Kalimantan Barat dan Jejak Borneo di Panggung NaSTeC 2025
OPINI
- Borneo adalah rumah bagi salah satu keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
Hutan tropisnya, yang membentang dari Kalimantan (Indonesia) hingga Sarawak dan Sabah (Malaysia), menjadi laboratorium alam yang kaya dengan inspirasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dunia kini memandang Borneo bukan hanya sebagai paru-paru bumi, tetapi juga sebagai sustainable natural resource untuk abad ke-21.
Inilah yang diangkat dalam 2nd Natural Science and Technology Conference (NaSTeC 2025) yang akan berlangsung pada 10–11 September 2025 di Kuching, Sarawak.
Dengan tema “Harnessing Science and Technology for Global Sustainability,” konferensi ini menghadirkan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan praktisi dari seluruh dunia (NaSTeC, 2025).
UNTAN dan Pemprov Kalbar: Dua Kekuatan Strategis
Bagi Universitas Tanjungpura (UNTAN) dengan 9 fakultasnya, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar), forum ini adalah ruang strategis untuk mempertemukan pengetahuan, kebijakan, dan identitas Borneo sebagai satu kesatuan ekologis dan sosial.
1. Fakultas-Fakultas UNTAN dan Kontribusinya
Fakultas Kehutanan
Menjadi garda depan riset konservasi hutan, gambut, dan mangrove. Relevan untuk agenda global FOLU Net Sink 2030 dan carbon trading.
Fakultas Pertanian
Fokus pada ketahanan pangan, agroforestry, dan biofarmaka. Konteks global: inovasi varietas padi rawa, tanaman herbal, dan agroindustri berkelanjutan.
Fakultas Teknik
Menawarkan solusi infrastruktur hijau, energi terbarukan, serta teknologi berbasis AI dan IoT untuk mitigasi perubahan iklim dan smart agriculture.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Mengembangkan model ekonomi hijau, circular economy, serta tata kelola bisnis karbon. Relevan bagi Indonesia dalam perdagangan karbon internasional.
Fakultas Hukum
Mengkaji aspek hukum lingkungan, tata kelola sumber daya alam, dan perjanjian internasional. Esensial untuk mendukung diplomasi hukum di tingkat global.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL)
Menganalisis partisipasi masyarakat, kebijakan publik, dan diplomasi lingkungan. Relevan untuk transboundary governance Borneo.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Memperkuat eco-literacy generasi muda. Kontribusi global: pendidikan keberlanjutan, capacity building, dan pemberdayaan komunitas.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Berperan dalam riset biodiversitas, kimia lingkungan, hingga data sains. Mendukung inovasi bioteknologi dan pemodelan iklim.
Fakultas Kedokteran
Penting untuk kesehatan masyarakat, riset zoonosis, obat tradisional, dan pemanfaatan biodiversitas untuk farmasi.
Relevan dengan tantangan kesehatan global.
2. Peran Pemprov Kalbar
Pemprov Kalbar menjadi policy driver yang menghubungkan hasil riset dengan pembangunan daerah. Agenda prioritas:
FOLU Net Sink 2030: pengurangan emisi berbasis hutan.
Ekonomi hijau: hilirisasi produk lokal (madu hutan, tengkawang, kopi liberika, kratom).
Blue economy
: meski tanpa fakultas khusus kelautan, Kalbar punya garis pantai dan perikanan yang perlu dikelola secara lintas sektor.
Energi terbarukan: PLTN Semesak–Pantai Gosong, biomassa, dan surya.
Kerja sama perbatasan RI–Malaysia: memperkuat diplomasi regional di Borneo.
Biodiversitas sebagai Inspirasi
Keynote speaker NaSTeC 2025, Prof. Rolf Müller, menekankan bioinspired engineering—menjadikan biodiversitas sebagai sumber inovasi teknologi.
Di Indonesia, riset serupa telah dilakukan dan dipublikasikan, seperti penelitian tentang bioplastik dari limbah biomassa. (Zhan et al., 2023).
Kalbar dengan spesies endemik seperti kratom, tengkawang, dan bajakah bisa masuk dalam ekosistem riset bioinspirasi global.
Ketahanan Pangan dan Energi
Isu ketahanan pangan di Kalbar, terutama dengan lahan rawa dan pasang surut, relevan untuk kolaborasi riset lintas Borneo.
Sebagai contoh, riset padi hibrida di kawasan Asia dapat menjadi inspirasi untuk meningkatkan ketahanan pangan (Huang et al., 2023).
Sementara itu, isu energi hijau dan PLTN di Kalbar dapat dikaitkan dengan diskursus global tentang transisi energi, menjadikan Kalbar aktor penting dalam percaturan energi bersih kawasan.
Sinergi PCDS2030 dan FOLU Net Sink 2030
Sarawak punya Post-COVID-19 Development Strategy 2030 (PCDS2030) yang memprioritaskan konservasi hutan, energi terbarukan, dan ekonomi biru (Sarawak Government, 2021). Indonesia punya FOLU Net Sink 2030 (KLHK, 2021).
Sinergi keduanya bisa melahirkan model transboundary sustainability governance Borneo.
Kesempatan Besar bagi Kalbar
Ada lima langkah strategis yang bisa ditempuh:
Kolaborasi riset lintas batas → UNTAN dan UNIMAS memimpin riset biodiversitas, pangan, energi, dan kesehatan.
Publikasi internasional → mendorong riset dosen dan mahasiswa UNTAN masuk jurnal Scopus.
Diplomasi hijau → Pemprov Kalbar menjalin MoU dengan Pemerintah Sarawak.
Branding Kalbar → tampil sebagai provinsi hijau di forum internasional.
Pemberdayaan generasi muda → mahasiswa Kalbar ikut Festival of Ideas untuk memperkuat jejaring inovasi.
Suara Borneo untuk Dunia
NaSTeC 2025 bukan sekadar konferensi, melainkan momentum Kalbar menunjukkan diri.
UNTAN dengan sembilan fakultasnya adalah academic engine, sementara Pemprov Kalbar adalah policy driver.
Bersama, keduanya dapat membawa Kalbar menjadi pionir green economy Indonesia sekaligus bagian dari poros keberlanjutan global.
Oleh:
Gusti Hardiansyah,
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Kalbar
Disclaimer:
Artikel ini adalah opini pribadi penulis. Isi dan pandangan yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi.
Tag:
#Universitas Tanjungpura
#Pemprov Kalbar
#ekonomi hijau
#pembangunan berkelanjutan
#NaSTeC 2025
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.