Mengapa Iran Menjadi Negara Syiah?
OPINI -
Kita lanjutkan soal Iran. Semata-mata untuk pemanasan jelang final futsal Timnas vs Iran,
ntar
malam. Jangan dikit-dikit bilang “pengikut syiah, agen mossad segala.” Ketika mendengar Iran, pasti terbanyang, Syiah.
Nah, edisi ini saya mau bahas kenapa negeri para mullah itu menjadi
Syiah
. Simak narasinya dan seruput
koptagulnya,
wak!
Nuan bayangkan, saat lagi main
game
sejarah mode
hardcore.
Iran
sudah rapi, mayoritas Sunni, ulama produktif, budaya matang, ekonomi jalan. Lalu satu hari, kerajaan ini pencet tombol merah bertuliskan: “Ganti Mazhab Nasional.”
Baca Juga:
Benarkah Iran Banyak Melahirkan Ilmuwan Hebat Kelas Dunia?
Bukan
update
kecil, ini
patch
berdarah. Sekalian pembantaian,
impor
ulama lintas negara, dan perang ideologi yang bikin
Game of Thrones
kelihatan kayak kartun Minggu pagi. Itulah Iran. Bangsa yang kalau
sejarah
bilang “cukup”, dia jawab, “kurang ekstrem.”
Awalnya, Iran sama sekali bukan Syiah. Setelah penaklukan Arab Muslim tahun 633–651 M yang meruntuhkan Kekaisaran
Sasanid
dan menyingkirkan
Zoroastrianisme
, Islam masuk pelan-pelan.
Butuh hampir 300 tahun sampai Persia jadi mayoritas Muslim. Mayoritas itu
Sunni,
terutama mazhab
Syafi’i.
Dari abad ke-7 sampai ke-15, Iran adalah pabrik ulama Sunni. Di sana lahir ahli fikih, sufi, sejarawan, penyair.
Semua menyuplai Zaman Keemasan Islam. Syiah memang ada, tapi minor. Zaydi di Tabaristan, Dinasti Buwayhid (934–1055). Iran saat itu ibarat klub VIP Sunni, bergengsi, intelektual, dan dominan.
Lalu masuk Dinasti Safavid, plot twist paling brutal dalam sejarah Islam. Awalnya cuma ordo Sufi Sunni yang didirikan Shaykh Safi al-Din (1334). Tapi di tangan Junayd dan Haydar, ordo ini berubah jadi gerakan militan Syiah bernuansa kultus.
Klimaksnya tahun 1501, Shah Ismail I, bocah 14 tahun, masuk Tabriz dan langsung mendeklarasikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama negara.
Kenapa? Ini bukan sekadar iman. Ini strategi geopolitik. Ismail butuh identitas yang memisahkan Iran dari Ottoman Sunni di barat, menyatukan suku-suku pasca-Timurid, dan memberi legitimasi ilahi dengan klaim keturunan Imam Ali. Agama dijadikan senjata negara. Efektif? Gila. Kejam? Jangan ditanya.
Metodenya bukan ceramah. Ini konversi paksa edisi neraka. Azan Syiah diwajibkan, kutukan publik terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Aisyah dipaksa dibaca.
Menolak? Eksekusi. Di Tabriz, sekitar 20.000 Sunni dibantai. Di Isfahan 1503, 5.000 dibakar hidup-hidup. Masjid Sunni diruntuhkan, makam tokoh Sunni dihancurkan.
Pasukan Kizilbash bertopi merah menyapu kota demi kota seperti Shiraz, Yazd, Baghdad (1508). Ulama Sunni diusir atau dibunuh. Karena ulama Syiah lokal minim, Safavid impor ulama dari Jabal Amil (Lebanon) dan Irak—al-Muhaqqiq al-Karaki diberi kekuasaan besar, Husayn ibn Abd al-Samad disponsori negara. Syiah dijadikan kurikulum nasional.
Di bawah Tahmasp I (1524–1576), ritual Muharram dimasifkan, propaganda dilembagakan, silsilah keluarga dipoles nyambung ke Imam Ali al-Rida. Shah Abbas I (1588–1629) membakukan hukum Syiah lewat Jame-e Abbasi.
Soltan Hoseyn dan Mohammad-Baqer Majlesi mengunci ortodoksi Twelver. Ada satu episode tragikomedi, Ismail II (1576–1577) coba balik ke Sunni, hentikan kutukan. Hasilnya? Diracun. Tamat.
Baca Juga:
Hasil Final Piala Asia Futsal 2026: Drama 8 Gol, Indonesia vs Iran Berlanjut ke Babak Tambahan Usai Skor Imbang 4-4
Butuh hampir tiga abad sampai Iran jadi mayoritas Syiah. Dari sekitar 40% ke 90% pada pertengahan abad ke-17.
Biayanya mahal. Perang panjang dengan Ottoman (misalnya Chaldiran 1514), konversi paksa non-Muslim (30.000 Georgia 1614–1616), dan akhirnya Safavid runtuh 1722. Tapi Syiah bertahan, bahkan mengeras.
Hari ini Iran 90–95% Syiah Twelver. Revolusi 1979 di bawah Khomeini mengubah Syiah dari korban sejarah (sejak Karbala 680) jadi kekuatan global lewat velayat-e faqih. Iran bukan cuma pindah mazhab, mereka menciptakan identitas baru. Dari objek sejarah jadi subjeknya.
Singkatnya begitu. Jangan tanya, apa referensinya. Karena ini bukan jurnal. Cukup percaya pada penulisnya, dijamin no
hoax.
“Tak mungkinlah saya ngarang bebas.”
Nah, malam ini sepertinya giliran Timnas yang akan mengukir sejarah baru. Iran boleh Syiah, tapi negeri ini tetap Nusantara.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.