Nyeri Haid Berlebihan, Berpotensi Menjadi Tanda Endometriosis
Faktakalbara.id, LIFESTYLE -
Banyak perempuan menganggap nyeri haid sebagai hal biasa. Mereka menahan rasa sakit tersebut setiap bulan. Padahal, nyeri menstruasi berlebihan berpotensi menandakan gangguan kesehatan serius seperti endometriosis.
Organisasi Kesehatan Dunia mencatat
endometriosis
memengaruhi sepuluh persen perempuan usia reproduksi secara global. Jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim. Pertumbuhan jaringan ini memicu peradangan kronis.
Sharifah Halimah Jaafar
, konsultan
ginekologi
dan spesialis endometriosis dari Hospital Picaso, menjelaskan fenomena aliran balik darah haid ke rongga panggul. Banyak perempuan mengalami kondisi ini. Kondisi tersebut masuk kategori wajar secara medis.
Baca Juga:
6 Manfaat Air Rebusan Kunyit Setiap Hari: Kaya Kurkumin, Redakan Peradangan dan Nyeri Haid
“Tubuh memiliki sistem imun yang mampu membersihkan sisa-sisa jaringan dan darah tersebut. Sel darah putih akan menghancurkannya sehingga tidak menimbulkan masalah,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Sebagian perempuan memiliki faktor genetik tertentu. Sistem imun mereka gagal bekerja membuang darah tersebut. Tubuh justru memelihara jaringan sisa. Hal ini memicu peradangan berulang dan perlengketan organ di panggul.
Kondisi berat membuat organ usus dan kandung kemih saling melekat. Perlengketan ini membentuk massa kaku. Penderita merasakan nyeri hebat dan berisiko mengalami kemandulan.
Batas Normal Nyeri Menstruasi
Sharifah menyoroti budaya masyarakat sekitar. Masyarakat kerap menganggap nyeri haid sebagai hal wajar. Banyak orang tua mengajarkan perempuan muda menerima rasa sakit tersebut sejak remaja.
“Kalau nyeri sampai mengganggu sekolah, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari, itu bukan hal yang harus dinormalisasi,” tegasnya.
Perempuan perlu menilai rasa sakit menggunakan skala nyeri nol sampai sepuluh. Pasien sebaiknya segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila nyeri mencapai angka enam. Gejala ini biasanya berlangsung lebih dari dua hari.
Perempuan wajib mewaspadai nyeri hebat saat haid. Obat pereda nyeri biasa tidak mampu meredakan rasa sakit tersebut. Tanda lainnya meliputi nyeri saat buang air besar, diare, dan rasa sakit yang bertambah berat setiap bulan.
“Nyeri fisiologis biasanya terjadi satu sampai dua hari dan pola sakitnya relatif sama setiap bulan. Kalau intensitasnya makin meningkat atau durasinya makin lama, itu patut dicurigai,” jelasnya.
Pengaruh Pola Makan Sehat
Penelitian terbaru menemukan peran mikrobiota usus dalam perkembangan endometriosis. Ketidakseimbangan bakteri baik memicu peradangan. Kondisi ini meningkatkan kadar hormon estrogen penderita.
Sharifah menganjurkan perempuan menerapkan pola makan sehat. Langkah ini menekan risiko dan peradangan. Perempuan wajib mengonsumsi makanan tinggi probiotik, serat, serta antioksidan. Pasien juga perlu menghindari makanan olahan dan tinggi lemak jenuh.
“Pola makan yang baik dapat membantu menekan proses inflamasi dan menjaga keseimbangan hormon,” ujarnya.
Edukasi sejak dini memegang peran penting. Perempuan muda perlu memahami batas normal nyeri haid. Penanganan awal mampu menekan risiko komplikasi dan kemandulan.
“Kita perlu mengubah pola pikir bahwa semua nyeri haid itu normal. Perempuan berhak hidup tanpa rasa sakit yang berlebihan setiap bulan,” pungkasnya.
(*Sr)
Tag:
#nyeri haid
#Kesehatan Reproduksi
#Tanda Bahaya Endometriosis
#Sharifah Halimah Jaafar
#Gangguan Menstruasi
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.