Pakar Kaji Potensi Sawit dalam Pemulihan Ekonomi Sumatra
Faktakalbar.id, NASIONAL -
Pakar ekonomi dan pertanian membahas peran komoditas sawit dalam memulihkan kondisi ekonomi daerah pascabencana di wilayah Sumatra. Diskusi ilmiah di Universitas Sumatra Utara (USU) ini membedah kontribusi sektor kelapa sawit terhadap stabilitas
ekonomi
di Aceh,
Sumatra Utara
, dan
Sumatra Barat.
Industri sawit nasional tercatat menyerap sedikitnya 16,5 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung pada tahun 2024.
Sektor ini juga mendominasi pendapatan devisa sektor pertanian dengan kontribusi mencapai 73,83 persen melalui ekspor minyak sawit.
Baca Juga:
Cegah Bencana Susulan, BNPB Sebar 500 Ton Garam untuk Modifikasi Cuaca di Sumatera
Guru Besar bidang Ekonomi Pertanian USU, Diana Chalil, memaparkan bahwa sektor sawit menjadi pilihan efektif untuk memulihkan daya beli masyarakat di daerah terdampak bencana.
Ia mengambil contoh proses pemulihan ekonomi petani setelah bencana tsunami Aceh tahun 2004 dalam diskusi yang berlangsung pada Selasa (10/2/2026) tersebut.
"Manfaat lingkungan tidak lagi
trade-off
dengan manfaat ekonomi. Kita belajar pascabencana tsunami di Aceh tahun 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan. Perkebunan sawit rakyat banyak dari konversi komoditas lain," jelas Diana, Selasa (10/2/2026).
Terkait isu lingkungan, pakar menyoroti aspek ekofisiologi atau kesesuaian antara fungsi tanaman dengan kondisi fisik lahan.
Guru Besar Fakultas Pertanian USU, Abdul Rauf, menegaskan bahwa bencana banjir atau longsor tidak berkaitan langsung dengan jenis tanaman, melainkan pada tata kelola lahan yang tidak tepat.
"Yang bisa disalahkan bukan tanamannya. Tetapi ekofisiologisnya sudah sesuai atau tidak? Ketika tidak ada kesesuaian inilah, kerusakan lingkungan terjadi. Ketidaksesuaian ekofisiologis itu bisa terjadi akibat aktivitas usaha ilegal," tegas Rauf.
Rauf menambahkan bahwa pohon sawit dewasa memiliki kemampuan menyerap air hujan rata-rata 43.500 liter per hari.
Akar serabut yang rapat pada tegakan sawit juga membuat tanah menjadi gembur sehingga mampu berfungsi sebagai tandon air tanah alami.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, mengingatkan bahwa sektor perkebunan di Sumatra tetap harus mengedepankan aspek keberlanjutan.
Baca Juga:
Perkembangan Percepatan Penanganan Darurat dan Pemulihan Bencana di Sumatra
Ia meminta pelaku industri memastikan setiap komoditas tertanam pada lahan yang memiliki kesesuaian ekologis.
"Jika aspek ekofisiologis diperhatikan, perkebunan sawit di seluruh Indonesia akan berkembang di tengah ekosistem lingkungan yang berkelanjutan," ujar Kacuk.
(*Sr)
Tag:
#industri sawit
#Ekonomi Sumatra
#Universitas Sumatra Utara
#Penyerapan Tenaga Kerja
#Devisa Negara
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.