik 1965. Mereka tidak paham ideologi, mereka hanya menari karena dibayar dengan beras dan gula. Namun, ketika kekuasaan berganti, merekalah yang paling menderita dipenjara, dikucilkan, dan dianggap musuh negara tanpa pernah tahu apa salah mereka. Realitas Hari Ini: Masyarakat akar rumput sering kali hanya menjadi "pelanduk yang mati di tengah gajah bertarung". Rakyat kecil kerap dimanfaatkan untuk mendulang suara saat pemilu dengan iming-iming sembako, namun ditinggalkan atau bahkan menjadi korban kebijakan elit setelah kekuasaan diraih. Ketidaktahuan rakyat masih sering dimanfaatkan oleh ambisi politik para penguasa. 3. Kemiskinan Struktural yang Memelihara Kebodohan Dukuh Paruk digambarkan sebagai wilayah yang terisolasi, miskin, dan kerontang. Kemiskinan ini membuat pola pikir masyarakatnya menjadi sempit dan fatalis (pasrah pada nasib). Mereka percaya bahwa menjadi miskin dan bodoh adalah takdir leluhur yang tidak bisa diubah. Realitas Hari Ini: Kemiskinan struktural masih menjadi PR besar bangsa ini. Masih banyak wilayah di mana akses pendidikan dan kesehatan sangat minim, sehingga memutus mata rantai kemiskinan menjadi hal yang mustahil. Seperti di Dukuh Paruk, kemiskinan sering kali melahirkan ketidaktahuan, dan ketidaktahuan membuat seseorang mudah dieksploitasi oleh pihak yang lebih kuat. 4. Sanksi Sosial Lebih Kejam daripada Penjara Fisik Setelah peristiwa politik mereda, Srintil dan warga desa yang tersisa harus hidup dengan stempel buruk seumur hidup. Mereka dikucilkan, dipandang hina, dan tidak diberi ruang untuk memperbaiki diri. Sanksi sosial inilah yang akhirnya menghancurkan kewarasan Srintil. Realitas Hari Ini: Kita hidup di era cancel culture dan stigma yang kejam. Masyarakat kita sering kali menjadi hakim yang tidak kenal ampun. Seseorang yang pernah berbuat salah—atau sekadar berbeda pandangan sering kali "dibunuh" karakternya, dikucilkan dari pergaulan, dan ditutup akses ekonominya tanpa diberi kesempatan kedua. Stigma sosial tetap menjadi pembunuh berdarah dingin yang nyata di sekitar kita. Membaca Ronggeng Dukuh Paruk adalah bercermin pada wajah kita sendiri. Bahwa di balik kemajuan zaman, sisi kemanusiaan kita masih sering tertinggal di belakang. Baca Juga:  Bukan Sekadar Motivasi, Ini 5 Buku Wajib Baca bagi Gen Z untuk Memperluas Cara Pandang Dunia (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK