Narasi MBG Banyak Negatif, Apakah Ulah Lawan Politik atau Murni Kemarahan Netizen?
OPINI -
Coba
ente
perhatikan beranda kalian, banyak video atau narasi
viral
tentang
MBG
. Rata rata negatif. Ada juga
sih
yang
positif
mestinya disyukuri namun tak mampu mendominasi narasi negatif.
Apakah ini ulah lawan politik, atau murni kemarahan
netizen
? Nikmati narasinya sambil menunggu bedug.
Koptagulnya
nanti,
wak
!
Data dari
posting
paling viral selama 3 sampai 10
Mare
t 2026 menunjukkan sesuatu yang cukup dramatis. Dari sepuluh unggahan dengan
engagement
paling besar tentang MBG,
mayoritas
bernada negatif atau
kritik.
Baca Juga:
Program MBG Bikin Siswa Batal Puasa, PCNU Pati Usul Diganti Sembako Mentah
Netizen menampilkan video
pisang
busuk yang tampaknya sudah menjalani perjalanan spiritual panjang sebelum tiba di omprengan makan
siswa
.
Ada juga rekaman ulat yang diduga ikut menikmati puding atau makaroni, seolah olah program makan bergizi turut membuka kesempatan kerja bagi makhluk kecil yang selama ini terpinggirkan.
Menu mie
plus
pisang bahkan menjadi legenda
timeline
. Netizen menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara bingung, lapar, dan ingin membuat petisi nasional. Video keluhan wali murid menyebar seperti meteor.
Salah satu yang paling ramai membuat DPRD Malang sampai memanggil seluruh SPPG setelah protes orang tua murid bermunculan.
Nuan
bayangkan! Rapat dewan yang biasanya membahas perda tiba tiba berubah menjadi sidang darurat tentang pisang.
Belum selesai drama kuliner tersebut, diskusi kemudian melompat ke level lebih tinggi, anggaran negara.
Timeline
dipenuhi narasi seperti MBG makan dana pendidikan atau lebih baik
internet
gratis dari mie
plus
pisang.
Engagement
nya luar biasa. Puluhan ribu
like
, ratusan ribu
view
, dan komentar yang panjangnya kadang lebih serius dari makalah seminar nasional. Kritik tata kelola juga muncul.
Tuduhan monopoli vendor kroni, istilah bancakan elite, hingga dugaan pemborosan yang membuat netizen merasa sedang menonton serial investigasi politik.
Narasi negatif ini semakin kuat karena punya bahan bakar lama. Pada 2025 pernah muncul laporan ribuan kasus keracunan makanan.
Sentimen media sosial bahkan disebut mencapai sekitar 85,6 persen negatif pada Februari 2026. Ketika muncul video pisang busuk atau makaroni misterius,
timeline
langsung meledak seperti kompor gas yang lupa dimatikan.
Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Pejabat negara tampil menjelaskan, tidak ada pemotongan anggaran pendidikan. Bahkan disebut anggaran pendidikan justru bertambah. Badan Gizi Nasional juga mengingatkan publik agar tidak terlalu reaktif terhadap narasi liar di media sosial.
Beberapa video viral, menurut mereka, diduga dilebih lebihkan atau bahkan hoaks. Pemerintah juga mengklaim program ini telah menjangkau sekitar 61 juta anak dan ibu hamil serta membantu menggerakkan ekonomi lokal melalui UMKM.
Masalahnya, di dunia media sosial, klarifikasi resmi sering kalah cepat dibanding video ibu ibu yang membuka kotak makan sambil berkata dengan nada penuh drama, "Ini makanannya kok begini?"
Timeline
bergerak seperti badai tropis, cepat, liar, dan sulit dikendalikan.
Di sinilah pertanyaan besar muncul seperti adegan klimaks film detektif. Apakah narasi negatif ini hasil operasi politik lawan pemerintah, atau murni kemarahan netizen yang merasa harapannya terlalu tinggi lalu bertabrakan dengan realitas kotak makan?
Penelusuran terhadap kata kunci seperti kampanye hitam MBG, bot,
buzzer
bayaran, atau operasi terkoordinasi justru menghasilkan temuan yang relatif minim.
Tidak terlihat pola
copy paste
massal, tidak ada gelombang akun baru yang muncul serempak seperti pasukan robot propaganda.
Sebagian besar video datang dari wali murid biasa, bukan
influencer
dengan studio
podcast
atau pasukan admin.
Kesimpulannya justru agak membingungkan sekaligus lucu. Sekitar 70 sampai 80 persen percakapan negatif tampaknya lahir secara organik dari netizen yang marah melihat masalah nyata di lapangan.
Kualitas makanan, pengawasan higienitas, dan tata kelola vendor. Sisanya adalah bumbu politik yang selalu muncul setiap kali ada program besar pemerintah.
Baca Juga:
MBG Dinilai Mencederai Masyarakat Miskin, Kritik Terus Bergulir
Akhirnya republik ini menemukan kenyataan unik. Satu pisang busuk bisa memicu debat nasional tentang anggaran, konspirasi, dan masa depan bangsa.
Jika pengawasan diperketat dan kualitas makanan diperbaiki, mungkin badai ini akan mereda. Namun jika tidak, medsos minggu depan bisa berubah menjadi festival teori konspirasi terbesar dalam sejarah kuliner politik Indonesia.
Di negeri ini, rupanya satu kotak makan mampu mengguncang republik lebih keras dari pidato politik tiga jam tanpa jeda.
Oleh: Rosadi Jamani. Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.