faktakalbar

Miris! Makanan Balita Disajikan dalam Kresek, SPPG Pandeglang Malah "Cuci Tangan" Salahkan Kader

Penulis: Redaksi Saturday, 10 January 2026 📖 2 menit
Miris! Makanan Balita Disajikan dalam Kresek, SPPG Pandeglang Malah "Cuci Tangan" Salahkan Kader
Faktakalbar.id, PANDEGLANG - Pelaksanaan program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pandeglang, Banten, kembali mencoreng wajah pelayanan publik. Niat negara memperbaiki gizi balita dan ibu hamil justru menuai kecaman keras setelah beredar video paket makanan yang disajikan secara tidak manusiawi: dibungkus dalam kantong plastik bening tanpa wadah pelindung. Video yang viral sejak Jumat (9/1/2026) tersebut memicu amarah warganet lantaran visual makanan yang tercampur aduk dianggap sangat tidak layak. Bahkan, dalam narasi video yang beredar luas, perekam meluapkan kekecewaannya dengan menyebut tampilan makanan tersebut menyerupai "muntah kucing" karena disajikan asal-asalan dalam plastik. Baca Juga:  Viral Curhatan Ibu di Kubu Raya, Sedih Lihat Menu MBG Anaknya Tak Sesuai Harapan Menanggapi kegaduhan ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karyasari, Kecamatan Sukaresmi, akhirnya buka suara pada Sabtu (10/01/2026). Namun, klarifikasi yang disampaikan justru terkesan "buang badan" dan menyudutkan pihak relawan di lapangan. Kepala SPPG Karyasari, Dimas Dhika Alpiyan, membantah pihaknya memerintahkan penggunaan plastik. Ia berdalih bahwa makanan dikirim menggunakan wadah standar ( ompreng ), namun dipindahkan ke plastik atas inisiatif kader posyandu. "Setelah ompreng tiba, oleh ibu kader dipindahkan ke kantong plastik karena alasan spontanitas. Ompreng kembali dibawa pulang oleh sopir dengan keadaan kosong," dalih Dimas. Kader Jadi "Kambing Hitam" Kegagalan Logistik? Pernyataan SPPG yang menyalahkan "spontanitas kader" ini dinilai publik sebagai upaya menutupi bobroknya manajemen logistik distribusi. Pengakuan bahwa "ompreng dibawa pulang sopir dalam keadaan kosong" saat itu juga, justru membuka fakta bahwa SPPG tidak menyediakan wadah cadangan ( buffer stock ) yang memadai untuk ditinggal di lokasi. Hal ini secara tidak langsung memaksa kader yang merupakan ujung tombak pelayanan untuk berpikir cepat menyelamatkan makanan tersebut. Tanpa adanya wadah yang bisa ditinggal, memindahkan makanan ke plastik menjadi pilihan terpaksa di tengah situasi yang mendesak. Sikap SPPG yang menunjuk hidung kader sebagai penyebab masalah dinilai tidak etis. Otoritas terkait seharusnya mengevaluasi sistem rantai pasok dan ketersediaan logistik mereka, bukan justru menjadikan relawan di tingkat terbawah sebagai "kambing hitam" atas viralnya penyajian makanan yang dianggap merendahkan martabat penerima manfaat tersebut. Baca Juga:  MBG Tetap Jalan Selama Libur Sekolah (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK