Mengenal Syeik Abdul Qadir Jilani yang Sering Disebut Saat Tahlilan
OPINI -
Para pengamal
tahlil
boleh merapat di sini sebentar. Jelang
azan
Jumat, ada baiknya mengenal ahli sufi yang namanya selalu disebut setiap kali ada tahlilan. Siapkan
k
optagul,
yang mau
ngudud
silakan. Simak narasinya,
wak!
Kalau lagi tahlilan terus terdengar kalimat, “bi barakat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani…”, lalu semua orang otomatis manggut-manggut tanpa tahu detailnya. Tenang
wak,
ente
nggak
sendirian.
Banyak yang hafal namanya, tapi kalau ditanya beliau siapa, jawabannya sering ngambang. “Ulama besar… wali… pokoknya sakti.”
Nah,
mari kita buka kisahnya.
Syeikh Abdul Qadir al-Jilani
lahir sekitar tahun 1077 M di daerah
Gilan
Arab, Persia. Bukan Arab,
wak.
Jadi kalau ada yang kaget, “loh kok wali besar bukan orang
Arab
?” ya memang begitu.
Baca Juga:
Sunmori Entikong Diprotes Warga, Suara Knalpot Brong Dinilai Ganggu Ibadah Minggu
Islam itu internasional, bukan RT-an. Nama “al-Jilani” itu kayak nama kampung di KTP, penanda asal, bukan nama panggung. Ayahnya bernama
Jangi Dust
, dari namanya saja sudah kelihatan ini bukan nama ustaz langganan mimbar Jumat.
Waktu muda, beliau hijrah ke
Baghdad
, kota paling
rame
saat itu. Kalau sekarang, Baghdad itu ibarat
Jakarta
plus Madinah plus kampus top sekalian. Di sana beliau belajar fikih
Hambali
, hadis, tafsir, sampai
tasawuf.
Karena logat Persiannya masih kentara, beliau dipanggil “
ajami
”, alias orang non-Arab. Tapi jangan
salah
. Ia sering kali yang dianggap “pendatang” justru yang paling serius belajar. Yang lokal sibuk debat, yang pendatang sibuk
ngaji
.
Setelah ilmunya penuh seperti termos baru, beliau
nggak
langsung buka majelis. Beliau malah
ngilang
ke gurun Irak selama 25 tahun. Dua puluh lima tahun. Kalau orang sekarang, tiga hari tanpa Wi-Fi saja sudah stres.
Ini orang
ngurung
diri, puasa, zikir, lawan hawa nafsu sampai ngos-ngosan. Bukan lari dari dunia, tapi nyiapin diri buat
nampol
dunia, secara spiritual tentunya.
Balik ke Baghdad tahun 1127 M, beliau langsung jadi magnet. Ceramahnya bikin orang mikir, takut, ketawa kecut, lalu tobat. Jamaahnya campur aduk. Ada rakyat jelata, pejabat, bahkan non-Muslim.
Katanya, banyak yang masuk Islam gara-gara ceramah beliau. Madrasah al-Qadiriyyah berdiri, dan murid-muridnya menyebar ke mana-mana. Salahuddin Ayyubi saja dengar nama beliau. Ini bukan ustaz musiman.
Ajarannya sederhana tapi ngeri. Dunia jangan terlalu dicintai, nafsu jangan dimanja, ibadah jangan setengah-setengah. Sufisme menurut beliau bukan pakai baju robek sambil melamun, tapi disiplin keras, mirip pelatihan pasukan elit, cuma musuhnya adalah diri sendiri.
Soal kehendak bebas, beliau cenderung bilang, “Udah, serahkan saja ke Allah.” Ego manusia disuruh minggir, jangan sok jago.
Beliau wafat tahun 1166 M di Baghdad, usia 91 tahun. Makamnya jadi tempat ziarah, sempat dihancurkan, dibangun lagi, dihancurkan lagi, dibangun lagi.
Seolah sejarah pun bilang, “Yang ini jangan dihapus.” Hingga hari ini, tarekat Qadiriyyah masih hidup, dan nama beliau masih disebut di tahlilan, yasinan, dan doa-doa orang kampung.
Baca Juga:
Edi Kamtono: ASN Harus Seimbangkan Kerja dan Ibadah
Jadi wak, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani itu bukan sekadar nama yang dihafal otomatis. Beliau itu simbol.
Simbol orang biasa dari kampung Persia, belajar serius, ngalahin egonya sendiri, lalu namanya dipakai umat Islam ratusan tahun kemudian. Kalau itu bukan prestasi spiritual kelas berat, entah apa lagi.
Allahumma inna natawassalu ilayka bisayyidina al-syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani, an taghfira lana dhunubana, wa taqdhiyya hawaijana, wa tufarrija kurubana, wa tuthabbita qulubana ‘ala dinika, wa taj‘alana min awliya’ika al-shalihin. Alfatihah.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.