faktakalbar

Pantura Lumpuh Akibat Banjir Semarang, Pesawat Modifikasi Cuaca Dikerahkan Halau Awan Hujan

Penulis: Redaksi Sunday, 26 October 2025 📖 2 menit
Pantura Lumpuh Akibat Banjir Semarang, Pesawat Modifikasi Cuaca Dikerahkan Halau Awan Hujan
Faktakalbar.id, NASIONAL - Banjir parah yang melanda Kota Semarang , Jawa Tengah, telah melumpuhkan sebagian aktivitas kota dan jalur vital. Sejak tiga hari lalu, perekonomian di sepanjang jalur Pantura (Genuk–Kaligawe–Terboyo) seolah mati suri. Genangan setinggi 70 sentimeter membuat lalu lintas tersendat, kendaraan besar hampir tak berdaya, dan banyak toko terpaksa tutup. Baca Juga: Banjir Semarang dan Grobogan Meluas, BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Di kawasan permukiman seperti Jalan Erowati Baru I, Semarang Utara, genangan air mencapai 20–30 sentimeter pada Sabtu (25/10/2025). Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga Sabtu malam (20.48 WIB) mencatat, banjir di Kota Semarang telah berdampak pada 38.180 jiwa di 14 kelurahan. Sejumlah fasilitas vital ikut terdampak, termasuk Rumah Sakit Islam Sultan Agung, di mana BPBD harus membantu proses pemindahan sementara pasien ke lokasi yang lebih aman. Tim BPBD Kota Semarang juga mendirikan dapur umum untuk menyalurkan makanan kepada warga terdampak, petugas lapangan, hingga para pengemudi truk yang terjebak banjir di Pantura. Di tengah upaya tim satgas darat yang berpacu dengan pompa air, secercah harapan datang dari langit. Baca Juga: Hadapi Cuaca Ekstrem, BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat Sesuai perintah Kepala BNPB , Letjen TNI Suharyanto, misi Operasi Modifikasi Cuaca Jawa Tengah (OMC) resmi dimulai pada Sabtu (25/10/2025). Langkah ini diambil untuk mendukung penanganan darurat di darat. Operasi ini melibatkan tim gabungan dari BNPB, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TNI, serta BPBD Provinsi Jawa Tengah. Secara teknis, pesawat Cessna Caravan Smart Aviation (PK-SNM) dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, ditugaskan membawa bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO). Bahan-bahan ini disemai di atas awan konvektif (awan pembawa hujan) pada ketinggian 4.000 hingga 12.000 kaki. Tujuannya adalah memicu awan menurunkan hujan lebih awal di wilayah yang lebih aman, seperti laut atau hutan, sebelum awan tersebut tiba di atas Kota Semarang dan wilayah hulu sungai. Percepatan penanganan banjir di darat sangat membutuhkan cuaca cerah yang konsisten, tanpa tambahan air hujan maupun air kiriman. Baca Juga: Antisipasi Bencana, BNPB Lakukan Modifikasi Cuaca di Jabar dan Rilis Peringatan Dini di 9 Provinsi Pada hari pertama operasi, pesawat PK-SNM melakukan lima kali penerbangan (sortie) yang difokuskan untuk memutus suplai awan hujan dari selatan dan utara. Sortie 1 & 2: Menyemai total 2 ton NaCl di wilayah perairan selatan Yogyakarta–Jawa Tengah. Sortie 3: Menyemai 1 ton CaO di wilayah selatan Semarang. Sortie 4: Menyemai 1 ton NaCl di atas perairan Rembang. Sortie 5: Menyemai 1 ton NaCl kembali di perairan selatan Yogyakarta–Jawa Tengah. Penerbangan kelima menutup misi hari pertama dengan total penggunaan lima ton bahan semai. Operasi Modifikasi Cuaca Jawa Tengah ini akan dilanjutkan pada hari Minggu (26/10). Peringatan Dini BMKG Meski OMC telah digelar, BMKG menyampaikan peringatan dini yang patut diwaspadai. Radar cuaca BMKG tidak mendeteksi awan hujan lebat hingga Sabtu malam, namun potensi awan hujan dapat kembali muncul pada Minggu (26/10) dini hari di wilayah selatan Jawa Tengah. Lebih lanjut, BMKG memprakirakan bahwa pada Selasa (28/10) mendatang, potensi curah hujan diperkirakan akan kembali menguat dan bersifat sporadis (acak dan tidak merata). Peringatan ini menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah. Baca Juga: Cegah Bencana Akibat Cuaca Ekstrem, BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Jawa Barat (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK