faktakalbar

Mengenal Arti Overthinking dan Bahayanya Bagi Kesehatan

Penulis: Redaksi Friday, 26 December 2025 📖 2 menit
Mengenal Arti Overthinking dan Bahayanya Bagi Kesehatan
Faktakalbar.id LIFESTYLE - Istilah overthinking kini semakin akrab di telinga masyarakat luas. Meski sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, banyak orang belum benar-benar memahami arti overthinking secara medis. Fenomena ini bukan sekadar melamun atau berpikir kritis, melainkan sebuah siklus mental yang merusak dan membawa risiko kesehatan serius. Memahami arti overthinking adalah langkah awal vital untuk mencegah gangguan mental yang lebih berat. Kondisi ini merujuk pada kebiasaan memikirkan satu hal secara berulang-ulang tanpa menghasilkan solusi, yang justru memicu kecemasan berlebih. Baca Juga:  Cara Ampuh Mengatasi Overthinking di Tengah Malam Menggali Arti Overthinking dari Kacamata Sains Untuk memahami fenomena ini secara mendalam, kita perlu melihat rujukan ilmiah dari mendiang Profesor Susan Nolen-Hoeksema, mantan Ketua Departemen Psikologi Yale University yang menjadi pionir dalam penelitian ini. Dalam publikasi ilmiahnya di jurnal Perspectives on Psychological Science , Nolen-Hoeksema tidak mendefinisikan overthinking sebagai kegiatan berpikir biasa. Ia menyebutnya sebagai rumination (perenungan). Menurut penelitiannya, ini adalah pola respons di mana seseorang berfokus secara pasif dan berulang-ulang pada kesedihan serta penyebabnya, tanpa melakukan tindakan aktif untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jadi, arti overthinking sesungguhnya adalah aktivitas mental yang menjebak seseorang dalam masalah, bukan membawanya keluar dari masalah. Otak terus memutar ulang kejadian tanpa titik temu, yang membedakannya secara tegas dengan introspeksi diri yang sehat. Tubuh Merespons Seolah Ada Bahaya Bahaya overthinking tidak hanya menyerang mental, tetapi juga berdampak langsung pada fisik. Ashley Carroll, seorang praktisi kesehatan mental dari Parkland Health, menyoroti batas di mana kebiasaan ini mulai berbahaya. Dalam tinjauan medisnya, Carroll menjelaskan bahwa berpikir menjadi masalah serius ketika mulai merusak fungsi harian. Ia mencontohkan kondisi di mana seseorang tidak bisa tidur di malam hari karena gagal mematikan pikiran-pikiran yang mengganggu. Ketika kondisi ini terjadi, tubuh bereaksi secara biologis. Berdasarkan data medis umum, kondisi kecemasan kronis akibat overthinking memicu pelepasan hormon kortisol secara berlebihan. Baca Juga: Stop Bawa Beban Pikiran ke Kasur! 4 Ritual Sebelum Tidur Ini Bikin Bangun Lebih Bahagia Dalam jangka panjang, kondisi ini terbukti secara klinis dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dan memicu gangguan pencernaan. Setelah mengetahui arti overthinking dan dampaknya, para ahli menyarankan teknik cognitive restructuring . Teknik ini melatih otak untuk menantang pikiran negatif dengan fakta objektif, bukan asumsi. Selain itu, membatasi waktu untuk khawatir misalnya hanya 15 menit sehari, dapat membantu otak beristirahat dan kembali produktif. (*Sari)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK