faktakalbar

Menkes Budi Sebut Penularan DBD di Indonesia Mengikuti Pola El Nino, Satu Pasien Tularkan 6 Orang

Penulis: Redaksi Tuesday, 21 April 2026 📖 2 menit
Menkes Budi Sebut Penularan DBD di Indonesia Mengikuti Pola El Nino, Satu Pasien Tularkan 6 Orang
Faktakalbar.id, JAKARTA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa satu pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) rata-rata mampu menularkan virus ke 5 hingga 6 orang lainnya. Hal tersebut disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin (20/4/2026), guna menyoroti ancaman penyakit yang kerap melanda wilayah perkotaan ini. Baca Juga:  Puskesmas Sungai Durian Sintang Lakukan Fogging Setelah Lakukan PE di Wilayah Terduga Demam Berdarah Budi menjelaskan bahwa meskipun angka penularan ini lebih rendah dibandingkan penyakit campak, namun risiko penyebarannya tetap signifikan di daerah padat penduduk. Penyakit ini menjadi perhatian serius karena penularan DBD di Indonesia sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan mobilitas nyamuk pembawa virus. "Kalau campak bisa 12 sampai 18 orang, dengue ini sekitar 2 sampai 10, rata-rata 5-6," ujar Budi di hadapan anggota dewan. Ia menambahkan, berbeda dengan campak yang menular melalui droplet , DBD menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti . Menteri Kesehatan menekankan bahwa faktor cuaca ekstrem, khususnya fenomena El Nino, menjadi pemicu utama lonjakan kasus di tanah air. Perubahan suhu dan pola hujan selama fase El Nino menciptakan kondisi ideal bagi populasi nyamuk untuk berkembang biak secara masif. "Dengue itu benar-benar mengikuti pola El Nino. Begitu naik, kasus langsung meningkat," tegasnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat sekitar 150 ribu kasus DBD terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Walaupun jumlah ini masih jauh di bawah kasus tuberkulosis (TBC) yang mencapai 1 juta kasus, tingkat fatalitas atau kematian akibat DBD justru tercatat lebih tinggi dibandingkan penyakit malaria. Budi Gunadi Sadikin menilai tingginya angka kematian bukan disebabkan oleh sulitnya pengobatan, melainkan faktor keterlambatan penanganan medis. Menurutnya, tenaga medis di Indonesia sebenarnya sudah sangat berpengalaman menangani pasien dengue agar tidak masuk ke fase kritis. "Harusnya dengue itu kalau dirawat dengan baik tidak akan menjadi dengue syok. Ini soal cepat atau tidaknya penanganan," jelas Budi. Ia bahkan membandingkan dengan penanganan di luar negeri, di mana tenaga medis sering kali belum terbiasa menghadapi kasus dengue seintensif dokter di dalam negeri. Terkait upaya pencegahan, pemerintah hingga kini belum menetapkan vaksinasi DBD sebagai program nasional. Prioritas anggaran dan intervensi kesehatan masih difokuskan pada penyakit dengan beban kesehatan lebih besar seperti TBC. Sebagai alternatif, Kemenkes mendorong penguatan intervensi berbasis lingkungan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan perbaikan sistem sanitasi. Baca Juga:  Waspada Penyakit Musim Hujan, Lakukan 4 Hal Ini! Senada dengan hal tersebut, anggota Komisi IX DPR RI, Heru Cahyono, mendesak pemerintah agar lebih mengedepankan langkah preventif yang melibatkan masyarakat secara luas. Ia meminta agar pemerintah tidak hanya bertumpu pada solusi vaksinasi semata dalam memitigasi risiko penularan DBD di Indonesia. "Harus mulai dari lingkungan bersih, makanan sehat, dan edukasi masyarakat. Jangan hanya fokus ke vaksin," kata Heru Cahyono dari Fraksi Golkar. Ia berharap edukasi yang masif dapat menurunkan risiko kematian akibat keterlambatan diagnosa di tingkat rumah tangga. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK