faktakalbar

Menyatukan Ilmu, Masyarakat, dan Alam: Jejak BoSAN UNIMAS–UNTAN 2025

Penulis: Redaksi Saturday, 13 September 2025 📖 4 menit
Menyatukan Ilmu, Masyarakat, dan Alam: Jejak BoSAN UNIMAS–UNTAN 2025
OPINI - Pagi yang lembab di dermaga Bako National Park, Sarawak, menjadi saksi pertemuan para ilmuwan, mahasiswa, pegiat lingkungan, dan komunitas lokal dalam sebuah inisiatif bersejarah: The BoSAN UNIMAS – UNTAN 2025 International Strategic Partner Initiative. Di balik papan selamat datang yang sederhana, tersimpan semangat besar: memperkuat jembatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal untuk menjaga ekosistem mangrove yang kian terhimpit tantangan global. BoSAN Borneo Satellite Network adalah sebuah kerangka kolaborasi yang tidak hanya menghubungkan universitas lintas negara, tetapi juga menjalin simpul antara sains dan masyarakat. Kehadiran Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) dan Universitas Tanjungpura (UNTAN) di ruang konservasi Bako adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan akan lebih bermakna jika berpijak pada bumi yang sama dipijak oleh komunitas lokal. Mangrove: Sabuk Hijau yang Terabaikan Mangrove adalah benteng pertama kita melawan krisis iklim. Akar-akar yang mencengkeram lumpur menjaga garis pantai dari abrasi, menyimpan karbon dalam jumlah besar, sekaligus menjadi rumah bagi ikan, kepiting, dan burung air. Namun, di banyak tempat, hutan mangrove justru tergerus alih fungsi lahan, reklamasi, maupun penebangan tak terkendali. Indonesia dan Malaysia, dua negara dengan garis pantai panjang dan biodiversitas tinggi, memikul tanggung jawab besar. Di sinilah BoSAN hadir, sebagai wahana berbagi pengalaman pengelolaan mangrove lintas batas. Apa yang terjadi di Sarawak akan menjadi cermin bagi Kalimantan Barat; begitu pula sebaliknya. Sains Bertemu Kearifan Lokal Salah satu inti dari BoSAN UNIMAS–UNTAN 2025 adalah pertukaran iptek dalam pengelolaan sumber daya alam. Tetapi inisiatif ini tidak berhenti pada riset laboratorium atau publikasi akademik. Yang lebih penting, ia melibatkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama. Di Bako, mahasiswa dan peneliti belajar bersama warga tentang cara menyeleksi bibit mangrove, menanam di areal pasang surut, hingga menjaga keberlanjutannya. Sebaliknya, komunitas lokal mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya kualitas bibit, teknologi perbanyakan, dan penggunaan sistem digital untuk memantau pertumbuhan. Pertukaran ini menciptakan simbiosis: sains memperkuat kearifan lokal, dan kearifan lokal menajamkan arah riset. Agenda Global, Aksi Lokal Inisiatif ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-13 (aksi iklim), ke-14 (ekosistem laut), dan ke-15 (ekosistem daratan). Selain itu, ia mendukung komitmen nasional dalam FOLU Net Sink 2030 di Indonesia maupun agenda hijau Sarawak. Dalam sambutannya, pimpinan UNIMAS menekankan bahwa BoSAN adalah platform strategis yang menyatukan akademisi, birokrat, dan komunitas global dalam isu krisis iklim dan konservasi. Hal serupa ditegaskan pihak UNTAN: bahwa kerjasama ini bukan hanya seremonial, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun kapasitas generasi muda di Borneo. Dari Bibit ke Harapan Salah satu sesi lapangan dalam program ini adalah training on mangrove seedling preparation and planting. Bibit mangrove tidak sekadar tanaman muda, melainkan simbol harapan. Setiap bibit yang ditanam adalah janji bahwa pantai tidak akan mudah terkikis, bahwa ikan-ikan kecil punya ruang untuk bertelur, dan bahwa masyarakat pesisir memiliki benteng alami menghadapi badai. BoSAN juga memperkenalkan inovasi baru: QR-coded seedling. Teknologi ini memungkinkan setiap bibit mangrove diberi kode unik yang bisa dipindai untuk melacak asal, jenis, serta lokasi tanamnya. Transparansi ini penting agar program restorasi tidak berhenti pada penanaman simbolis, melainkan benar-benar terukur dan berkelanjutan. Menyatukan Akademisi dan Komunitas Salah satu tantangan terbesar konservasi adalah menjembatani bahasa ilmiah dengan realitas lapangan. Akademisi sering berbicara dalam angka, grafik, dan teori; sementara masyarakat pesisir berbicara lewat pengalaman, tradisi, dan praktik sehari-hari. BoSAN mencoba menjembatani dua dunia ini. Di ruang diskusi, para peneliti menjelaskan pentingnya stok karbon biru (blue carbon) dan kontribusinya terhadap mitigasi iklim global. Di sisi lain, nelayan lokal menceritakan bagaimana kerusakan mangrove mengurangi hasil tangkapan mereka. Ketika dua narasi ini bertemu, lahirlah pemahaman bersama: menjaga mangrove berarti menjaga hidup, baik secara ekologis maupun ekonomi. Kolaborasi Lintas Negara BoSAN UNIMAS–UNTAN 2025 juga menandai sebuah diplomasi hijau. Kalimantan Barat dan Sarawak bukan hanya bertetangga secara geografis, tetapi juga berbagi ekosistem yang sama. Melalui kolaborasi ini, riset tidak lagi terkotak dalam batas administratif negara, melainkan melihat Borneo sebagai satu kesatuan ekologi. Langkah ini juga memberi contoh bagi universitas lain di Asia Tenggara: bahwa kerja sama lintas batas di bidang konservasi dan perubahan iklim adalah kebutuhan mendesak. Tantangan dan Harapan Tentu, jalan ke depan tidak selalu mulus. Mangrove masih menghadapi ancaman besar: tekanan pembangunan, polusi, dan lemahnya penegakan hukum. Di sisi lain, keberlanjutan BoSAN membutuhkan komitmen pendanaan, kesinambungan riset, dan dukungan politik. Namun, optimisme tetap terjaga. Inisiatif ini menunjukkan bahwa saat akademisi, pemerintah, dan masyarakat duduk bersama, solusi konkret bisa lahir. Lebih jauh, kolaborasi seperti BoSAN menumbuhkan rasa kepemilikan bersama atas masa depan Borneo. Penutup: Dari Bako untuk Dunia Di akhir kegiatan, peserta berkumpul di tepi hutan mangrove, menutup hari dengan menanam bibit muda. Gerakan tangan menancapkan batang kecil ke lumpur seolah sederhana, tetapi di balik itu tersimpan makna besar: komitmen lintas bangsa untuk menjaga bumi. BoSAN UNIMAS–UNTAN 2025 memberi pesan jelas: konservasi bukan hanya urusan negara atau lembaga besar, melainkan tanggung jawab kolektif yang berakar dari komunitas. Pertukaran ilmu dan teknologi harus berjalan seiring dengan pelibatan masyarakat. Dari Bako National Park, semangat ini menyebar: bahwa benteng hijau bernama mangrove adalah warisan yang harus dijaga, bukan hanya untuk Borneo, tetapi untuk dunia. Oleh: Prof. Gusti Hardiansyah Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim, Universitas Tanjungpura; Ketua ICMI Kalbar Disclaimer: Artikel ini adalah opini pribadi penulis. Isi dan pandangan yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK