Muawiyah Ubah Khilafah Jadi Tahta Warisan Anak
OPINI -
Tulisan ke 17 edisi
Ramadan
. Kali ini kita bahas sosok
super
krusial,
Muawiyah ibn Abi Sufyan
(atau Muawiyah I), pendiri
Dinasti Umayyah
pertama.
Dia bukan cuma sahabat
nabi
, tapi juga politisi ulung, gubernur tangguh, dan pemimpin yang mengubah wajah
kekhalifahan
dari model Rashidun (pemilihan) jadi dinasti turun temurun.
Kisahnya penuh drama. Dari musuh nabi jadi sahabat, dari gubernur
Suriah
yang bandel sampai berseteru dengan
Ali bin Abi Thalib
dan Hasan, lalu mendirikan imperium yang luas banget.
Lahir sekitar 602 M di Mekah, anak Abu Sufyan (pemimpin karavan
super
kaya) dan
Hind bint Utbah
(yang di Uhud sempat mengunyah hati Hamzah).
Keluarga ini musuh bebuyutan nabi, ikut Badr, Uhud, Khandaq, semuanya anti
Islam.
Tapi pas Fathu Makkah 630 M, tiba tiba semua masuk Islam.
Baca Juga:
Kisah Tragis Utsman bin Affan, 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah
Muawiyah? Langsung jadi juru tulis wahyu. Dari
taliq
(mantan tawanan yang dibebaskan) jadi sahabat nabi. Lucu ya, mirip politisi zaman sekarang yang dulu oposisi keras, begitu kekuasaan datang langsung klaim saya sudah dari dulu pendukung perubahan.
Di bawah
Abu Bakr
dan Umar, dia ikut penaklukan Suriah. Umar angkat dia gubernur Damaskus 639 M. Di bawah Utsman, kekuasaannya melebar dari Suriah,
Palestina,
hingga angkatan laut pertama muslim.
Dia bangun armada, rebut Siprus, Rodos, hancurkan Bizantium di Pertempuran Masts 655 M. Sukses banget sebagai administrator, toleran ke Kristen, rekrut suku lokal, ekonomi jalan.
Tapi di balik itu, dia sudah bangun basis kuasa pribadi yang kuat. Mirip gubernur daerah sekarang yang sukses pembangunan tapi perlahan lahan bikin dinasti lokal sendiri, kan?
Lalu meledak Fitnah Besar pas Utsman dibunuh 656 M. Muawiyah (kerabat Utsman) angkat spanduk balas dendam darah pemimpin. Dia tolak baiat ke Ali bin Abi Thalib, ganti gubernur, dan tuduh Ali lindungi pembunuh.
Perang Unta selesai, langsung Perang Siffin Juli 657 M di tepi Efrat. Pasukan Ali unggul, tapi pasukan Muawiyah angkat mushaf Al Quran di ujung tombak: "Kitabullah yang memutuskan!"
Ali curiga muslihat, tapi pasukannya (yang takut dosa) paksa berhenti. Arbitrase di Dumat al Jandal gagal total. Hasilnya? Khawarij lahir, Ali dibunuh 661 M. Muawiyah langsung
self declared
pemimpin di Damaskus.
Nuan
bayangkan, perang saudara karena ambisi kekuasaan dibungkus agama. Mirip banget politik elite sekarang, satu pihak bilang saya bela keadilan, pihak lain bilang saya bela persatuan, tapi ujung ujungnya rebut kursi.
Fitnah pertama ini pecah umat sampai sekarang. Yang paling ironis, yang menang justru yang paling ahli politik, bukan yang paling saleh.
Hasan bin Ali naik jadi pemimpin 7 bulan. Muawiyah maju dengan pasukan besar ke Irak. Hasan, yang benci pertumpahan darah, pilih damai Agustus 661 M.
Perjanjian Hasan Muawiyah
super
jelas berkuasa sesuai Quran dan Sunnah, suksesor lewat
shura
(musyawarah) bukan turun temurun, serta amnesti total dan Ahlul Bait aman.
Hasan mundur ke Madinah, Muawiyah masuk Kufah dengan damai. Disebut Tahun Persatuan. Tapi seperti janji politik zaman sekarang yang ditulis di kertas lalu dilupakan begitu kursi sudah diduduki, Muawiyah kemudian langgar semua.
Kutuk Ali di mimbar tiap Jumat selama lebih dari 60 tahun (bayangin, kampanye hitam resmi dari atas mimbar!), eksekusi Hujr bin Adi (sahabat Ali). Yang paling parah, tunjuk Yazid sebagai putra mahkota.
Lahirlah Dinasti Umayyah, pertama kali kekhalifahan jadi kerajaan turun temurun. Hasan wafat 670 M (Syiah yakin diracuni, kontroversial tapi banyak sumber klasik sebut Muawiyah dalang).
Mirip banget pemimpin yang bilang ini buat stabilitas dan persatuan, tapi akhirnya bikin tahta warisan buat anak, dan umat yang bayar mahal.
Sebagai pemimpin (661 hingga 680 M), Muawiyah pindah ibukota ke Damaskus, bangun imperium gila. Serang Bizantium tiap tahun, rebut Afrika Utara, ekspansi ke Oxus.
Administrasi tiru Bizantium seperti
diwan
, pos, cap mohor, pejabat Kristen tetap dipakai. Ekonomi jalan, tentara loyal. Tapi gaya hidupnya sudah raja,
bodyguard
, tahta, protokol kerajaan.
Madelung bilang ini awal
mulk
(monarki) menggantikan khilafah. Persis seperti yang dulu dicela, dari pemimpin terpilih jadi raja turun temurun.
Wafat April atau Mei 680 M di Damaskus umur 78 tahun. Sebelum wafat, dia wasiatkan Yazid, padahal janji
shura
sudah dibuang ke tong sampah. Beliau dimakamkan di Bab al Saghir.
Bagi yang suka versi stabilitas, dia satukan umat setelah fitnah, ekspansi Islam sampai Afrika dan Asia Tengah. Bagi yang kritis (termasuk banyak ulama klasik), dia ubah khilafah jadi kerajaan, lahirkan Karbala, dan contoh buruk politik dinasti yang sampai sekarang masih diulang ulang di mana mana.
Baca Juga:
Kisah Oei Hui-lan: Putri ‘Raja Gula’ Semarang yang Jadi Ibu Negara China
Sunni hormati sebagai sahabat nabi yang pintar, Syiah kutuk sebagai pembunuh karakter Ahlul Bait. Tabari dan Ibn Kathir catat semuanya, bukan hitam putih, tapi manusia biasa dengan ambisi
super
tinggi.
Muawiyah mengajarkan kita satu hal yang masih relevan 1.400 tahun kemudian, kalau pemimpin bilang ini buat umat dan persatuan tapi langsung siapkan kursi buat anak atau kroni, maka waspadalah, sejarah pasti berulang.
Dari Siffin sampai sekarang, yang kalah selalu rakyat biasa, yang menang selalu yang ahli main politik.
Berikutnya kisah Husein bin Ali, ditunggu ya!
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.