Pascainsiden Molotov, Bupati Sujiwo Tinjau Pemulihan Lingkungan SMPN 3 Sungai Raya
Faktakalbar.id, KUBU RAYA –
Bupati
Kubu Raya
,
Sujiwo,
turun langsung memimpin kegiatan kerja bakti di lingkungan
SMP Negeri 3 Sungai Raya
, Sabtu (7/2/2026).
Baca Juga:
Teror Molotov di SMPN 3 Sungai Raya: Potret Kelam Bullying dan Infiltrasi Ideologi Ekstrem di Sekolah
Kegiatan bersih-bersih ini dilakukan bersama para guru dan petugas kebersihan sekolah sebagai upaya pemulihan suasana pasca-peristiwa mengejutkan yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Kehadiran orang nomor satu di Kubu Raya ini tidak hanya untuk memastikan kebersihan fisik sekolah, tetapi juga sebagai bentuk dukungan moral bagi tenaga pengajar dan siswa setelah insiden pelemparan bom molotov yang dilakukan oleh salah satu pelajar di sekolah tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan rasa aman dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar.
Sebagaimana diketahui, kasus pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya ini telah menjadi sorotan publik dan membuka kembali peringatan keras tentang rapuhnya pertahanan anak-anak terhadap pengaruh ekstremisme di ruang digital.
Baca Juga:
Naik Tipe C, Sujiwo Tekankan Status Baru RSUD Kubu Raya Harus Linier dengan Kualitas Layanan
Menanggapi fenomena ini, Ketua Yayasan Borneo Bela Negara sekaligus penyintas terorisme, Rony Ramadhan Putra, menilai peristiwa tersebut harus dibaca sebagai alarm serius bagi semua pihak.
Ia menegaskan bahwa insiden ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan cerminan dari pola paparan paham kekerasan yang tumbuh subur melalui jaringan komunitas daring.
“Secara jaringan, mereka saling berkaitan dan tergabung dalam komunitas tertentu,”
ujar Rony.
Rony menjelaskan bahwa ruang digital kini sering menjadi tempat utama bagi anak-anak untuk mencari identitas dan pengakuan.
Sayangnya, dalam proses pencarian jati diri tersebut, mereka kerap masuk ke dalam komunitas virtual yang tanpa disadari mengarahkan pada konsumsi konten kekerasan.
“Dari situ mereka mendapatkan pengakuan, sekaligus paparan konten yang mengarah pada tindakan ekstrem,”
tambahnya.
Kekhawatiran ini terbukti dari hasil penelusuran aparat yang menyebutkan bahwa pelaku diketahui tergabung dalam komunitas digital
True Crime Community
(TCC).
Pola ini memiliki kesamaan dengan kasus serupa yang terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta, yang menunjukkan adanya keterhubungan antarpelaku melalui ruang digital yang sama di mana narasi ekstrem dipertukarkan secara intens.
Melalui kegiatan kerja bakti yang digagas Bupati Sujiwo ini, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berharap dapat memulai langkah pemulihan, tidak hanya dari aspek lingkungan fisik sekolah, tetapi juga pengawasan yang lebih ketat terhadap aktivitas digital pelajar agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
(FR)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.