faktakalbar

Mengapa Daging Hiu Tidak Aman Dikonsumsi? Ini 6 Alasan dan Bahaya yang Mengintai

Penulis: Redaksi Friday, 26 September 2025 📖 2 menit
Mengapa Daging Hiu Tidak Aman Dikonsumsi? Ini 6 Alasan dan Bahaya yang Mengintai
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Daging hiu menjadi sorotan setelah menu hiu goreng dalam program makan gratis di Ketapang, Kalimantan Barat, menyebabkan keracunan. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan, apakah daging hiu aman untuk dikonsumsi? Baca Juga:  Menu MBG Ikan Hiu Fillet! Diduga Jadi Penyebab Belasan Siswa SD di Ketapang Keracunan Meskipun di beberapa tempat daging hiu termasuk kearifan lokal, terdapat bahaya tersembunyi yang perlu diwaspadai jika mengonsumsinya. Berikut enam bahaya utama dari kandungan dalam daging hiu: 1. Kandungan Merkuri Tinggi Hiu berada di puncak rantai makanan laut. Mereka memangsa ikan-ikan kecil yang juga mengandung merkuri. Seiring bertambahnya usia hiu, jumlah merkuri yang terakumulasi dalam tubuhnya juga makin tinggi, sebuah proses yang dikenal sebagai biomagnifikasi . Kandungan merkuri yang sangat tinggi ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf, ginjal, dan otak, terutama pada anak-anak. 2. Risiko Beta-Methylamino-L-Alanine (BMAA) Beberapa penelitian menemukan adanya kandungan neurotoksin bernama BMAA dalam daging hiu, terutama di bagian siripnya. BMAA telah dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Mengonsumsi daging hiu secara rutin dapat meningkatkan risiko penyakit ini dalam jangka panjang. 3. Amonia yang Mengganggu Kesehatan Hiu mengeluarkan urea, yang merupakan produk limbah, melalui kulitnya. Saat hiu mati, urea ini terurai menjadi amonia. Daging hiu yang tidak diolah dengan benar akan memiliki rasa dan bau amonia yang kuat. Mengonsumsi daging dengan kandungan amonia yang tinggi dapat memicu masalah pencernaan dan mengganggu kesehatan. 4. Rentan Terhadap Kontaminasi Bakteri Sama seperti ikan lainnya, daging hiu juga rentan terhadap kontaminasi bakteri jika tidak ditangani dengan baik setelah ditangkap. Bakteri seperti Salmonella atau Vibrio dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. 5. Kandungan Trimetilamin Oksida (TMAO) yang Berubah Jadi Amonia Dalam tubuh hiu, ada senyawa Trimetilamin Oksida (TMAO) yang membantu mereka bertahan hidup di laut. Namun, saat hiu mati, bakteri akan memecah TMAO ini menjadi senyawa Trimetilamin (TMA), yang memiliki bau seperti amonia. Inilah alasan kuat mengapa daging hiu memiliki bau tak sedap dan rasa yang aneh jika tidak diproses dengan benar. Selain itu, beberapa penelitian mengaitkan TMAO dengan risiko penyakit jantung. 6. Status Perlindungan Hewan Dunia konservasi, termasuk WWF, secara aktif mengampanyekan perlindungan hiu. Banyak spesies hiu, seperti hiu paus dan beberapa jenis hiu martil, telah masuk dalam daftar spesies yang terancam punah dan dilindungi secara global maupun nasional. Status sebagai predator puncak yang populasinya kian menurun menjadikan hiu sebagai salah satu hewan yang sangat penting untuk kelestarian ekosistem laut. Mengonsumsi daging hiu dapat secara tidak langsung mendukung perburuan ilegal dan perdagangan sirip hiu yang merusak kelangsungan hidup spesies ini. Baca Juga:   Buntut Insiden Keracunan MBG Ketapang, Norsan Ungkap Nihilnya Koordinasi Pemda dengan Manajemen MBG (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK