Pelajar SMP Negeri 1 Pontianak Praktikkan Pemanfaatan Eco Enzyme Saat Masa Orientasi Sekolah
Pelajar SMP Negeri 1 Pontianak mempraktikkan Pemanfaatan Eco Enzyme pada kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah guna menjernihkan selokan kota.
Faktakalbar.id - Ratusan pelajar baru SMP Negeri 1 Pontianak mempraktikkan Pemanfaatan Eco Enzyme dengan menaburkan ratusan liter cairan organik tersebut ke Parit Jalan HOS Cokroaminoto pada Jumat (17/7/2026).
Aksi pelestarian perairan kota tersebut menjadi agenda utama dari rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang mengusung tema ramah dan hijau.
Kepala SMP Negeri 1 Pontianak Kiswanti menjelaskan bahwa inisiatif kegiatan ini dirancang secara khusus untuk menanamkan kepedulian lingkungan kepada para siswa sejak dini.
"Kami tidak hanya menghadirkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, saling menghargai, dan saling memuliakan, tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. Salah satunya melalui penaburan ekoenzim," terangnya.
Kiswanti membeberkan bahwa cairan organik yang ditaburkan para siswa bukan produk instan melainkan hasil fermentasi mandiri pelajar dan dewan guru sejak Februari 2026.
Total produksi dari program pendidikan kokurikuler tersebut sukses menghasilkan 286 liter cairan dari kelompok siswa dan 100 liter tambahan dari tenaga pengajar.
Program Pemanfaatan Eco Enzyme secara berkelanjutan ini ikut memperkuat status SMP Negeri 1 Pontianak sebagai lembaga pendidikan berpredikat adiwiyata nasional yang kini menuju level mandiri.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendukung penuh integrasi edukasi lingkungan ke dalam kurikulum pembelajaran agar generasi penerus memiliki kesadaran ekologis yang tinggi.
"Kita terus mengajak para pelajar, mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA/SMK untuk bersama-sama menjaga lingkungan, baik di sekolah, lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan di sekitar mereka," katanya.
Seorang siswi kelas delapan bernama Christine Agusta Putri Irawan menyebut cairan fermentasi organik tersebut memiliki peran ampuh untuk menjernihkan selokan pekat dan membunuh kuman.
Pelajar lainnya bernama Isabel Dhani Pudiarjo juga merasa terdorong untuk mencoba membuat sendiri campuran kompos limbah kulit buah saat berada di rumah.
“Kami senang terlibat dalam aksi ini sebagai bentuk kepedulian lingkungan,” ucapnya.
Kolaborasi dunia pendidikan dan pemerintah kota ini ditargetkan mampu menciptakan budaya pelestarian alam serta kebiasaan memilah sampah organik secara menetap di kalangan remaja.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.