faktakalbar

Nonton Film Saham Jadi Bingung? Ini 5 Istilah Wajib Tahu Biar Nggak Gagal Paham

Penulis: Redaksi Wednesday, 10 December 2025 📖 3 menit
Nonton Film Saham Jadi Bingung? Ini 5 Istilah Wajib Tahu Biar Nggak Gagal Paham
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda menonton film seperti The Big Short atau The Wolf of Wall Street , lalu merasa bingung saat para tokohnya berteriak tentang "Shorting", "IPO", atau " Margin Call "? Tenang, Anda tidak sendirian. Dunia pasar modal memang memiliki bahasanya sendiri. Sering kali, kenikmatan menonton film bertema keuangan berkurang hanya karena kita tidak memahami istilah kunci yang menjadi inti konflik cerita. Padahal, istilah-istilah ini bukan hanya "bahasa film", tapi juga konsep dasar investasi di dunia nyata. Baca Juga:  Belajar Investasi Sambil Rebahan? Ini 5 Film Saham Terbaik yang Wajib Ditonton Trader Pemula Agar sesi nonton film Anda lebih seru dan wawasan investasi Anda makin tajam  berikut adalah 5 istilah saham populer di film yang wajib diketahui pemula. 1. IPO ( Initial Public Offering ) Sering muncul di film: The Wolf of Wall Street Ingat adegan saat Jordan Belfort memotivasi timnya untuk menjual saham perusahaan sepatu Steve Madden? Itu adalah momen IPO. Secara sederhana, IPO atau Penawaran Saham Perdana adalah momen ketika sebuah perusahaan tertutup (swasta) pertama kali menjual sahamnya kepada masyarakat umum (publik) di bursa saham. Ini adalah momen "kelahiran" saham perusahaan tersebut di pasar, di mana investor ritel seperti kita akhirnya bisa ikut membelinya. 2. Short Selling (Jual Kosong) Sering muncul di film: The Big Short Ini adalah konsep yang membuat karakter Michael Burry kaya raya saat pasar hancur. Normalnya, kita beli saham di harga rendah dan jual di harga tinggi (Buy Low, Sell High). Namun, dalam Short Selling, urutannya dibalik. Investor meminjam saham untuk dijual saat harga tinggi, dengan harapan harganya akan jatuh. Saat harga jatuh, ia membelinya kembali dengan harga murah untuk dikembalikan. Selisih harga jual (tinggi) dan beli kembali (rendah) itulah keuntungannya. Intinya: bertaruh bahwa harga akan turun. 3. Margin Call Sering muncul di film: Margin Call Istilah ini sangat menakutkan bagi trader dan menjadi judul film yang menegangkan. Margin Call terjadi ketika Anda berinvestasi menggunakan uang pinjaman (margin) dari broker, dan nilai saham yang Anda beli turun drastis hingga di bawah batas minimal jaminan. Broker akan menelepon (memanggil/call) Anda untuk segera menyetor uang tunai tambahan. Jika tidak punya uang? Broker akan menjual paksa aset Anda dalam posisi rugi. 4. Blue Chip Sering muncul di film: Wall Street Sering mendengar tokoh senior menyarankan bermain aman di saham "Blue Chip"? Istilah ini diambil dari keping koin poker (chip) yang berwarna biru, yang memiliki nilai tertinggi. Dalam saham, Blue Chip merujuk pada saham perusahaan besar yang memiliki reputasi nasional, kondisi keuangan prima, dan sudah beroperasi puluhan tahun. Ini adalah jenis saham yang "tahan banting" dan relatif aman untuk pemula dibanding saham gorengan. 5. Bullish & Bearish Sering muncul di film: Hampir semua film saham Dua hewan ini adalah simbol abadi pasar modal. Bull (Banteng): Melambangkan pasar yang sedang naik atau bergairah. Filosofinya diambil dari cara banteng menyerang musuh dengan menanduk ke arah atas . Bear (Beruang): Melambangkan pasar yang sedang turun atau lesu. Filosofinya diambil dari cara beruang menyerang dengan mencakar ke arah bawah. Jadi, jika karakter film berkata "The market is bullish," artinya pasar sedang optimis dan harga-harga naik. Memahami kelima istilah di atas tidak hanya akan membuat Anda lebih nyambung saat menonton drama keuangan Hollywood, tetapi juga menjadi bekal dasar yang solid sebelum terjun langsung berinvestasi. Ternyata, belajar ekonomi tidak harus selalu di kelas, bukan? Baca Juga:  Bukan Judi, Ini 5 Strategi Cuan Bermain Saham untuk Pemula agar Tidak Boncos (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK