Mengapa Pekerja Gen Z Sering Kesepian di Kantor?
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Generasi Z
mencatatkan diri sebagai kelompok usia yang paling banyak merasakan kesepian di tempat kerja. Sebuah survei dari
ezCater
mendata sekitar 38 persen pekerja Generasi Z mengaku merasa kesepian saat bekerja.
Angka
ini menempati posisi tertinggi jika membandingkannya dengan kelompok usia lain. Relasi sosial memegang peran penting dalam keterlibatan karyawan di lingkungan kerja.
Sebanyak 80 persen responden menyatakan keberadaan teman di tempat kerja membuat mereka merasa lebih terlibat.
Baca Juga:
Fenomena Kebotakan Dini: Mengapa Rambut Gen Z Lebih Rapuh Dibanding Millenial?
Tantangan Model Kerja Jarak Jauh
Perubahan model kerja memengaruhi interaksi sosial karyawan secara signifikan. Pekerja jarak jauh mencatatkan tingkat pertemanan yang rendah di kantor. Hanya 43 persen karyawan jarak jauh yang memiliki teman dekat di tempat kerja.
Pekerja yang bekerja di kantor atau menerapkan sistem gabungan justru mencatatkan angka 69 persen dalam memiliki teman dekat.
Kevin Thompson, yang menjabat sebagai pimpinan eksekutif perusahaan investasi 9i Capital Group, menilai perubahan model kerja ini sangat berdampak pada pekerja muda.
"Dengan kerja jarak jauh dan kantor yang semakin sering kosong, tidak mengherankan jika banyak profesional muda merasa terisolasi," kata Kevin Thompson.
Kevin Thompson juga menambahkan bahwa tingginya mobilitas pekerja Generasi Z turut menyumbang rasa kesepian tersebut.
"Gen Z khususnya memiliki mobilitas yang lebih tinggi, baik secara profesional maupun geografis, sering kali tanpa jangkar tradisional seperti keluarga atau komitmen jangka panjang," tambah Kevin Thompson.
Kegagalan Desain Tempat Kerja
Banyak pekerja Generasi Z memulai karier di tengah situasi pandemi sehingga kehilangan kesempatan membangun interaksi sosial secara langsung.
Bryan Driscoll, yang berprofesi sebagai konsultan sumber daya manusia, menilai realitas tempat kerja Generasi Z sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.
"Generasi yang lebih tua memiliki mentor nyata, tatap muka, minum bersama setelah kerja. Gen Z mendapat undangan kalender dan sesuai surel saya sebelumnya," ujar Bryan Driscoll.
Bryan Driscoll menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan kegagalan desain tempat kerja modern.
"Ini bukan masalah Gen Z. Ini adalah kegagalan desain tempat kerja dan masyarakat," tegasnya.
Bryan Driscoll menyoroti kurangnya fasilitas dari perusahaan untuk membangun koneksi antar karyawan.
"Tentu saja Gen Z menjadi generasi paling kesepian di tempat kerja. Mereka dilempar ke dunia kerja saat pandemi, orientasi lewat Zoom, dan diberi tahu bahwa utas Slack itu budaya perusahaan. Bukan mereka tidak ingin koneksi, tapi pemberi kerja tidak pernah memberi alat atau ruang untuk membangunnya," katanya.
Tekanan Ekonomi dan Tuntutan Hidup
Rasa kesepian di tempat kerja juga berakar dari tekanan ekonomi. Alex Beene, yang mengajar literasi keuangan di University of Tennessee, mengatakan pekerja muda saat ini menghadapi tantangan finansial yang memperburuk keadaan.
"Ketika Anda mempertimbangkan semua tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z, mudah untuk melihat mengapa kesepian membebani mereka," sebut Alex Beene.
Biaya hidup yang tinggi dan pasar tenaga kerja yang sulit membuat Generasi Z semakin rentan terhadap perasaan terisolasi.
"Ketika peluang profesional Anda suram, Anda menghadapi biaya hidup yang meningkat, dan media sosial memperlihatkan banyak orang yang tidak menghadapi kekhawatiran tersebut, Anda bisa dengan mudah jatuh ke dalam perasaan kesepian," ucapnya.
(*Sr)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.