Mengenal Saprahan, Tradisi Makan Bersama yang Menjaga Nilai Kebersamaan Masyarakat Melayu Sambas
Faktakalbar.id, SAMBAS -
Dalam kehidupan masyarakat Melayu Sambas, tradisi Saprahan masih terus dilestarikan sebagai bentuk kearifan lokal yang sarat akan makna kebersamaan dan nilai-nilai keislaman.
Dilansir dari situs
Kementerian Kebudayaan
Republik Indonesia yang diterbitkan oleh Majelis Adat Budaya Melayu Sambas, Saprahan merupakan cara penyajian dan menikmati makanan secara bersama-sama, yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di rumah tangga masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Tradisi ini umumnya dilakukan dalam berbagai acara penting seperti pesta pernikahan, hataman Al-Qur’an, syukuran, serta ketika menyambut tamu. Dalam pelaksanaannya, saprahan melibatkan kelompok kecil yang duduk bersila berkelompok, terdiri dari enam orang dalam satu kelompok.
Baca Juga:
Walikota Pontianak Saprahan Kue Bersama Warga Di Hari Robo-Robo
Dalam kehidupan masyarakat Melayu Sambas, Saprahan merupakan adat tradisi kebiasaan turun-temurun dalam menghidangkan makanan yang dilakukan sehari-hari di rumah tangga terutama di desa-desa. Dalam kegiatan yang mengundang tamu seperti pada acara perayaan pesta perkawinan, hataman, syukuran dan lain-lain diberikan hidangan dengan saprahan.
Saprahan sendiri terbagi menjadi dua jenis berdasarkan bentuk penyajiannya: saprahan memanjang dan saprahan pendek. Selain sebagai cara makan bersama, saprahan mengandung makna mendalam tentang semangat gotong royong dan persamaan derajat dalam masyarakat. Hal ini tercermin dari falsafah lokal yang menyertainya: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.
Sajian makanan dalam saprahan dinikmati dengan tangan, sementara sendok hanya digunakan untuk mengambil lauk. Adat ini sejalan dengan nilai-nilai Islam, yang menjadi identitas kuat masyarakat Melayu Sambas sejak dahulu.
Makna dan pengertian saprahan dalam masyarakat Melayu Sambas yang identik dengan agama Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang tetap dilestarikan dan terpelihara, berpedoman pada enam rukun iman, dan lima rukun Islam.
Hingga kini, saprahan masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari saprahan sangat sederhana, saprahan sederhana, hingga saprahan dalam acara pesta besar. Keberlangsungan tradisi ini menjadi cerminan kuatnya nilai budaya dan keagamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Sambas.
(DNS)
Baca Juga:
170 Pelajar SMP Tanding Gelar Saprahan
Tag:
#FaktaKalbar.id
#saprahan
#budaya melayu sambas
#tradisi makan bersama
#kearifan lokal Kalimantan Barat
#nilai islam dalam budaya
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.