faktakalbar

Menyala! Rupiah Sentuh Rp17.503 per Dolar AS

Penulis: Redaksi Tuesday, 12 May 2026 📖 3 menit
Menyala! Rupiah Sentuh Rp17.503 per Dolar AS
Faktakalbar.id, NASIONAL - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau mengalami pelemahan sebesar 89 poin atau 0,51 persen pada perdagangan Selasa siang pukul 11.47 WIB. Pergerakan nilai tukar mata uang Garuda tersebut merosot ke level Rp17.503 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.414 per dolar AS. Baca Juga:  Rupiah Masuk Daftar Lima Mata Uang Terlemah Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tren pelemahan kurs rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang masih memanas di kawasan Selat Hormuz. "Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump," katanya dalam rekaman suara di Jakarta, seperti dilansir Antara Selasa (12/5/2026). Ketegangan di kawasan perairan strategis tersebut kembali meningkat tajam seiring sikap Amerika Serikat yang secara sepihak menolak proposal perdamaian dari Iran. Penolakan proposal perdamaian tersebut kemudian memicu kemunculan berbagai serangan berskala kecil antar armada kapal kargo komersial yang melintasi jalur Selat Hormuz. Konflik regional ini semakin meluas dengan adanya keterlibatan militer Uni Emirat Arab yang dilaporkan turut menyerang sejumlah fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. "Jadi Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional; ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika," ungkap dia. Eskalasi konflik bersenjata yang terus terjadi di wilayah Timur Tengah ini telah memicu pergerakan indeks dolar mengalami penguatan yang cukup signifikan di pasar uang global. Penguatan indeks dolar Amerika Serikat tersebut pada akhirnya berdampak langsung terhadap lonjakan tajam harga minyak mentah dunia khususnya untuk jenis brent crude oil. Jika dilihat dari segi faktor internal, pencapaian angka pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2026 yang menyentuh 5,61 persen tidak serta merta membuat rupiah langsung menguat. Pembentukan struktur pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tersebut nyatanya lebih banyak didominasi oleh tingginya pergerakan konsumsi masyarakat luas dan realisasi belanja negara. Tingginya angka pertumbuhan tersebut dinilai Ibrahim tidak memberikan dampak positif terhadap perputaran arus investasi asing yang persentasenya masih tercatat sangat kecil. "Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia," ujarnya. Tekanan terhadap ekonomi domestik juga diperparah oleh badai pemutusan hubungan kerja yang telah menimpa 40 ribu buruh di sektor padat karya selama rentang periode Januari hingga April 2026. Pemangkasan jumlah tenaga kerja tersebut secara dominan terjadi pada sektor industri manufaktur tekstil, pabrik garmen, serta berbagai perusahaan elektronik berskala besar. Ibrahim memprediksi secara gamblang bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja massal ini masih akan terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Sentimen negatif lain turut disumbang oleh besarnya jumlah angkatan kerja masyarakat Indonesia yang harus terserap di sektor non-informal dengan total mencapai 87,74 juta orang. Angka serapan tenaga kerja di sektor non-informal yang rentan tersebut tercatat jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan total keseluruhan pekerja di sektor formal. Para pelaku pasar uang di tanah air saat ini juga tengah bersikap menahan diri sembari menunggu rilis data terbaru dari lembaga Morgan Stanley Capital International. Rilis data keuangan global tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di lantai bursa karena dinilai memiliki potensi untuk menurunkan peringkat kelayakan investasi saham Indonesia. Berdasarkan akumulasi dari berbagai faktor eksternal dan internal tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus melanjutkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada pekan ini. Meskipun demikian, analis pasar tetap optimis dan memproyeksikan bahwa pelemahan kurs rupiah tersebut masih terkendali serta tidak akan anjlok melebihi batas psikologis Rp17.550 per dolar AS. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK