Memahami Pemicunya: 4 Alasan Umum Mengapa Serangan Panik Terjadi
Faktakalbar.id, LIFESTYLE
- Serangan panik atau
panic attack
adalah gelombang ketakutan intens yang muncul secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya dalam beberapa menit.
Bagi yang mengalaminya, rasanya bisa sangat menakutkan—seperti serangan jantung, kehilangan kendali, atau bahkan merasa akan mati.
Salah satu hal yang paling membingungkan dari serangan panik adalah kemunculannya yang sering kali terasa "tiba-tiba" tanpa alasan yang jelas.
Namun, meski terasa acak, para ahli kesehatan mental setuju bahwa biasanya ada faktor-faktor mendasar yang berkontribusi.
Baca Juga:
Lagi OVT Saat Hujan? Ini 5 Rekomendasi Lagu Hindia yang Bikin Hati Tenang
Memahami mengapa serangan panik terjadi adalah langkah awal yang penting untuk mengelolanya.
Berikut adalah empat alasan umum yang bisa menjadi pemicu atau akar masalahnya.
1. Stres Berat yang Menumpuk
Bayangkan tubuh Anda seperti ember.
Stresor kecil sehari-hari (macet, tenggat pekerjaan, pertengkaran kecil) adalah tetesan air yang perlahan-lahan mengisi ember itu.
Sering kali, kita tidak menyadari betapa penuhnya ember tersebut.
Serangan panik bisa menjadi momen ketika ember itu akhirnya meluap.
Stres kronis baik dari pekerjaan, masalah keuangan, atau konflik hubungan membuat sistem saraf Anda berada dalam kondisi "siaga" terus-menerus.
Serangan panik adalah alarm palsu yang akhirnya berbunyi karena sistem keamanan tubuh Anda sudah terlalu lelah dan sensitif.
2. Faktor Biologis dan Keturunan
Terkadang, alasannya ada pada "perangkat keras" biologis Anda.
Penelitian menunjukkan bahwa ada komponen genetik yang membuat beberapa orang lebih rentan mengalami serangan panik.
Jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan gangguan panik atau kecemasan, risiko Anda mungkin lebih tinggi.
Ini juga terkait dengan kimia otak.
Ketidakseimbangan neurotransmitter (pembawa pesan kimia di otak) seperti serotonin atau norepinefrin, yang bertugas mengatur suasana hati dan respons stres, dapat memainkan peran penting dalam memicu respons panik.
3. Riwayat Trauma atau Pengalaman Negatif
Otak kita dirancang untuk melindungi kita dari bahaya.
Jika Anda pernah mengalami kejadian yang sangat menakutkan atau
traumatis
di masa lalu, otak Anda mungkin "belajar" bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya.
Akibatnya, sistem "lawan atau lari" (
fight or flight
) Anda bisa menjadi terlalu aktif.
Pemicu yang tampaknya tidak berbahaya di masa kini (seperti berada di tempat ramai atau ruang sempit) dapat secara tidak sadar mengingatkan otak Anda pada trauma masa lalu, sehingga memicu respons panik penuh meskipun tidak ada ancaman nyata.
4. Siklus "Takut akan Rasa Takut" (Sensitivitas Kecemasan)
Ini adalah salah satu alasan paling umum mengapa serangan panik
terus berlanjut
dan berkembang menjadi gangguan panik.
Seringkali, serangan panik pertama terjadi secara acak (mungkin dipicu oleh stres atau kafein).
Namun, pengalaman itu begitu menakutkan sehingga Anda mulai mengembangkan ketakutan intens akan mengalami serangan panik lagi.
Ketakutan ini membuat Anda menjadi sangat waspada terhadap sensasi tubuh normal.
Misalnya, jantung Anda berdebar sedikit lebih cepat setelah naik tangga.
Bagi orang lain, ini normal.
Tapi bagi Anda, sensasi itu ditafsirkan sebagai "Tanda-tanda serangan panik akan datang!"
Pikiran ini sendiri memicu kecemasan, yang membuat jantung semakin berdebar, dan akhirnya benar-benar memicu siklus panik yang Anda takuti.
Baca Juga:
OVT Tengah Malam Bikin Runyam? Ini Alasan Psikologis Kenapa Malam Hari Jadi ‘Prime Time’ untuk Overthinking
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.